
Archie dan Kimmy berada di dalam mobil. Tujuannya malam ini adalah rumah ayah mertuanya, Nino. Untuk sementara mereka memang akan tinggal di rumah Nino sebelum Kai memberikan mereka rumah baru untuk dihuni.
Archie dan Kimmy tidak terlibat pembicaraan apapun. Archie sibuk dengan gadgetnya. Ia berusaha untuk menghubungi Flowi. Akan tetapi, nomor gadis itu tidak aktif. Sedangkan Kimmy, ia memperhatikan jalanan dengan tatapan dinginnya.
"Kalian berdua ngobrol dong!" Nino yang tengah menyetir berkata sambil tersenyum. Ia seolah begitu bergembira dengan pernikahan putranya. Ia memang sejak lama ingin menjodohkan Archie dengan putri sahabatnya.
"Kim?" Archie memanggil istrinya. Kimmy hanya diam dan tak menjawab.
"Kim? Tidak panggil sayang? Kalian kan sudah sah menjadi suami istri. Cari panggilan yang romantis dong!" Goda Nino lagi yang sukses membuat putranya kesal.
"Papa!!" Archie merengut.
"Apa? Kan biar lebih manis," Nino membalas kekesalan ayahnya dengan candaan.
"Kim?" Panggil Archie lagi, ia menghiraukan godaan ayahnya. Lagi-lagi Kimmy tidak menjawab. Ia terlalu tenggelam dengan lamunannya.
"Kimmy, suamimu memanggil!" Nino tersenyum. Ia melirik ke kaca spion tengah untuk melihat menantunya yang sedang menatap pemandangan luar.
"Hmmm?" Kimmy hanya berdehem. Matanya terus menelisik pemandangan di luar sana yang menyejukan mata dan hatinya.
"Kakimu menginjak kakiku!" Archie bersuara. Kimmy pun refleks menoleh ke arah heelsnya yang tengah menginjak kaki suaminya.
"Maaf!" Hanya kata itu yang Kimmy ucapkan. Ia pun memusatkan perhatiannya kembali ke kaca. Mereka pun diam seribu bahasa kembali. Hanya Nino yang bersenandung mengikuti lagu di tape mobil.
Sesampainya di pelataran rumah Nino, sepasang pengantin itu turun dari mobil. Dengan santai, Kimmy berjalan ke arah rumah ayahnya yang tepat bersebelahan dengan rumah Nino.
"Kim? Kau mau ke mana?" Panggil Nino saat melihat menantunya hendak pergi meninggalkan kediamannya.
"Aku mau pulang, Paman!" Kimmy berkata dengan raut wajah datar. Gaun pengantin masih sempurna melekat di tubuhnya yang ramping.
"Pulang? Sekarang rumahmu adalah ini. Kau tidak boleh pulang ke rumah ayahmu lagi. Dan satu lagi, panggil paman Papa! Sekarang kau adalah putriku," perintah Nino.
"Tidak bisakah malam ini aku tidur di rumah papa? Lagi pula semua barangku masih ada di sana," Kimmy tampak mencari alasan untuk tidak tidur di rumah Nino.
"Tidak usah. Papa sudah menyuruh asisten rumah tangga ayahmu untuk memindahkan barang-barangmu."
__ADS_1
Kimmy pun bungkam karena tidak ada lagi alasan untuk pergi dari rumah Nino.
"Sayang, ayo masuklah! Kau pasti lelah kan? Lebih baik masuk dan beristirahatlah!" Tifanny mendatangi Kimmy dan menggandeng tangannya untuk masuk ke dalam rumah.
Kimmy pun menatap kediaman Kai yang masih gelap gulita yang menandakan sang ayah dan ibunya belum sampai ke rumah. Ke mana ayahnya pergi? Kimmy pun bertanya-tanya di dalam hati. Kimmy berjalan masuk ke dalam rumah kediaman Nino. Sementara Archie hanya mengekor di belakang. Kimmy di tuntun oleh Tifanny menuju kamar Archie. Saat pintu terbuka, Kimmy langsung terkejut karena semua barangnya sudah ada di dalam kamar Archie dan tertata rapi. Sedangkan raut wajah Archie tampak kebingungan.
"Foto Flowi mana, Ma?" Archie mencari bingkai foto Flowi. Ia memang memasang foto wanita yang di cintainya itu di dalam kamar.
Nino pun menyikut lengan putranya dengan keras. Ia merasa tidak enak dengan Kimmy.
"Maaf ya, Kim!" Tifanny jadi tidak enak hati.
"Tidak apa-apa. Lagi pula aku juga tidak ingin ada fotoku di kamar berantakan ini," Kimmy berkata dengan dingin.
"Berantakan bagaimana? Ini sudah rapi. Aku yang merapikannya," Archie tampak tidak terima dengan perkataan Kimmy.
"Papa menyuruh asisten rumah kita untuk menyingkirkan foto wanita itu. Bukankah sekarang dia hanya mantan kekasihmu?" Nino menyeringai.
"Lebih baik isi kamar kalian dengan foto pernikahan," Tifanny memberikan saran.
Kimmy tidak menjawab. Ia segera terduduk di sofa yang ada di samping tempat tidur milik suaminya.
"Anak ini sangat arogan. Persis seperti ayahnya. Ya, harusnya aku bisa menebak, dia dibesarkan oleh Om William," Nino menatap Kimmy.
"Nanti paman panggilkan asisten rumah tangga kita ya. Namanya Bibi Ella," Nino tersenyum semanis mungkin.
"Sekalian aku ingij cokelat panas ya, Paman!" Pinta Kimmy lagi tanpa malu-malu.
"Papa!" Ralat Nino.
"Aku juga ingin air hangat ya!" Pinta Kimmy lagi.
Tifanny yang mendengar hanya tersenyum kecil. Ia begitu memaklumi sifat Kimmy karena ia dibesarkan oleh kakeknya, William. William memang seorang pengusaha yang arogan. Ia membesarkan Kai maupun Kimmy dengan caranya sendiri. Walaupun terkesan arogan, akan tetapi William memiliki sisi hati yang lembut dan hangat.
"Kalau begitu papa dan mama ke bawah dulu. Kalian ngobrol berdua ya?" Nino berpamitan yang hanya dibalas anggukan oleh Archie dan Kimmy.
__ADS_1
Archie melepas tuxedo miliknya dan berganti baju di kamar mandi. Sedangkan Kimmy masih terduduk dengan memakai gaun pengantin.
"Heh, kamu!" Kimmy memandang Archie dengan raut wajah datarnya.
"Apa, Kim?" Jawab Archie yang baru keluar dari kamar mandi.
Kimmy berdiri dari duduknya dan menghampiri Archie. Ia menatap intens wajah suami tampannya itu. Mendapat tatapan seperti itu dari Kimmy, Archie langsung salah tingkah.
"Ada apa?" Archie bertanya sekali lagi.
"Tolong buka sleting gaunku!" Kimmy memunggungi Archie.
Pipi Archie terasa panas. Ia menjadi begitu gugup. Walaupun memiliki kekasih, akan tetapi Archie belum pernah melakukan hubungan di luar batas karena sang ibu selalu mewanti-wantinya agar melakukan hal itu sesudah menikah.
"Tidak bisakah kau buka sendiri?" Pipi Archie semakin bersemu merah.
"Kalau tanganku panjang, aku tidak mungkin meminta bantuanmu," cebik Kimmy dengan kesal.
"Cepatlah! Aku ingin segera beristirahat!" Kimmy tidak sabar.
"Baiklah," Archie mengalah. Jantungnya berdegup kencang. Tangannya menyentuh sleting gaun Kimmy dan menurunkannya sedikit demi sedikit.
Akan tetapi, belum sleting itu full terbuka, Nino dan istrinya masuk ke dalam kamar tanpa permisi.
"Maaf!" Tifanny tidak enak melihat pemandangan di depan matanya.
"Duh papa senang kalau begini. Ternyata kalian sat sit set juga ya," Nino tertawa gembira.
"Ini tidak seperti yang kalian lihat," wajah Archie bak kepiting rebus. Pipinya sudah semerah tomat. Sedangkan Kimmy hanya menatap dengan dingin.
"Papa ke sini karena ingin memberi tahu Kimmy bahwa Bi Ella akan segera naik dan memijat kakinya," Nino memberi tahu alasan kedatangannya.
"Sepertinya aku ingin segera tidur saja, Paman, maksudku Papa," Kimmy mulai membiasakan memanggil Nino dengan papa. Karena faktanya Archie memang kini adalah suaminya.
"Wah Kimmy tidak sabar ya? Papa mendukung. Semakin cepat semakin baik. Papa ingin segera memiliki cucu," Nino semakin kegirangan.
__ADS_1
"Kimmy, nikmati malam ini ya!" Tifanny menarik tangan suaminya.
"Lakukan semalaman ya biar cepat jadi!" Nino melambaikan tangan dan menutup pintu.