Menikah Dengan Nona Kim

Menikah Dengan Nona Kim
Pulang Dari Rumah Sakit


__ADS_3

Kimmy sudah diperbolehkan pulang dari Rumah Sakit. Semua keluarga tampak menjemputnya dari rumah sakit. Archie terus setia mendorong kursi roda istrinya.


"Aku bisa jalan sendiri," begitulah penolakan Kimmy ketika dirinya dipaksa duduk di kursi roda itu.


"Pa, aku ingin menginap di rumah papa dan mama," Kimmy menatap ayahnya sebelum masuk ke dalam mobil suaminya.


"Sayang, sekarang dirimu adalah tanggung jawab dari suamimu. Mintalah izin padanya!" Kai memberikan nasehat.


"Iya, sayang. Mama sangat ingin kau menginap di rumah kami, tapi mintalah izin terlebuh dahulu pada Archie," Alula mendukung.


"Ar?" Kimmy mendongak menatap suaminya yang sedang berdiri di belakang kursi roda yang diduduki olehnya.


"Tentu saja boleh. Lagi pula selama menikah, kita belum pernah menginap di rumah Mama dan Papa," Archie mengizinkan.


"Terima kasih, Ar!" Kimmy tersenyum senang.


"Tapi Archie juga harus ikut menginap di sana. Benar kan, Pa?" Tifanny menyahuti.


"Tentu saja. Seorang istri tidak bisa berjauhan dengan suaminya," Nino mendukung.


"Tentu saja aku akan menemani Kimmy. Kalian tidak perlu khawatir! Ke mana pun Kimmy pergi, aku harus ikut," jawab Archie dengan lugas. Tentu jawaban itu membuat semua yang mendengar senang. Mereka kira sudah ada peningkatan dalam hubungan rumah tangga Kimmy dan Archie.


"Ayo kita pulang!" Tanpa aba-aba Archie langsung mengangkat tubuh Kimmy ke dalam mobil. Jantung mereka sama-sama berdegup kencang. Mereka merasakan sesuatu yang lain di hati masing-masing. Mungkinkah cinta sudah bersemayam di hati masing-masing? Apakah karena kebersamaan yang mereka lalui menjadi pupuk agar cinta itu tumbuh di hati Kimmy dan Archie?


Setelah mengangkat istrinya, Archie melipat kursi roda dan menyimpannya di bagasi. Saat Archie hendak masuk ke bagian pengemudi, Alden langsung menahan tubuhnya.


"Ada apa, Paman?" Tanya Archie kepada sahabat ayahnya itu.


"Ar, kesucian Kimmy hampir saja diambil oleh Galvin," Alden berkata dengan pelan. Kai dan Nino yang penasaran pun mendekat ke arah mereka.


"Iya, syukurnya itu tidak terjadi," Archie menjawab dengan serius.

__ADS_1


Sementara Alula, Tifanny dan Bianca hanya melihat mereka dengan raut wajah penasaran. Kimmy yang sudah di dalam mobil pun tampak sedang mengecek ponselnya. Ia ingin tahu siapa yang menghandle klinik psikologi miliknya.


"Ar, paman hanya mengingatkanmu. Kimmy sudah menjadi milikmu penuh. Kau berhak untuk itu," Alden bicara blak-blakan. Nino dan Kai pun kompak mengangguk setuju.


Archie tampak mengerti ke mana arah pembicaraan Alden. Archie pun mengangguk.


"Jangan sampai hal seperti ini terulang kembali! Bagaimana jika Galvin berhasil? Pasti kau akan menyesal seumur hidup!" Tambah Nino yang menakut-nakuti putranya.


"Pikirkan baik-baik! Papa sudah ingin memiliki cucu dari Kimmy!" Kai menyahuti.


"Baiklah Archie mengerti," Archie mengangguk. Archie pun masuk ke dalam mobilnya.


****


Archie dan Kimmy tiba di rumah Kai. Rumah Kai memang berada tepat di sebelah rumah Nino. Archie dan Kimmy langsung masuk ke dalam kamar yang ditempati oleh Kimmy saat Kimmy belum menikah.


"Kamarmu sangat esthetic," Archie memperhatikan setiap sudut kamar yang Kimmy tempati sebelum dinikahi olehnya. Kini ia tengah menggendong istrinya.


Archie langsung menurunkan Kimmy di atas tempat tidurnya. Dengan cekatan, pria itu melepaskan alas kaki di kaki istrinya.


"Aku bisa membuka sepatuku sendiri!" Kimmy tertawa melihat sikap posesif suaminya.


"Tidak apa-apa. Itu semua sudah tugasku," Archie tersenyum simpul.


Archie lalu ikut naik ke atas kasur dan terduduk di depan istrinya.


"Apa ini masih sakit?" Dengan lembut Archie menyentuh ujung bibir Kimmy dengan jarinya. Archie masih bisa melihat bekas luka di sudut bibir istrinya karena tamparan dari Galvin.


"Sudah tidak. Sebentar lagi bekasnya pun akan menghilang. Jangan khawatir!" Kimmy tersenyum menenangkan.


"Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu!" Lagi-lagi Archie meminta maaf atas kelalaiannya.

__ADS_1


"Kau sudah berapa kali minta maaf?" Kimmy tertawa.


"Aku hanya merasa sangat berdosa," Archie berkata dengan sedih.


"Yang harus merasa berdosa adalah pria itu dan keluarganya," Kimmy menenangkan.


"Aku suami yang gagal menjaga istrinya!" Lagi-lagi Archie berkata dengan sendu.


"Tidak. Galvin tidak berhasil menyentuhku," Kimmy berkata dengan lega.


"Aku akan lebih keras menjagamu!" Ucap Archie lagi seraya menatap sorot mata Kimmy yang seakan menghipnotisnya.


"Terima kasih," Kimmy tersenyum. Ia pun menatap lekat mata suaminya.


"Aku tidak akan lengah lagi," Archie meyakinkan.


Kepala Archie perlahan maju mendekat ke arah Kimmy. Kimmy pun merasa sangat canggung. Jantungnya berdetak tak karuan. Tapi Kimmy abaikan perasaannya. Ia menatap mata Archie kini terpejam. Bak terhipnotis, Kimmy pun ikut memejamkan matanya. Ia menunggu dengan berdebar-debar. Hidung mereka kini sudah bersentuhan.


"Kimmy, Archie?" Panggil Kai dan Alula yang tiba-tiba sudah ada di hadapan kamar Kimmy yang pintunya terbuka.


Kimmy dan Archie pun membuka matanya lagi. Mereka terlihat terkejut dan langsung beringsut menjauh satu sama lain.


"Ya ampun, maaf!" Alula menutup bibirnya.


"Maaf kita mengganggu!" Kai hanya tersenyum dengan bingung.


"Ya sudah kami pergi lagi. Lanjutkan saja!" Alula langsung menarik tangan suaminya untuk menjauh dari kamar putrinya.


Rona merah kini sudah terlihat di pipi Archie dan Kimmy. Mereka kini merasa salah tingkah dan tidak berani menatap satu sama lain.


"Ya ampun memalukan!" Umpatnya dalam hati masing-masing.

__ADS_1


"Padahal sedikit lagi!" Sesal Archie.


__ADS_2