Menikah Dengan Nona Kim

Menikah Dengan Nona Kim
Meminta Penjelasan


__ADS_3

Flashback On...


"Tidak, Mom. Aku tidak akan merebut hati kedua orang tuanya. Akan tetapi, aku akan membuat Archie balik membelaku dan mengabaikan kedua orang tuanya," Flowi tersenyum licik.


"Memangnya apa yang bisa kau lakukan?" Fiona tampak masih kesal karena Flowi sudah kurang ajar kepada Nino.


"Kita harus meruntuhkan kepercayaan Archie kepada kedua orang tuanya," Flowi duduk di sofa dan menyilangkan kakinya.


"Maksudmu?" Fiona tampak tidak mengerti.


"Kita buat hubungan Archie dan kedua orang tuanya merenggang. Pers*tan dengan restu mereka! Aku tidak membutuhkannya," Flowi meneguk air di dalam gelas hingga tandas. Tangannya kemudian mengayun-ngayunkan gelas itu.


"Itu mustahil! Archie adalah seorang anak yang penurut. Buang ide b*dohmu itu!" Fiona langsung menolak mentah-mentah ide dari Flowi.


"Kau lupa, Mom! Aku adalah wanita yang dia cintai. Aku akan perlahan-lahan membuat hubungan mereka memburuk. Aku tidak akan pernah mampu mengantongi restu mereka seberapa keras aku mencoba. Jadi, lebih baik gunakan cara yang lain!" Flowi menyimpan gelas yang sudah kosong di atas meja.


"Kau benar. Kau memang tidak akan pernah mendapatkan restu dari mereka. Baiklah, mommy setuju. Apa yang bisa kau lakukan?" Fiona tampak tidak sabar mengetahui rencana yang ada di otak putrinya.


"Kemarilah, Mom!" Flowi menggerakan jarinya sebagai isyarat agar Fiona mendekat.


"Kau yakin?" Tanya Fiona saat Flowi sudah membocorkan rencana busuknya itu.


"Tenang saja! Aku akan bermain serapi mungkin. Aku hanya perlu bantuan Mommy agar aktingku semakin natural," Flowi tersenyum licik.


"Mommy akan selalu di belakangmu," Fiona mendukung.


"Baiklah. Aku akan menelfon orang-orang untuk menghancurkan isi rumah kita," Flowi mengambil ponselnya dan menelfon beberapa pria untuk mengacak-acak kediamannya.


***


Flashback Off...

__ADS_1


Archie langsung berpamitan kepada Flowi dan juga Fiona. Ia harus segera meminta penjelasan mengapa ayahnya melakukan hal buruk seperti itu. Archie mengemudikan mobilnya di atas kecepatan rata-rata, tidak sabar untuk mendapatkan penjelasan langsung dari bibir Nino. Kini pria itu sudah sampai di kantor perusahaan milik ayahnya. Archie berjalan cepat melewati beberapa orang yang memberi hormat padanya. Archie menghiraukannya dan segera masuk ke dalam lift untuk sampai di ruangan pribadi Nino.


"Ar?" Panggil Nino ketika Archie langsung masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu.


"Pa!" Archie berdiri di hadapan ayahnya dengan raut wajah marah dan kecewa.


"Ada apa? Tumben sekali kamu ke sini! Apa kau sudah merawat istrimu? Nino menperhatikan beberapa dokumen yang ada di atas meja.


"Mengapa, Pa? Mengapa papa melakukan hal buruk kepada Flowi dan juga ibunya?" Mata Archie memanas.


"Melakukan hal buruk? Seperti?" Nino menaikan alisnya.


"Papa tidak usah berpura-pura. Bukankah papa datang ke rumah mereka dan menebar teror?" Archie tampak terlihat emosi.


"Menebar teror?" Nino tertawa.


"Apa seperti ini adabmu kepada papa?" Nino tersenyum sinis saat Archie masih mematung di tempatnya berdiri.


"Papa tidak akan menjawab pertanyaan dari orang yang tidak memiliki sopan santun," Nino menanda tangani beberapa dokumen persetujuan.


Archie mengalah. Ia terduduk di hadapan ayahnya. Archie mengusap wajahnya kasar. Ia harus berbicara dari hati ke hati agar Nino mengerti.


"Mengapa papa memporak porandakan rumah Flowi dan mamanya? Pa, mereka hidup hanya berdua. Jangan mengusiknya! Bukankah aku sudah menuruti segala kemauan papa dengan menikahi Kimmy? Bukankah itu yang papa inginkan?" Archie mengeluarkan uneg-unegnya.


"Memporak porandakan?" Nino mengernyitkan dahinya. Ia hafal betul bahwa Flowi dan ibunya sedang membuat sebuah skenario.


"Iya. Aku melihat rumah mereka seakan terkena tornado. Papa tidak bisa mengelak," Archie tak patah arang agar membuat Nino mengakui semua perbuatannya.


"Jika papa tidak melakukannya. Apakah kau percaya?" Nino menyimpan pulpen yang ia pakai untuk menandatangani berkas. Kemudian pria bermata biru itu menyenderkan tubuhnya di kursi. Nino tampak menikmati raut wajah marah putranya.


"Aku tidak ingin percaya bahwa papaku sendiri melakukan hal kejam kepada dua wanita lemah dan tak berdaya. Tapi Flowi menunjukan bukti. Aku yakin papa tidak lupa dengan ini," Archie mengeluarkan jam tangan milik Nino yang tertinggal di rumah Flowi.

__ADS_1


"Tentu saja papa tidak lupa. Papa kan tidak hilang ingatan. Untuk apa kau memperlihatkan jam tangan papa?" Nino berkata dengan santai.


"Ini Flowi yang memberikannya padaku. Jam tangan milik papa jatuh saat papa dan para bodyguard papa menghancurkan rumah milik kekasihku," Archie menyimpan jam tangan itu di meja kerja Nino.


"Oh begitu. Dia bilang apa lagi? Papa memang datang ke rumahnya, tapi tidak melakukan apapun. Hanya memperingatkannya saja untuk mengambil jarak dengan seorang pria beristri. Apakah itu salah?" Nino menatap Archie dengan senyuman kecil di wajahnya.


"Flowi bilang papa mengambil semua barang yang telah aku berikan padanya. Pa, itu adalah hadiah-hadiah dariku untuk Flowi. Mengapa papa mengambilnya?" Archie terus berbicara tanpa jeda.


"Oh begitu," Nino mengangguk-ngangguk.


"Jadi, kau tidak percaya dengan pria yang sudah membesarkanmu ini? Apakah IQ di atas rata-ratamu itu sudah berkurang? Apa sekarang IQ mu sudah minus?" Nino tertawa.


"Maaf, Pa! Aku lebih mempercayai Flowi saat ini. Mana mungkin dia berdusta, Pa. Aku melihat tante Fiona juga terpukul dengan apa yang papa perbuat."


"Baiklah jika kau lebih mempercayai mereka. Lagi pula tidak rugi untuk papa kau lebih mempercayai mereka," Nino tersenyum mengejek.


"Jangan mengejekku, Pa! Lihatlah nanti! Setelah aku menuntaskan janjiku kepada papa Kai, aku akan meninggalkan menantu kesayanganmu itu," Archie mengancam.


"Janji?" Nino yang tidak tahu menahu mengenai janji itu tampak penasaran.


"Oh, aku lupa untuk mengatakannya. Aku memang memiliki janji dengan papa Kai. Papa Kai memberikan aku kesempatan untuk keluar dari pernikahan palsu ini. Aku hanya harus membantu menyembuhkan trauma yang dialami oleh Kimmy. Setelah aku menyembuhkan trauma Kimmy, aku akan mengajukan pembatalan pernikahan. Dan setelah itu, aku akan meraih kebahagiaanku bersama Flowi dengan atau tanpa restu papa," emosi Archie tampak meluap-luap. Ini pertama kalinya Archie begitu keras terhadap ayahnya sendiri.


"Kejarlah! Nanti papa sediakan tim Cheers untuk menyemangatimu," Nino berkata dengan enteng. Dia tersenyum memamerkan deretan gigi-giginya yang rapi.


"Kalau begitu, aku rasa pembicaraan kita sudah selesai. Aku pamit undur diri di hadapan papa. Semoga papa bisa merenungi semua kesalahan papa," Archie berdiri dari duduknya.


"Pergilah! Aku malas mendengarkan ocehan bocah ingusan dan b*doh sepertimu!" Nino menggerak-gerakan tangannya mengusir putra sulungnya itu.


"Kai, sebenarnya apa yang sudah kau janjikan!" Nino bergumam. Ia merasa kecolongan karena tidak tahu perjanjian apa yang Kai buat dengan putranya.


"Aku harus segera menemui Kai dan meminta penjelasan darinya," Nino berdiri dari duduknya.

__ADS_1


__ADS_2