
"Kau?" Ucap Kimmy saat melihat Flowi masuk dengan senyum sinisnya.
Flowi masuk ke dalam ruangan pemeriksaan. Ia duduk di hadapan Kimmy dengan senyum yang begitu anggun namun terlihat begitu mematikan.
"Hallo, Nona Flowi!" Kimmy membaca data diri Flowi dari kertas yang baru disimpan oleh asisten di meja miliknya. Kimmy terlihat tidak terpengaruh. Ia harus bersikap seprofesional mungkin.
"Hallo!" Flowi membalas sapaan Kimmy.
"Jadi, apa yang membawa anda datang ke klinikku, Nona Flowi?" Kimmy menatap serius wajah pasiennya itu.
"Aku datang karena ingin berkonsultasi padamu. Aku yakin kau bisa memecahkan masalahku," Flowi menatap tajam ke arah istri dari pria yang ia cintai.
"Begitukah?" Kimmy tersenyum manis.
"Jadi, apa yang kau alami?" Kimmy mulai bertanya ke pertanyaan inti.
"Aku mengalami depresi berat. Hal itu karena sebuah pernikahan seseorang. Semua bermula ketika kekasihku dipaksa untuk menikahi seorang wanita antah berantah yang dia sendiri pun tidak kenal," Flowi berkata dengan ketus.
"Oh begitu. Lalu? Apa gejala yang anda rasakan? Apa anda kehilangan motivasi untuk hidup?" Kimmy mulai mengetik keluhan-keluhan Flowi di layar komputer.
"Ya, tentu saja. Aku sangat mencintai kekasihku. Dia selalu memanjakanku, termasuk memberi segala yang aku berikan. Dia tidak segan memberikanku uang dan barang-barang mewah. Tapi dengan tidak tahu malunya, seorang pria memaksa kekasihku untuk menikahi putrinya. Bukankah itu kurang ajar? Mengetahui kekasihku sudah menikah, aku mengalami depresi hingga sulit tidur dan juga sulit makan," mata Flowi memanas dan memerah. Ia kini sedang bersandiwara di hadapan Kimmy.
"Sulit tidur? Sulit makan? Aku lihat sekarang kau baik-baik saja. Tidak ada lingkar hitam di matamu, juga tidak ada tanda-tanda kau terlihat kekurangan asupan makanan dan minuman. Bahkan kau terlihat sangat bugar," Kimmy santai menjelaskan.
"Begitukah? Kau seorang psikolog, bukan seorang dokter!" Flowi menatap Kimmy dengan tatapan mengintimidasi.
__ADS_1
"Nona Flowi, aku memang bukanlah seorang dokter. Tapi tentu orang awam pun tahu bagaimana ciri orang yang kekurangan makan dan tidur. Anda pun tahu bukan? Anda terlihat sangat baik dan bugar. Tapi, aku tidak mengesampingkan masalah yang kau hadapi. Mari kita kembali ke sesi interview!" Kimmy tersenyum. Ia selalu ingin membuat pasien yang datang kepadanya nyaman dan juga tenang.
"Terserah anda mau mengatakan apa. Yang jelas aku selalu perlu pil tidur jika ingin terlelap. Aku sangat tersiksa berpisah dengan kekasihku," Flowi menitikan air matanya. Ia ingin Kimmy tersentuh dan kasihan padanya. Lalu bersedia untuk meninggalkan Archie.
"Lalu, apa pria yang anda cintai juga turut tersiksa berpisah dengan anda?" Jari-jari Kimmy dengan lihai mengetik kembali pada keyboard.
"Aku yakin iya. Dia sangat mencintaiku. Dia tidak akan pernah mencintai istrinya. Dia tidak sebanding denganku. Aku harus bagaimana untuk menyembuhkan trauma ku ini? Tanganku selalu gemetaran dan berkeringat. Aku juga mulai berhalusinasi untuk menikah dengan kekasihku," Flowi memegangi tangannya.
"Ada satu cara untuk melupakan seseorang, yaitu dengan menemukan orang yang baru. Apa anda sudah melakukannya? Aku yakin, Nona Flowi bukanlah gadis yang tidak laku," Kimmy tersenyum sarkistik.
"Kau menghinaku?" Mata Flowi membola.
"Oh tentu tidak. Tidak sama sekali. Maksudku adalah, anda adalah orang yang cantik, dan aku lihat di data diri anda, anda memiliki karier yang cemerlang. Saat ini anda bekerja di stasiun televisi paling populer di negara ini. Mengapa anda tidak mencoba mencari pengganti kekasih anda untuk mengisi kekosongan hati, dari pada harus depresi karena memikirkan kekasih anda yang sudah menikah?" Kimmy berbicara sambil membaca data-data Flowi.
"Aku datang ke sini bukan untuk dihina. Aku hanya ingin jalan keluar atas masalahku, bukan di suruh mencari pengganti olehmu!" Flowi menunjuk Kimmy dengan tangannya.
"Maka dari itu aku datang ke sini. Aku ingin kau memberikanku saran mengenai apa yang harus aku lakukan," Flowi mengepalkan tangannya.
"Nona, aku memang tidak bisa menganggap remeh masalahmu. Tapi, sadarkah kau, Nona? Kau memperumit hidupmu sendiri. Aku tahu, anda masih cinta dengan kekasihmu. Tapi, apa karena perasaan cinta itu, anda harus menghancurkan sebuah rumah tangga orang lain?" Sindir Kimmy.
"Aku akan menghancurkannya! Aku berencana untuk menghancurkan rumah tangga si*lan itu sampai berkeping-keping! Dan aku pastikan kepingan itu tidak akan kembali utuh lagi," Flowi tersenyum dengan menyeringai.
"Begitu," Kimmy mengangguk-nganguk.
"Lalu, jika kau sudah tahu apa yang akan kau lakukan, lalu mengapa kau datang ke klinik ini dan memintaku untuk memecahkan masalahmu?" Kimmy balik bertanya.
__ADS_1
"Hey, aku datang ke sini tidak gratis. Aku membayarmu!" Flowi menunjuk Kimmy. Asisten Kimmy yang sedari tadi berdiri di dekat Kimmy hanya memandang dengan bingung. Akan tetapi, ia bersikap tenang, karena Kimmy tahu apa yang harus dia lakukan.
"Apa kau membayarku dengan uang mantan kekasihmu itu?" Kimmy tersenyum.
"Jangan kurang ajar!" Flowi menautkan alisnya dengan geram.
"Mengapa anda terlihat emosi, Nona? Bukankah tadi anda yang bilang, jika kekasih anda tidak segan memberikan uang?" Kimmy seakan terus menikmati raut wajah Flowi yang penuh amarah.
"Jangan pernah menghinaku! Uangku sudah sangat berlebih dengan bekerja sebagai reporter terkenal dan saat itu aku digandrungi semua masyarakat termasuk para pria," Flowi semakin geram.
"Jika uangmu berlebih, mengapa anda menerima uang yang diberikan pria beristri? Lalu, jika anda digandrungi oleh banyak pria, mengapa anda tidak mencari pria yang lebih segalanya dari mantan kekasih anda yang sudah jelas-jelas memiliki istri?"
"Diam kau psikolog gadungan!" Flowi berdiri dari duduknya. Ia menggebrak meja Kimmy. Asisten Kimmy berusaha menenangkan Flowi, tapi Flowi mengibaskan tangannya.
"Nona, apa salahku? Aku sedang melakukan sesi interview agar aku bisa menentukan jenis terapi terbaik sebagai upaya pemecahan masalahmu," Kimmy berkata dengan raut wajah tanpa dosanya.
"Diam kau wanita tidak tahu diri!" Flowi terus menatap nyalang ke arah Kimmy.
"Kau tahu? Mungkin saat ini aku sedang mengandung anak dari mantan kekasihku. Aku dan dia sangat sering melakukannya," Flowi menatap wajah Kimmy. Ia menunggu reaksi dari wanita itu. Akan tetapi nihil. Kimmy tidak menunjukan raut wajah apapun.
"Aku dan mantan kekasihku sering melakukannya, bahkan setiap saat. Bahkan dia sangat tergila-gila dengan tubuhku," Flowi tersenyum. Mencoba untuk memanas-manasi Kimmy.
"Wah, kalau begitu anda harus lebih berhati-hati, Nona!" Kimmy memberikan respon.
"Mengapa? Mengapa aku harus berhati-hati?" Flowi merasa Kimmy sudah masuk ke dalam jebakannya.
__ADS_1
"Iya, anda harus berhati-hati, karena mungkin hal itu bisa merusak citra dan juga pekerjaan anda. Bayangkan saja! Jika semua di negeri ini tahu seorang reporter cantik dan sukses itu tengah mengandung anak dari pria beristri, tentu itu akan jadi skandal dan affair besar. Aku bisa membayangkan bagaimana kariermu akan hancur," Kimmy menanggapi dengan santai.
Flowi tidak menjawab. Ia menggerutukan giginya sebagai tanda Flowi benar-benar dikuasai oleh amarah. Ia pun segera pergi dari hadapan Kimmy dan membanting pintu dengan sangat keras.