Menikah Dengan Nona Kim

Menikah Dengan Nona Kim
Fitnah


__ADS_3

"Makanlah!" Archie menyendok sup dan mendekatkan sendok itu ke bibir istrinya.


"Aku bisa sendiri," Kimmy menggelengkan kepalanya. Menolak untuk disuapi suaminya.


"Jangan keras kepala! Aku tahu kau belum makan," tangan Archie masih melayang dengan sembari memegang sendok.


"Tidak perlu. Selera makanku sudah hilang," Kimmy mengalihkan wajahnya ke arah lain. Akan tetapi, perutnya tidak bisa diajak kompromi. Terdengar suara keroncongan dari perut datar itu.


Archie hanya tersenyum mendengar suara lapar yang berasal dari perut Kimmy.


"Mau sampai kapan kau berpura-pura tidak lapar?" Archie masih tersenyum.


"Siapa bilang aku lapar?" Kimmy masih bersikeras.


"Kau ini memang keras kepala!" Archie menghembuskan nafasnya kasar. Akan tetapi, ia tidak menyerah. Baginya Kimmy adalah tanggung jawabnya.


"Ayolah! Aku harus berangkat bekerja. Aku sudah kesiangan," Archie melirik jam dinding yang ada di dalam kamar.


"Buka mulutmu! Kapalnya akan lewat!" Archie seperti akan menyuapi anak kecil.


Dengan kikuk, Kimmy pun membuka mulutnya. Ia tidak perlu berpura-pura lagi karena dirinya kini benar-benar sangat lapar. Setelah sup habis, Archie menyendok pie bawang dan menyuapi Kimmy lagi.


"Apa makanannya enak?" Archie menghancurkan keheningan di antara mereka berdua.


"Tidak enak. Aku rindu masakan buatan Grandpa," Kimmy melihat ke arah lain.


"Benarkah tidak enak?" Archie tersenyum kecil. Entah mengapa, wajah gengsi Kimmy begitu menarik di depan matanya. Pipi merah, wajah yang malu-malu. Mata yang tajam akan tetapi menyimpan keteduhan. Ah, Kimmy memang menarik dan juga cantik.


"Tentu saja. Rasa Pie Bawangnya benar-benar aneh! Sup dagingnya pun kurang matang," Kimmy menggerutu dengan bibir yang masih dipenuhi oleh makanan. Archie terbuyar dari lamunannha. Ia semakin gemas melihat bibir Kimmy penuh dengan makanan.


"Tidak enak kenapa bisa habis?" Archie memperlihatkan piring yang sudah bersih.


"Itu tentu karena aku sangat lapar. Dari pada kepalaku pusing, lebih baik aku makan makanan tidak enak itu," Kimmy masih menyangkal. Archie tersenyum dan mengalah. Berusaha untuk tidak lagi mendebat istri keras kepalanya itu.


"Minumlah!" Archie membantu Kimmy untuk minum. Kimmy meminum cepat air di dalam gelas yang disodorkan oleh suaminya.


"Pelan-pelan!"


Kimmy terbatuk-batuk karena ia minum dengan terburu-buru.


"Apakah sakit?" Archie langsung menepuk-nepuk punggung Kimmy dengan lembut.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa," Kimmy sudah berhenti batuk.


Archie mengambil nampan yang sudah kosong dengan makanan, lalu pergi dari kamar untuk menyimpan nampan itu di dapur.


"Makanan tadi enak sekali! Mengingatkanku dengan masakan Grandfa," Kimmy tersenyum dan membayangkan kakeknya, William.


Saat mereka tinggal bersama, kakeknya selalu memasak untuk Kimmy. William benar-benar sangat menyayangi cucunya itu. Ia bahkan selalu menyempatkan waktunya untuk mengajarkan Kimmy berbagai hal. Hingga tidak terasa, sifat-sifat William menurun kepada cucunya. Sifat angkuh, keras kepala dan kerja keras William tak sengaja ia turunkan kepada Kimmy. Kimmy tersenyum ketika ia mengingat semua kenangan bersama kakek tercintanya itu. Hingga suara pintu terbuka membuyarkan lamunannya.


"Aku kira kau akan berangkat bekerja," senyum di wajah Kimmy menyurut saat ia melihat Archie masuk lagi ke dalam kamar.


"Aku tidak akan berangkat bekerja. Sepertinya kau akan membutuhkan bantuan," Archie melepas dasinya dengan asal.


"Berangkat saja! Aku malah tidak nyaman kau ada di sini," Kimmy menatap Archie dengan tajam.


"Tidak nyaman? Aku bahkan tidak melakukan apapun," Archie tampak tidak mengerti.


"Keberadaanmu di dekatku selalu tidak membuat aku nyaman. Apa kau tidak menyadarinya?" Kimmy berkata dengan sorot mata yang dingin.


"Ah, aku tahu. Kau pasti deg-degan bila di dekatku kan?" Archie menyimpulkan.


"Deg-degan?" Kimmy mengulang perkataan Archie.


"Jangan mengada-ada!" Kimmy berkata dengan ketus.


"Apa kakimu masih sakit?" Archie memperhatikan kaki Kimmy.


"Sedikit pegal," Kimmy menggerak-gerakan kakinya yang terasa pegal dan sedikit nyeri.


"Kalau begitu berbaringlah!"


"Berbaring? Kau sedang merencanakan apa?" Kimmy menutupi tubuhnya dengan tangan.


"Memangnya apa yang kau pikirkan?" Archie tertawa.


"Kau tidak sedang merayuku kan?" Kimmy menyipitkan matanya. Bersikap waspada.


"Merayu? Aku hanya ingin memijat kakimu. Berbaringlah!" Archie menyuruh lagi.


"Aku tidak mau. Dasar laki-laki m*sum!" Kimmy memelototkan matanya.


"Padahal aku hanya ingin memijat," Archie berkata dengan polosnya.

__ADS_1


"Aku tidak akan membiarkan kau menyentuh tubuhku! Keluarlah!" Kimmy mengusir Archie dari dalam kamar.


Archie pun menurut dan keluar dari kamar Kimmy, karena ia juga harus menyelesaikan semua pekerjaan di laptopnya dari rumah. Sepeninggal Archie, Kimmy mengambil ponselnya. Ia mengabari staff di kliniknya jika Kimmy terkena musibah dan tidak dapat pergi bekerja.


Setelah bosan bermain ponsel, Kimmy merebahkan tubuhnya di kasur. Ia memandang langit-langit kamar suaminya. Matanya semakin berat hingga akhirnya dia tertidur.


Sudah menjelang petang, Archie baru selesai dengan pekerjaannya. Archie masuk kembali ke dalam kamar. Ia melihat Kimmy tengah tertidur dengan kaki masih menjuntai ke lantai. Archie langsung berjongkok dan melepaskan sepatu dari kaki istrinya.


Perlahan Archie membenarkan posisi tidur Kimmy. Ia melihat kaki Kimmy sedikit membiru. Archie pun terduduk di dekat kaki istrinya. Dengan hati-hati, Archie merebahkan kaki Kimmy di pangkuannya. Archie memijat kaki Kimmy dengan lembut. Tidak ada reaksi dari gadis berambut blonde itu. Sepertinya ia benar-benar sudah masuk ke alam mimpi.


Sesekali Archie memandangi wajah teduh Kimmy yang sedang terlelap. Archie adalah pria dewasa normal. Ia begitu mengagumi kecantikan istrinya itu. Archie diam-diam tersenyum melihat Kimmy menggeliat pelan. Akan tetapi, bayang-bayang wajah Flowi muncul dan seketika membuat senyuman Archie menghilang entah ke mana.


"Flo, aku hampir melupakanmu!" Archie berhenti mem*jat kaki jenjang istrinya.


"Bagaimana bisa aku melupakan Flo?" Archie merasa sangat bersalah. Ia seperti seseorang yang tengah berselingkuh dengan Kimmy. Padahal faktanya, dirinyalah yang berselingkuh hati dengan Flowi.


Archie meletakan kembali kaki Kimmy dengan hati-hati. Archie langsung mengambil ponselnya untuk bertukar kabar dengan Flowi. Ia hampir saja melupakan wanita yang dicintainya itu.


"Flo, maaf aku baru menghubungimu!" Archie langsung sumringah ketika Flowi mengangkat telfonnya.


"Babe!" Flowi menangis terisak.


"Kau kenapa?" Suara Archie langsung terdengar khawatir saat mendengar isak tangis wanitanya.


"Apa yang terjadi? Apa kau baik-baik saja?" Archie tampak tidak sabar.


"Papamu!" Suara Flowi tercekat.


"Ada apa dengan papaku?" Kepanikan Archie bertambah berkali-kali lipat.


"Papamu membuat onar di rumahku, Babe!" Flowi semakin mengencangkan tangis palsunya itu.


"Membuat onar?" Archie tampak sangat terkejut sekaligus bingung. Kira-kira ayahnya berbuat apa kepada wanita yang ia cintai itu.


"Papamu tadi ke sini untuk mengambil semua barang yang telah kau hadiahkan kepadaku. Dia mengancamku untuk meninggalkanmu. Bahkan ayahmu mengacak-acak rumahku," suara Flowi terdengar sangat meyakinkan.


"Tidak mungkin. Papaku tidak mungkin seperti itu," Archie tampak tidak percaya.


"Aku tidak berbohong. Untuk apa aku berbohong? Kemarilah dan lihatlah sendiri!" Flowi terisak kemudian langsung mematikan sambungan telfonnya.


"Papa!" Archie mengusap wajahnya kasar, kemudian ia mengambil kunci mobilnya untuk segera berangkat menuju rumah Flowi.

__ADS_1


__ADS_2