
"Nino?" Seru Fiona dengan wajah yang sangat terkejut.
"Tidak usah berpura-pura kaget seperti itu," Nino tertawa mengejek.
Fiona diam mematung di tempatnya berdiri. Ia tidak menyangka akan kedatangan tamu yang tak di undang itu. Dahulu Nino dan Fiona memang pernah di jodohkan oleh kedua orang tuanya masing-masing. Akan tetapi, perjodohan itu batal karena Nino tidaklah menginginkannya.
"Om?" Flowi bergumam.
"Ada apa om ke mari?" Flowi bertanya dengan wajah angkuhnya.
"Aku ada urusan ke sini. Apa seperti ini kalian memperlakukan tamu yang datang ke rumah kalian?" Sindir Nino.
"Silahkan masuk!" Fiona tersenyum semanis mungkin terhadap Nino.
"Dia masih saja tampan!" Fiona terpukau dalam hatinya.
Flowi beringsut mundur untuk memberikan jalan kepada Nino. Nino masuk ke dalam rumah dan memperhatikan hunian ibu dan anak itu.
"Kulihat kehidupan kalian cukup baik!" Nino memperhatikan interior rumah Fiona dan Flowi yang asri dan juga cukup luas.
"Iya. Aku bekerja sebagai seorang reporter," Flowi menyombongkan dirinya.
"Bukankah putraku yang memberimu banyak uang?" Nino mendudukan dirinya. Ia menyilangkan kakinya.
"Tutup mulutmu itu!" Flowi meradang mendengar ucapan Nino yang seakan menghinanya.
"Flo, jaga bicaramu!" Fiona sedikit membentak putrinya.
"Apa kau tidak mendidik putrimu dengan baik? Apa semasa sekolah putrimu selalu membolos?" Nino tersenyum merendahkan.
"Jika ingin menghinaku sebaiknya kau pergi dari sini!" Flowi mengusir Nino.
"Fi, untung saja dulu aku tidak menikah denganmu. Bagaimana jika aku jadi menikah denganmu? Aku akan sangat malu mempunyai anak kurang ajar seperti dia!" Nino menunjuk Flowi dengan tangannya.
"Menikah? Apa maksudnya?" Flowi tampak terkejut.
"Oh, jadi putrimu yang tidak punya sopan santun ini tidak mengetahui masa lalu kita?" Nino tertawa.
"Apa kalian ada hubungan?" Flowi menatap Fiona dan Nino bergantian.
"Tentu saja tidak. Dulu kedua orang tuaku hendak menjodohkan aku dengan ibumu. Akan tetapi, itu semua batal karena aku tidak pernah menginginkannya," Nino bercerita.
Fiona hanya ******* jarinya. Ia merasa malu bila mengingat masa lalunya. Mereka gagal dijodohkan karena peringai Fiona yang murahan terhadap semua lawan jenis. Bahkan saat itu, Fiona memacari sahabat dari Nino.
"Mom, mengapa kau tidak pernah menceritakannya kepadaku?" Flowi terlihat kesal.
"Diamlah!" Fiona mendelik.
__ADS_1
"Sudahlah. Mengapa kita jadi membahas hal yang tidak penting itu? Ada hal lebih penting yang harus aku bicarakan denganmu!" Nino menunjuk Flowi sekali lagi.
"Aku kira, aku tidak punya urusan denganmu," Flowi menyilangkan tangannya di dada.
"Tentu saja punya. Kau harus mengembalikan jet pribadi yang dibelikan oleh putraku," Nino berdiri dari duduknya. Ia merasa lelah harus berbasa basi dengan wanita kurang ajar seperti Flowi.
"Jet pribadi? Archie memberikannya untukku," Flowi menolak.
"Bukankah pembelian jet itu masih atas nama putraku. Maka dari itu, kembalikan!" Wajah Nino seketika terlihat serius.
"Aku tidak akan memberikannya. Archie yang memberikannya padaku," Flowi keukeuh menolak.
"Bukan putraku yang memberikannya. Tapi kau yang memaksa untuk mendapatkannya. Kemarikan surat dan yang lainnya!!" Nino mengintimidasi Flowi dengan tatapannya.
"Jika aku tidak mau, kau bisa apa?" Flowi menantang.
"Aku bisa membuat kariermu hancur seketika saat ini juga. Bagiku itu persoalan kecil. Aku bisa membuat Kimmy gagal menikah dengan pria lain. Aku bahkan bisa membuat kau tidak datang saat pernikahan putraku. Tentu aku yang melakukan semuanya," Nino tersenyum licik.
Deg. Flowi diam mematung di tempatnya berdiri. Ternyata pernikahan kekasihnya adalah ulah Nino. Sebenarnya seberapa besar pengaruh seorang Nino Walls? Bahkan dia bisa mengotak-atik jam kerjanya. Diam-diam ketakutan hinggap di dalam hatinya. Jujur saja Flowi tidak ingin kehilangan kariernya.
"Aku tidak punya waktu menonton kau yang sedang melamun. Kemarikan semua dokumen perihal pembelian jet pribadi itu!" Titah Nino dengan wajah berwibawa. Akan tetapi, ada aura pengancaman dari seringai bibirnya.
"Kembalikan saja, sayang! Jangan berurusan dengannya!" Fiona berbisik.
Flowi mengalah, ia langsung naik ke tangga dan masuk ke dalam kamarnya. Tak lama, Flowi terlihat turun dengan membawa sebuah map.
"Ambilah dan pergi dari sini!" Flowi melempar map itu di atas meja.
"Maafkan Flowi, Nino!" Lirih Fiona saat Nino mulai berjalan dan melewati mereka berdua.
"Mom, mengapa kau meminta maaf?" Flowi berdecak kesal.
Fiona tidak menjawab, ia menatap Nino yang keluar dari dalam rumahnya.
"Flo, mengapa sikapmu tadi seperti itu terhadap Nino? Bukankah dia adalah ayah dari kekasihmu?" Fiona terlihat marah kepada putrinya itu.
"Aku tidak mau berpura-pura baik kepada orang itu. Dia penghalang kesuksesanku mendapatkan Archie," Flowi mengepalkan tangannya.
"Tapi sikapmu itu semakin membuat Archie jauh darimu. Kita bisa kehilangan tambang emas kita. Pikirkan itu!" Fiona menunjuk-nunjuk kening Flowi dengan jari telunjuknya.
"Jika kau seperti ini terus, kau benar-benar akan kehilangan Archie. Kita harus bermain cantik. Archie adalah seorang pria yang begitu penurut terhadap perkataan orang tuanya. Ia amat menyayangi kedua orang tuanya," Fiona memberikan sebuah starategi.
"Jika kau selalu bersikap tidak sopan terhadap ayahnya, bukan tidak mungkin kau akan kehilangan Archie selamanya. Dasar anak b*doh!" Amarah Fiona mulai meledak-ledak.
Flowi tampak berpikir. Ia mengamini perkataan ibunya. Selama ini ia memang mengenal Archie sebagai anak yang penurut apa kata kedua orang tuanya. Hanya saja untuk urusan asmara, Archie sedikit membandel walau ia diperingatkan untuk tidak memacari Flowi.
"Rebut hati Nino dan istrinya! Maka Archie akan benar-benar menjadi milikmu!" Ucap Fiona.
__ADS_1
"Tidak, Mom. Aku tidak akan merebut hati kedua orang tuanya. Akan tetapi, aku akan membuat Archie balik membelaku dan mengabaikan kedua orang tuanya," Flowi tersenyum licik.
****
Sesampainya di rumah, Archie langsung memboyong tubuh Kimmy masuk ke dalam rumah. Bagi Kimmy, hal itu sangatlah canggung karena ia tidak terbiasa berkontak fisik dengan lawan jenis.
Archie menurunkan Kimmy di ruang tamu, ia melihat keluarganya berkumpul di sana, kecuali Kai dan Nino yang tidak Archie tahu keberadaannya ada di mana. Tentu saja Nino datang ke rumah Flowi untuk memberikan ultimatum. Sedangkan Kai masih di lokasi TKP untuk mengurus mobil Kimmy yang masuk ke dalam parit.
Alula dan Tifanny yang melihat anak-anaknya datang langsung berhambur memeluk Kimmy.
"Bagaimana keadaanmu, sayang?" Alula, ibu dari Kimmy menangis. Ia amat khawatir terhadap keadaan putrinya. Pasalnya, ia baru mengetahui kabar Kimmy saat dirinya baru pulang dari super market.
"Kimmy baik-baik saja, Ma!" Kimmy merasa bersalah karena membuat ibunya khawatir.
"Mana yang sakit, Nak?" Tifanny memeriksa tubuh Kimmy.
"Ini hanya luka kecil. Pasti akan sembuh dengan cepat," Kimmy menghibur.
Archie dibuat terpaku. Ia menatap Kimmy yang tersenyum penuh kehangatan kepada Alula dan juga ibunya. Lalu mengapa jika berbicara dengannya, wajah Kimmy selalu saja dingin?
"Tangan kanan Kimmy terkilir sedikit. Akan cukup sulit untuk melakukan tugas sehari-hari," Archie bersuara.
"Apa tidak parah?" Alula tampak menyentuh lengan Kimmy. Kimmy pun meringis dan mengibaskan pelan tangannya itu.
"Jangan di sentuh, Ma!" Archie memberi tahu Alula.
"Mama hanya khawatir, Ar," Alula terus memeriksa bagian tubuh Kimmy yang lain.
"Kimmy baik-baik saja. Tadi Kimmy melompat, jadi Kimmy tidak mengalami luka yang cukup serius," Kimmy menghibur kedua orang tua yang mengkhawatirkannya.
"Mengapa dia sangat menggemaskan ketika menyebut namanya sendiri?" Archie tidak sadar tersenyum.
"Ar, mengapa kau tersenyum seperti itu?" Tifanny tersenyum ketika memergoki putranya sedang tersenyum.
"Siapa yang tersenyum?" Archie tampak kelimpungan.
"Ar, lebih baik kamu bawa Kimmy ke kamar! Dia pasti ingin beristirahat dan menenangkan diri," Alula melirik ke arah Archie. Archie pun mengangguk dan menggendong Kimmy untuk sampai di kamar.
Archie dan Kimmy pun bersitatap, sampai Kimmy yang lebih dulu mengakhiri tatapan itu. Archie menurunkan Kimmy pelan-pelan di atas kasur. Suasana canggung pun mulai menghampiri pasangan suami istri baru itu.
"Apa kau lapar?" Archie bertanya karena Kimmy hanya diam saja.
"Iya. Perutku sedikit lapar. Tadi aku belum sempat memakan bekal dari mama," Kimmy menatap ke arah Archie yang berdiri di hadapannya.
"Baiklah, tunggu sebentar! Aku akan mengambil makanan," Archie langsung keluar dari dalam kamar. Beberapa menit kemudian, Archie masuk dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman yang akan Kimmy makan.
"Seeprtinya enak!" Kimmy menatap nampan yang Archie bawa dengan berbinar.
__ADS_1
Archie menyimpan nampan itu tepat di sisi Kimmy. Kimmy mulai menggerakan tangan kirinya untuk menggapai sendok.
"Kau bukanlah orang kidal. Akan kesulitan jika makan dengan tangan kiri. Aku yang akan menyuapimu," ucap Archie seraya mengambil sendok itu.