Menikah Dengan Nona Kim

Menikah Dengan Nona Kim
Mengemudikan Mobil Lama


__ADS_3

Archie bangun dari tidurnya. Ia melihat ranjang dan tidak mendapati istrinya di sana. Apa Kimmy sedang di dalam kamar mandi? Archie berjalan ke arah toilet yang ada di dalam kamarnya. Tidak ada seorang pun di dalam. Archie bertanya-tanya ke mana Kimmy pergi? Apa dia sedang sarapan di bawah? Archie langsung turun dan melihat kedua orang tuanya tengah sarapan bersama tanpa istrinya.


"Ke mana Kimmy?" Archie bertanya kepada Nino.


"Dia sudah berangkat. Apa dia tidak memberitahumu?" Nino bertanya sambil mengiris-ngiris daging yang ada di hot platenya.


"Tidak," Archie menjawab jujur.


"Bagaimana ini? Kau kan suaminya, masa tidak tahu istri berangkat bekerja," Tifanny mengkritik.


"Aku masih tidur tadi," Archie menguap. Sejujurnya ia masih mengantuk pagi ini.


"Kalian romantis sekali! Pasti Kimmy tidak ingin membangunkan suami tercintanya," Nino tersenyum dengan manis.


"Benar-benar suami istri penuh cinta," Tifanny bertepuk tangan sembari tersenyum riang.


Archie hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan kedua orang tuanya.


"Dia berangkat naik apa?" Archie langsung berlari ke halaman depan dan memeriksa mobilnya yang terparkir di garasi. Ia takut Kimmy menggunakan mobil miliknya. Akan tetapi, mobil milik Archie masih terparkir dengan sempurna.


"Kimmy menggunakan mobilnya sendiri. Tadi sebelum berangkat, dia pergi ke rumah paman Kai untuk mengambil mobilnya," Tifanny menjawab.


"Mengapa mama tidak mengatakannya dari tadi?" Archie mencebikan bibirnya.


"Sepulang bekerja, temani Kimmy untuk membeli sebuah mobil baru! Kau suaminya, sudah sepantasnya memberikan barang-barang yang diperlukan oleh Kimmy. Papa akan sangat malu dengan Paman Kai dan Alula. Pasti mereka mengira Kimmy tidak diperhatikan di sini," Nino menatap Archie dengan serius.


"Papa saja yang membeli. Archie tidak tahu mobil apa yang dia inginkan," Archie berterus terang. Sejujurnya ia memang tidak tahu menahu mengenai istrinya dan apa yang Kimmy suka dan tidak suka.


"Kenapa papa? Memangnya papa suami Kimmy? Yang jadi suaminya itu siapa?" Nino tampak kesal.


"Iya, nanti Archie ajak Kimmy membeli sebuah mobil baru," Archie mengalah ketika melihat raut wajah Nino berubah menjadi kesal.


"Kalau begitu, aku siap-siap dulu untuk pergi ke kantor," Archie berlalu dari hadapan kedua orang tuanya dan masuk kembali ke dalam kamarnya.


Archie bergegas untuk mandi. Setelah mandi, ia memakai setelan yang biasa ia gunakan untuk pergi bekerja. Archie memasangkan dasi di lehernya sambil dengan menatap pantulan dirinya di cermin.


"Susah sekali!" Archie masih berjibaku dengan dasi miliknya.


"Seperti ini saja," Archie memakai dasi itu dengan asal.

__ADS_1


Saat Archie memandang pantulan dirinya di cermin, ia mengingat peristiwa tadi malam. Saat dirinya dan Kimmy berada dalam jarak yang dekat ketika Archie memaksa Kimmy untuk keluar dari dalam mobil.


"Dia memang cantik," Archie membayangkan kembali wajah Kimmy yang begitu dekat dengan wajahnya semalam. Untuk pertama kalinya Archie menjelajahi wajah Kimmy.


"Dia cantik, tapi aku tidak menyukainya," Archie buru-buru menghapus ingatannya itu. Archie segera mengambil tas kerjanya dan keluar dari dalam kamar untuk bergabung bersama Tifanny dan Nino di meja makan.


Sementara di tempat lain, Kimmy sedang mengemudikan mobilnya menuju klinik psikologi miliknya. Ia terus tersenyum seraya mengemudikan mobil miliknya yang berwarna merah.


"Aku begitu merindukanmu!" Kimmy mengusap mobil kesayangannya itu. Ia memang amat merindukan menyetir mobil miliknya sendiri. Kimmy memutar lagu kesukaannya dari flashdisk yang selalu ia bawa.


Saat Kimmy menginjak pedal rem miliknya, pedal rem terasa enteng. Laju mobil kendaraan Kimmy tidak berhenti atau pun berkurang. Kimmy mulai panik, apalagi saat tercium seperti bau karet terbakar.


"Ya ampun! Sepertinya rem mobil ini blong!!" Kimmy terus menginjak pedal rem mobil.


"Bagaimana ini?" Kimmy semakin panik. Ia menghindari beberapa kendaraan yang ada di depannya. Kimmy membelokan mobilnya ke pinggir jalan raya. Mobilnya terus melaju tanpa terkendali di atas rurumputan yang terus menurun.


"Aku tidak mau mati sekarang!" Kimmy melepaskan sabuk pengaman yang melingkar di tubuhnya. Wanita itu memutuskan untuk keluar dari dalam mobil miliknya.


Kimmy kemudian dengan cepat membuka pintu mobil dan meloncat dari mobil yang melaju dengan sangat kencang.


"Aww!" Pekik Kimmy saat ia merasakan seluruh badannya terasa sakit. Darah menetes dari kedua siku dan juga lututnya.


****


Kai masuk ke dalam rumah Nino dengan terengah-engah dan setengah berlari. Pria setengah baya itu tampak sudah mengenakan setelan kerjanya. Akan tetapi, apa yang membawa Kai sepagi ini ke rumah Nino?


"Nino? Archie?" Kai berteriak. Suaranya memenuhi langit-langit rumah.


"Kai, ada apa?" Nino yang melihat wajah panik Kai berdiri dari duduknya.


"Papa Kai?" Archie pun ikut berdiri. Mereka serempak menghentikan aktivitas sarapan di pagi hari yang damai itu.


"Apa Kimmy mengambil mobil miliknya?" Suara Kai tampak bergetar. Semua yang ada di rumah itu merasakan bagaimana kepanikan yang besar dari nada bicara Kai.


"Iya. Tadi Kimmy bilang dia harus pergi ke kliniknya pagi-pagi dan akan menaiki mobil miliknya. Ada apa, Kai?" Nino tampak tidak sabar. Ia mendekat ke arah besannya itu dengan raut wajah khawatir.


"Mobil milik Kimmy remnya blong setelah dipakai olehku. Aku belum sempat memperbaikinya," Kai mengusap rambutnya dengan kasar.


"Ya ampun!" Tifanny menutup mulutnya.

__ADS_1


"Maksud papa, Kimmy sekarang mengemudikan mobil yang remnya blong?" Archie tampak memperjelas.


"Iya," suara Kai tampak bergetar.


"Kai, mengapa kau tidak mengatakannya dari tadi?" Nino memelototkan matanya.


"Kimmy!" Archie langsung mengambil kunci mobil miliknya dan pergi dari sana. Archie mengemudikan mobilnya menuju klinik milik Kimmy.


"Kau tunggu saja di rumah, sayang!" Pinta Nino kepada Tifanny yang hendak ikut pergi mencari menantunya.


"Baiklah. Secepatnya kabari aku," Tifanny memegang tangan Nino. Ia begitu khawatir bagaimana keadaan Kimmy sekarang. Kai dan Nino langsung berlari dan menaiki mobil yang lain untuk mencari Kimmy.


"Aku memang tidak mencintaimu, tapi aku berharap kau baik-baik saja. Bagaimana pun kita terikat oleh sebuah hubungan yang kuat, itu adalah pernikahan. Aku bertanggung jawab atas dirimu," Archie bergumam. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Saat Archie melewati sebuah jalanan menurun, ia melihat ke samping dan melihat orang-orang berkerumun. Di sana juga terdapat mobil ambulance dan para medis. Archie segera memarkirkan mobilnya. Archie berharap dugaannya tidaklah benar.


"Permisi, apa yang terjadi?" Archie bertanya kepada seseorang yang ada di lokasi.


"Ada kecelakaan, Tuan."


"Kecelakaan?" Mata Archie membulat. Ia segera berlari ke arah mobil ambulance yang terus menyalakan sirinenya.


"Apa korbannya adalah seorang wanita?" Archie bertanya dengan risau.


"Iya. Namanya Nona Kimberly Allen," ucap petugas medis yang sudah memeriksa identitas Kimmy.


"Ya ampun, Kimmy!" Archie segera berlari dan membuka pintu ambulance itu.


Matanya membeliak saat ia melihat Kimmy tengah menutup mata dan diselimuti dengan kain putih.


"Kimmy? Mengapa jadi seperti ini?" Archie bersimpuh di samping Kimmy.


"Apa yang harus aku katakan kepada kedua orang tuamu dan juga kakakmu? Kakakmu Jasper pasti menghabisiku karena aku tidak bisa menjagamu. Kimmy, maafkan aku!" Suara Archie terdengar parau.


"Walaupun kita menikah bukan karena cinta, tapi aku sudah seperti seorang pecundang yang gagal melindungi istrinya," Archie berkata lagi dengan suara yang tercekat.


"Bangunlah, Kim! Aku memang tidak mencintaimu, tapi aku tidak ingin kau meninggal," Archie menggoyang-goyangkan tubuh istrinya.


"Kau ini kenapa berisik sekali?" Kimmy membuka matanya dan melihat Archie dengan kesal.

__ADS_1


__ADS_2