
pagi itu keluarga Aditya Hermawan berkumpul membicarakan masalah perusahaan nya yang di urus oleh Richard.
"Richard bagaimana kinerja mu di perusahaan , sampai-sampai perusahaan harus mengalami penurunan seperti ini. padahal kakek sangat berharap sekali. di banding dengan ayah mu yang hobi main wanita. kakek menaruh harapan besar terhadap mu, tapi apa yang kakek lihat ini " ucap Aditya membuat wajah Bram menunduk malu. Sarah pun hanya diam mendengar penjelasan dari Aditya yang sudah tahu sifat suaminya itu. tidak dengan Dewi yang saat mendengar itu seperti ada petir di siang bolong, Dewi terkaget mengetahui kelakuan ayah mertua nya itu.
" ini semua karena kamu " Sarah berteriak dengan menatap wajah Bram penuh kemarahan.
" sudah lah kek, buat apa membicarakan yang sudah terjadi. yang penting sekarang bagaimana kita menangani perusahaan agar tidak bangkrut " ucap Richard dengan nada sedih, Dewi yang berada di samping Richard baru pertama kali melihat ekspresi wajah Richard yang begitu sedih.
" ini semua karena kamu selalu menghambur kan uang untuk wanita penggoda itu " Sarah berteriak dengan menatap wajah Bram penuh kemarahan.
" sudah lah mah " Richard mencegah ibu nya bertindak lebih lagi
" apa kita bisa melakukan pinjaman ke BANK kek " tanya Richard pada Aditya.
" kakek tidak tahu , coba saja kamu lakukan " jawab Aditya seakan tidak mau memberi dukungan kepada Richard.
__ADS_1
setelah pembicaraan dengan keluarga nya selesai Richard dan Dewi bergegas pulang ke apartemen nya. di dalam mobil hanya ada keheningan tidak ada obrolan diantara mereka berdua. setelah itu mereka pun sampai di apartemen rasanya kepala Richard sangat berat sekali, Richard langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. seperti nya ia ingin segera tertidur, meskipun pakaian nya masih menggunakan pakaian kerja.
setelah Richard masuk ke dalam kamar, Dewi pergi ke dapur ingin membuat kan secangkir teh hangat untuk Richard, setelah teh nya jadi, Dewi membawakan nya ke kamar Richard.
" tok... tok .. tok." Dewi mengetuk pintu kamar Richard
" .... mas " ucap Dewi tetapi tidak ada jawaban dari dalam, akhirnya Dewi pun memberanikan masuk ke dalam kamar nya Richard, Dewi mendapati Richard yang sedang tertidur.
" mas kamu belum makan malam loh, ini aku buatkan teh hangat di minum yah" ucap Dewi yang duduk di samping ranjang tempat Richard tertidur. Richard pun tidak mau bangun. Dewi menatap Richard yang tertidur, wajah nya begitu lesu dan lemas, tidak seperti biasanya Richard selalu bersemangat untuk memarahi Dewi meski itu masalah kecil.
Dewi menyembunyikan tangannya saat tubuh Richard bergerak dan mulut nya bergerak, mata nya membelalak ke arah Dewi, tatapan itu pun saling mengunci di antara keduanya.
" ini aku buatkan teh mas " ucap Dewi, yang tidak ingin Richard berfikiran buruk tentang Nya. kemudian berjalan Ingin meninggalkan kamar Richard, tetapi tangannya tertahan oleh tangan Richard yang menarik nya.
" tunggu Dewi ... " ucap Richard. Dewi pun berbalik menatap wajah Richard.
__ADS_1
" aku ingin berbicara dengan kamu sebentar " Richard menepuki ranjang di samping nya menginginkan Dewi duduk di situ.
" ada apa mas, ini udah malam " Dewi merasa takut.
" sebentar saja, aku mohon " ucap Richard. baru pertama kali Dewi mendengar suara Richard dengan memelas.
" baiklah, tapi hanya sebentar saja. karena aku sudah mengantuk " Dewi pun duduk di tempat yang di tunjukkan oleh Richard, sambil menunggu apa yang ingin Richard omongin.
" Dewi, seperti yang telah kamu ketahui. perusahaan ku sekarang di ambang kebangkrutan, aku menyerahkan keputusan mu jika kamu mau meninggalkan ku sekarang " ucap Richard.
" jadi itu saja yang mau kamu bicarakan " Dewi berdiri dari tempat nya duduk. Richard pun terdiam tidak menjawab pertanyaan Dewi.
saat Dewi berjalan baru satu langkah. Richard memeluknya dari belakang. " maaf kan aku " lirihnya.
Dewi terdiam, tubuh nya kaku mendapat pelukan dari Richard yang secara tiba-tiba. Dewi berusaha mengatur perasaannya, lalu melepaskan tangan Richard yang menempel di tubuhnya, kemudian berjalan keluar dari kamar Richard. Dewi masuk kedalam kamar nya, tak terasa air mata dewi pun mengalir di pipinya.
__ADS_1