
Aku merasa tubuhku tertindih akhirnya aku pun membuka mata ku dan terlihat, Richard sedang mencium kening ku dengan dalam.
" mas, sejak kapan kamu di sini mas" ucap ku dengan mata yang masih berawan lalu ku kucek mata ku.
" emhmm... jawab gak yah"
" jam berapa ini mas" lagi-lagi aku bertanya kepada Richard. tetapi Richard terus menggoda ku dan bermain-main dengan jari-jari ku dan mengecupi nya dengan manis. aku ingin segera bangun tetapi nyawa ku belum terkumpul dari efek tidur, jika Richard tidak ada di samping ku, mungkin aku akan tidur lagi.
Aku kembali memejamkan mata ku, tetapi malah membuat Richard bermain-main dengan wajah ku, dan mengecupi nya setiap inchi. aku merasa risih. aku pun bangun kemudian duduk dan menyenderkan tubuh ku pada penyangga ranjang.
Aku menatap jam di kamar sudah menunjukkan jam lima sore. apa mata ku masih berkabut sehingga yang aku lihat jam sudah menunjukkan pukul lima sore. kalau memang ia, berarti aku tidur dengan sangat lama sekali. akhirnya untuk memastikan nya aku bertanya pada Richard. " jam berapa mas?" tanya ku lagi.
" kenapa sih tanya jam terus, sini " Richard menarik tubuh ku dan meletakkan di dada bidang nya. membelai rambut ku, dan kemudian mengkusukan nya saat dia mulai gemas dengan rambut ku. aku yang masih lemas akibat tidur terlalu lama membuat ku hanya pasrah dengan perlakuan Richard.
Sore itu aku tahu Richard menginginkan nya, aku hanya bisa pasrah saat bermain lebih dalam lagi dengan tubuh ku, setelah selesai melakukan pergulatan itu, Richard menggendong masuk ke dalam kamar mandi. kami mandi bersama, di dalam bathtub kami saling membantu membersihkan tubuh kami masing-masing.
" ucchh... rasanya segar sekali setelah mandi " ucap ku sambil menggosok kan rambut panjang ku pada handuk.
" ini apa? " suara Richard dari belakang. lalu aku merubah posisi ku dan berhadapan dengan tubuh Richard. aku lihat Richard tengah memegang bunga yang aku letakkan di atas meja.
" oh, itu bunga untuk ku mas ?"
" dari siapa ?"
__ADS_1
" tidak tahu, tidak ada nama pengirim nya"
" kenapa kamu menyimpan nya kalau tidak ada nama pengirim nya?, aku akan membuangnya yang jauh" ucap Richard dengan marah dan keluar dari kamar yang masih memakai handuk.
Aku kaget dengan ekspresi marah nya, hanya pada sebuah bunga saja bisa semarah itu. Richard pun telah datang ke arah ku.
" sayang, besok-besok kalau bunga itu tidak ada nama pengirim nya, jangan di terima yah. aku tidak mau kamu memiliki penganggum rahasia lagi. mengerti." ucap Richard dengan tegas.
Aku kaget dengan kemarahan nya itu, saat aku menerima bunga itu pikiran ku tidak sampai kesitu.
" ia mas, aku janji" ucap ku agar Richard tidak marah lagi, dan benar saja. Richard menghampiri ku dan memeluk ku dan memberikan kecupan di kening ku lagi. baru saja kami melakukan nya. apa Richard tidak merasa bosan.
Setelah rambut ku agak terasa kering aku memakai baju dan mulai berdandan. aku ingin menyiapkan makan malam.
***
Aku tidak fokus saat Richard baru sampai datang dari kantor, kedatangan nya dari depan pintu seakan tidak terlihat karena aku terus memikirkan masalah karangan bunga itu.
" Dewi kamu kenapa?" tanya Richard karena aku tidak menyambut nya dan justru aku malah melamun.
" itu, mas bunga. setiap hari aku masih di kirimin bunga oleh orang tidak dikenal " jawab ku jujur.
" Lalu kamu langsung membuangnya"
__ADS_1
" iya mas."
" bagus." Richard pun merangkul tubuh ku dan membawa ku masuk ke dalam.
* Richard POV.
Richard menelpon Dhani, dan menanyakan tentang tugas nya waktu lalu tentang identitas orang tua Dewi. tetapi Dhani belum mendapatkan hasil nya. kemudian Richard meminta mengirimkan orang kepercayaan Dhani untuk menyelidiki pengirim bunga misterius itu. Richard tidak ingin ada satu orang pun yang mengagumi Dewi.
***
Di dalam hubungan suami istri ada saja pertengkaran-pertengkaran kecil. misalnya nya saja. sejak aku mendapatkan kiriman bunga setiap hari, aku rasa sikap Richard berubah. Richard seperti menaruh kecurigaan terhadap ku. sikap nya kini menjadi dingin kembali. bahkan Richard kini sekarang sering sekali pulang larut malam. dan berangkat pagi-pagi sekali. aku pun tidak pernah di antar nya ke kampus lagi. aku lebih sering menggunakan kendaraan umum.
Keadaan seperti ini membuat ku malas untuk berangkat ke kampus. tetapi pikiran ku yang ingin cepat-cepat menyelesaikan kuliah ku, membuat ku harus tetap berangkat kuliah.
" Dewi kamu kenapa? seperti nya wajah kamu pucat sekali" ucap Anita di samping ku. kami mengikuti mata kuliah di dalam kelas.
." aku tidak apa-apa" jawab ku. mungkin karena tadi pagi aku tidak sarapan sehingga aku menjadi lemas. pikir ku. aku tidak berselera lagi untuk makan, saat Richard selalu melewatkan sarapan bersama kami dan lebih memilih berangkat pagi-pagi sekali ke kantor.
jam kuliah pun selesai saat sang dosen keluar dari kelas ku.
" Dewi, aku akan membawa mu ke klinik. untuk memeriksa keadaan mu " ucap Anita.
" tidak. aku tidak apa-apa" aku masih menolak ajakan Anita.
__ADS_1
BUG...
suara tubuh ku terjatuh ke lantai dan aku pun hilang kesadaran ku.