
" Bram kenapa kau diam saja " bentak Sarah dengan situasi itu . tetapi Bram hanya diam saja melihat papa nya melakukan itu.
" kakek, apa kakek sudah gila " ucap Richard mencoba menggagalkan keinginan Aditya .
" cucu kurang ajar , beraninya kamu bilang kakek mu ini gila . sudah lakukan saja perintah kakek nanti baru kamu nyesel "
" tapi kek ,..... | " ucap Richard ingin mengungkapkan penjelasan tetapi Aditya mendahului Nya berbicara
" Hadi ... , serahkan pulpen Nya " ucap Aditya yang ingin segera menandatangani surat wasiat itu. Hadi pun menyerahkan pulpen ke Aditya
" jangan kek, jangan " Richard berusaha menghalang-halangi . tapi pulpen sudah menempel di atas kertas tinggal beberapa detik lagi.
" baik kek .... baik " sambung Richard mencoba menggagalkan kakek nya melakukan tanda tangan di atas kertas yang sudah di pegang oleh kakek Nya
" nah , gitu dong ... " ucap Aditya dengan ekspresi wajah yang sangat bahagia.
Dewi yang sudah berada di samping Aditya merasa bingung dengan apa yang telah terjadi di hadapannya, tapi Dewi akan mengingat bahwa Richard tidak menyukai perjodohan itu sementara Dewi tidak bisa menolak dengan posisi Nya sebagai anak yang di ambil Aditya dari panti asuhan . kalau bisa Dewi juga akan menolak perjodohan itu , Dewi tau hidup dengan orang yang tidak menginginkan kehadiran Nya akan membuat nya menderita.
__ADS_1
" Richard kemari " perintah Aditya yang telah menyiapkan sebuah cincin.
sementara Bram dan Sarah hanya bisa pasrah menyaksika keputusan Aditya.
Richard berjalan ke arah Aditya dan berdiri bersebrangan dengan Dewi.
" sini " Aditya bergeser tempat sehingga Dewi dan Richard kini sudah berdiri berdampingan. Aditya memberikan kedua cincin itu.
" Dewi masuk kan ini ke jari Richard " perintah Aditya. sebuah cincin berlian yang sangat elegan . Dewi terdiam ragu antara bingung dan takut , takut jika harus membantah perintah Aditya.
" ayo ... " sambung Aditya kini lebih memaksa . Dewi mengambil cincin itu dari tangan Aditya , lalu Dewi tatap wajah Richard penuh dengan kebencian .
" Ya Allah lebih baik aku menjadi orang miskin saja dari pada di hadapkan dengan situasi seperti ini , Dewi awal nya memang senang masuk ke dalam rumah Aditya yang mewah , tapi bukan ini , bukan ini yang Dewi inginkan " gumam Dewi dalam hati
" Dewi " ucap Aditya menghentikan lamunan Dewi. Dewi kemudian memasukkan cincin ke jari Richard Aditya tersenyum senang kemudian menyerahkan cincin yang satu lagi ke tangan Richard.
" masukkan " perintah Aditya dengan penekanan bahwa Richard harus segera melakukan apa yang Dewi lakukan .
__ADS_1
Richard dengan cepat melakukan perintah Aditya memasukkan cincin ke jari manis Dewi.
"kurang ajar , awas saja gadis kampungan itu , akan ku siksa dia " gumam Richard dalam hati Nya . setelah berhasil memasukkan cincin itu dengan sangat kasar. Dewi mengusap jarinya yang kesakitan, Dewi merasa kan sikap Richard seperti harimau yang ingin menerkam Nya .
" umi tolong Dewi" jeritan hati dewi , yang hanya bisa memanggil nama orang yang telah mengurusi Nya sejak bayi itu.
sementara Sarah menatap penuh kebencian terhadap Dewi dari jauh .
" Bram , kenapa kamu tidak bisa mencegah Ayah mu sendiri melakukan itu pada anak kita satu -satunya " bisik Sarah pada Bram
" mau gimana lagi , apa kamu juga mau warisan ayah jatuh pada gadis itu ." jawab Bram .
" kemari lah nak , " Aditya memegang pundak Dewi mengajak ke meja makan , seperti seorang kakek menggandeng cucu kesayangan Nya.
" kalian apa mau berdiri di situ saja , cepat kemari , hari ini kakek lagi senang jadi kita makan siang , kakek sudah menyuruh pelayan untuk memasak banyak hari ini " sambung Aditya lagi.
Richard, Bram dan Sarah pun mengikuti langkah Aditya dan Dewi yang berjalan di depan nya.
__ADS_1
" Richard , duduk lah di samping Dewi " suruh Aditya saat Richard berdiri di samping meja makan. Richard pun duduk d samping Dewi , kemudian Dewi mengambil kan nasi ke dalam piring Richard.
" biyar aku ambil sendiri " ucap Richard mencegah Dewi memasukkan nasi ke dalam piring Nya