Menikah Dengan Tuan Muda Yang Jahat

Menikah Dengan Tuan Muda Yang Jahat
Pertemuan Yang Mengharukan


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat, Dalam beberapa bulan perut Dewi semakin membesar mereka masih tinggal di rumah Helena meskipun kakek merasa Kesepian tetapi Dewi sangat menikmati kebersamaan dengan adik-adik nya itu, setelah sekian lama mereka baru di pertemukan. Sehingga tidak bisa menerima ajakan kakek.


Kala itu Richard dan Dewi sedang dalam perjalanan ke sebuah tempat yang menurut Aryo tempat tinggal Vicky yang sekarang, saat mendengar kabar itu mereka begitu antusias, Dewi memaksa untuk ikut bersama Richard, awal nya Richard melarang karena perut Dewi yang sudah membesar juga karena tempat yang akan di tuju sangat jauh dan berada di sebuah pedesaan. Entah mengapa Vicky sampai pindah dari tempat tinggal nya yang dulu dan jaraknya sangat jauh.


" Mas, kamu yakin ini jalan menuju ke rumah papa." Dewi merasa tidak yakin saat melihat jalanan yang menanjak dan begitu sepi dari Lalu lalang kendaraan.


" Menurut alamat yang di berikan Aryo sih memang benar, tapi tidak tahu juga kalau misalnya aku salah ambil jalur. Nanti saat kita temui orang di sekitar sini. Kita tanyakan kepada mereka."


" Mas, mas berhenti." Teriak Dewi. Richard pun mengerem mendadak.


" Ada apa?."


" Itu ada ibu-ibu yang sedang jalan kaki. Seperti nya dia akan pergi ke sawah."


" Yaudah, aku turun dulu. Kamu di mobil saja jangan keluar." Mobil Richard sudah menepi, Richard segera turun, Dewi yang di larang turun oleh Richard hanya bisa membuka jendela mobil.


" Selamat siang ibu, permisi. Kalau jalan tanjakan kecil desa Sukajaya. Di mana ya bu." Tanya Richard pada seorang ibu yang berpakaian lengkap dengan asesoris seperti layaknya para petani pada umumnya.


" Bapak mau ke rumah siapa?" Si ibu itu malah balik bertanya.


" Saya mencari rumah bapak Vicky Indrawan." Jawab Richard.


" Bapak siapa nya pak Vicky." Ibu itu malah banyak bertanya. Seakan mencurigai.


" Saya menantu nya bu bapak Vicky." Jawab Richard. Ibu itu malah melihat Dewi yang sedang berada di dalam mobil.


" Maaf sebenarnya ibu itu tahu atau tidak alamat yang saya maksud." Richard sudah tampak emosi, pertanyaan nya selalu di balas lagi dengan pertanyaan.


Ibu itu terus memperhatikan dengan seksama penampilan Richard dan Dewi. Richard yang kesal tidak mendapat jawaban sudah berbalik hendak pergi meninggalkan ibu itu.


" Tunggu ." Suara ibu itu membuat Richard seketika berhenti dan membalikkan badannya.


" Iyaa.." ucap Richard dengan samar dia takut kalau dia salah dengar.


" Saya tahu tempat tinggal bapak Vicky. Tapi apakah saya boleh ikut mengantar anda. Karena jalanan nya banyak tikungan dan belokan."

__ADS_1


" Ibu bersedia mengantar kami.? Kami malah senang sekali, ibu mau menyempatkan waktu nya untuk mengantarkan kami sampai ke tempat tujuan."


Richard dan sang ibu itu berjalan masuk ke dalam mobil. Richard menyalakan kemudi mobil nya. Dan terus mendengarkan arahan dari ibu yang mereka temui di jalan itu.


" Maaf ibu, kita belum kenalan. Kalau boleh tahu, nama ibu siapa?. Tanya Richard.


" Nama saya Fatma."


" Oh, ibu Fatma. Perkenalkan nama saya Richard dan di samping saya itu adalah Dewi istri saya tercinta."


Ibu Fatma hanya diam saja tidak begitu antusias. Ternyata benar seperti yang di katakan ibu Fatma bahwa jalanan nya begitu curam dan terdapat banyak tikungan. Setelah beberapa jam mereka sampai di sebuah rumah yang di buat dari bilik bambu.


" Maaf ibu, ibu yakin ini tempat nya.?" Richard tidak percaya tidak mungkin Vicky tinggal di tempat sederhana ini. Bagaimana jika salah alamat, padahal Richard sudah bersusah payah mencapai tempat itu.


" Ini memang rumah nya, silahkan duduk. Saya akan memanggil pak Vicky." terlihat ada sebuah bale berada di depan rumah. Dewi tidak banyak bicara, mata nya terus menatapi lingkungan sekitar.


Tok... Tok ... Tok...


Ibu Fatma mengetuk pintu dengan keras kemudian langsung mendorong nya seakan sudah sangat familiar dengan tempat tersebut.


" Siapa.?" Terdengar suara samar-samar dari luar.


" Tidak tahu. Mereka mencari bapak." Ucap ibu Fatma.


" Warga baru ya, sehingga kamu tidak mengenali mereka." Tanya Vicky.


" Tidak pak, saya bertemu mereka di jalan."


" Baiklah saya akan keluar untuk melihat nya." Vicky pun berjalan keluar.


" Siapa?" Tanya Vicky saat sudah berada tepat di tengah pintu.


Richard dan Dewi menatapi asal sumber suara, mereka begitu terkejut saat di lihat nya seseorang yang duduk di kursi roda.


" Hah, apa benar ini Vicky yang aku Dan Dewi sedang cari." Gumam Richard dalam hati.

__ADS_1


" maaf sepertinya kami salah mencari orang yang ibu Fatma maksud."


" Memang kalian mencari siapa?. Ibu Fatma berdiri di samping Vicky menjadi pendengar.


" Saya mencari bapak Vicky Indrawan." Dewi menjawab. Sementara Richard sedang sibuk menghubungi Aryo dan meminta mengirimkan foto Vicky. Setelah beberapa menit foto Vicky muncul di layar ponsel. Begitu terkejut nya Richard saat menatapi gambar itu. Wajah nya sangat sama dengan foto yang di kirim oleh Aryo.


" Tapi kenapa Vicky yang di depan nya itu, Vicky yang duduk di atas kursi roda dan kenapa dengan kaki nya. Mana kaki nya. Ah, jangan-jangan. Ya ampun." Gumam Richard tampak syok. Pikiran nya terus menerka -nerka. Di tarik nya lengan Dewi berjalan sedikit jauh dari tempat Vicky dan Fatma berada.


Vicky dan Fatma menatapi Dewi dan Richard yang menurut nya sangat aneh.


saat di rasa jarak antara mereka sudah di rasa cukup. Richard berbisik kepada Dewi dan menunjukkan handphone yang berisi foto Vicky. Dewi terkaget. mulut nya di tutup dengan semua jari nya seakan tidak mempercayai hal di depan mata nya sekarang.


Dewi langsung berlari dan memeluk Vicky secara tiba-tiba. " papah.." teriak Dewi dengan lirih. Vicky merasa bingung sebenarnya ada apa.


" maaf... maaf... ada apa ini sebenarnya?.


" papah, aku adalah anak mu... huuuu " Dewi menangis dengan kencang.


" anak.... apa maksudnya.?


" aku anak papa dengan Mama Helena." mendengar nama Helena, Vicky memegang bahu Dewi dengan pelan dan menarik nya kedepan untuk menghadap wajah nya.


" Helena...?" Vicky memegang wajah Dewi seakan sedang mengingat wajah Helena, karena sudah beberapa tahun ia berpisah dengan istrinya itu.


" kamu mirip sekali dengan Mama mu."


" papah .... huuuu" Dewi tangisan nya semakin menjadi.


sudah beberapa menit, Dewi belum mau melepaskan pelukannya kepada Vicky. Dewi menangis dengan begitu dalam merasa kasihan dengan keadaan papah nya.


" ke-kenapa papah jadi se-seperti ini. bahkan, bahkan tempat tinggal papa ..


.. huuuu " Dewi menatapi rumah Vicky yang terbuat dari bilik bambu.


" cerita nya sangat panjang...., kamu duduk lah dulu." Vicky merasa kasihan karena sedari tadi Dewi berposisi jongkok dengan perutnya yang besar itu.

__ADS_1


__ADS_2