
"Dan Allah menjadikan pasangan-pasangan bagi kamu dari jenis kamu sendiri."
(QS. An-Nahl :72)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Menikah adalah sunnahku, barangsiapa tidak mengamalkan sunnahku berarti bukan dari golonganku. Hendaklah kalian menikah, sungguh dengan jumlah kalian aku akan berbanyak-banyakkan umat. Siapa memiliki kemampuan harta hendaklah menikah, dan siapa yang tidak hendaknya berpuasa, karena puasa itu merupakan tameng."
"Saya nikahkan dan kawinkan Kau Muhammad Hafid Febriansyah, dengan putriku, Clarissa Chika Ayudia dengan seperangkat alat sholat dibayar tunai." Suara Dedi (ayah Cika) memecahkan keheningan yang sempat terjadi di ruangan tempat dilaksanakan ijab qobul.
Setelah lima hari yang lalu mengadakan musyawarah antara keluarga besar Cika dengan keluarga besar Kyai Abdullah di ndalem, akhirnya mereka mengambil keputusan untuk mengadakan acara ijab qobul pagi ini.
Cika tidak dapat menolak lagi, gadis ini hanya pasrah. Orang tuanya sudah 100% sangat setuju sekali dirinya menikah muda dengan sosok seorang ustaz yang baru beberapa hari ia kenal, tetapi ia cukup bersyukur karena acara ijab qobul dilaksanakan hari sabtu, dimana ada sebagian santri memilih untuk pulang ke rumahnya karena tidak ada proses belajar.
Para santri akan balik hari ahad setelah selesai salat dzuhur. Termasuk kedua sahabatnya, Dinda dan Novi yang memang rumah mereka tidak terlalu jauh dari pesantren, berbeda dengan rumah dirinya yang jaraknya cukup jauh. Ia tidak tahu akan bagaimana reaksi kedua sahabatnya itu bila tahu kalau dirinya sudah menikah dengan—Ustaz Hafid.
Sebaliknya ibu dan ayah Cika malah bersyukur putrinya menikah dengan seorang ustaz, mereka berdua tidak menyangka akan mempunyai seorang menantu anak kyai. Mereka yakin Hafid adalah pria yang baik yang bisa membimbing putrinya untuk menjadi wanita yang lebih baik.
"Saya terima nikah dan kawinnya Clarissa Chika Ayudia binti Dedi Gunawan dengan mahar tersebut dibayar tunai." Suara ustadz Hafid terdengar lantang dan mantap.
"Bagaimana para saksi?" tanya penghulu.
"Sah!"
__ADS_1
"Sah!"
"Sah!"
Sahutan demi sahutan dari para saksi-saksi terdengar. Ustaz Hafid bernapas lega akhirnya dia mengucapkan ijab qobul dengan sekali tarikan napas. Iringan doa sejenak dan tak lupa mengucapkan alhamdulillah atas kelancaran proses ijab qobul. Dihadiri keluarga inti Kyai Abdullah dan keluarga besar Cika dalam proses ijab qobul itu.
Cika menatap langit-langit kamar saat ijab qobul sudah terucap, hatinya teriris sakit. Mencoba menerima semuanya, ia belum bisa yakin apakah dirinya menerima pernikahan ini. Beberapa kali menahan air mata namun, berkali-kali pula ia merasa gagal. Dengan gerakan cepat ia menghapusnya kemudian tersenyum pahit.
"Apakah ini takdirku ya Tuhan? Sungguh miris!" Bulir air mata Cika kembali luruh.
"Ayo kita keluar." Ustazah Laili yang baru masuk ke dalam kamar meraih tangan Cika, Ustazah Laili tersenyum tipis. Dia memang belum terlalu mengenal gadis di hadapannya itu namun, dia yakin Cika adalah gadis yang baik. Cika pura-pura tersenyum lalu mengangguk paham.
Netra hitam milik Ustaz Hafid jatuh pada gadis yang sudah sah menjadi istrinya yang sedang berjalan ke arahnya bersama adiknya. Tak terkecuali Ustaz Hafid seluruh tamu undangan yang hadir menatap penuh kagum pada mempelai wanita.
"Ini cincin kawinnya, Nak." Nyai Hana memberikan kotak bludru merah ke tangan putranya.
Ustaz Hafid menerimanya dengan antusias.
Cika menundukkan kepalanya, desiran aneh dirasakan saat Ustaz Hafid meraih tangannya. Ustaz Hafid saja berkeringat dingin memasangkan cincin itu di tangan gadis yang sudah sah menjadi istrinya itu.
Jantung Cika bertalu-talu tak karuan, bening air mata terus jatuh saat cincin berlian sudah terpasang di jari manisnya. Cika pun melakukan yang sama memasangkan cincin berlian di tangan suaminya.
__ADS_1
"Cium kening lagi Fid ...." Ustaz Andre berucap paling semangat dengan nada suara cukup keras, membuat tamu undangan tertawa kecil mendengarnya.
Ustaz Hafid menghela napas gugup. Jemari kokohnya menangkup wajah Cika. Kecupan di kening membuat jantung Cika bertalu-talu tak karuan lagi. Napasnya tersengal hebat merasakan benda kenyal masih setia menempel di keningnya.
Setelah Ustaz Hafid melepas ciuman di kening Cika, giliran Cika meraih punggung tangan Ustaz Hafid dan menciumnya. Cika hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Ustaz Hafid mengangkat perlahan dagu Cika, menghapus jejak air mata di pipi isteri kecilnya itu.
"Ana uhibbuki fillah, Clarissa Chika Ayudia."
Cika mengerutkan keningnya tidak paham apa yang diomongin oleh Ustaz Hafid barusan, dengan polos dia bertanya, "Artinya apa, Tadz?" tanyanya polos.
Ustaz Hafid tersenyum kecil karena merasa gemas sendiri, tangannya refleks menarik pipi gadis itu.
"Ustaz, sakit!" teriak Cika keras, sembari mengusap-usap pipinya.
"Nggak sengaja."
"Ayah lihat 'kan, baru beberapa detik jadi suami tuh ustaz udah nyubit pipi aku aja, Yah," aduh Cika, ia bangkit berdiri menghambur memeluk tubuh ayahnya. Dedi membalas pelukan putrinya itu. "Bagaimana kalau beberapa hari, Yah? Aku pasti dihukum terus, Ustaz Hafid mah kejam," aduhnya lagi dengan suara cukup keras.
Para tamu undangan kembali tertawa kecil mendengar aduan Cika.
__ADS_1
"Nggak akan, Sayang. Ustaz Hafid sudah menjadi suamimu sekarang, pasti akan baik. Hafid yang ayah bicarakan benar bukan?" tanya Dedi meminta persetujuan menantunya itu.
"Nggih, Yah."