Menikah Dengan Ustaz

Menikah Dengan Ustaz
Bab 16 : Tidak Siap Dipoligami


__ADS_3

Santri putri yang ada di dalam masjid mulai bubar setelah kegiatan di masjid ditutup. Ustaz Hafid menarik jilbab Cika dari arah belakang, membuat gadis yang sedang berjalan bersama Novi dan Dinda itu otomatis berhenti.


"Kalian boleh pergi," ucap Ustaz Hafid pada Dinda dan Novi.


Dinda dan Novi mengangguk paham, mereka berdua pergi dengan seribu tanda tanya mengenai apa hubungan Ustaz Hafid dan Cika. Ustazah Laili yang berjalan beriringan dengan kakaknya itu pun segera berlalu pergi setelah Ustaz Hafid memberikan isyarat.


"Apa sih, main tarik-tarik aja. Ustaz pikir aku apaan?" tanya Cika ketus. Ia tidak mau menatap Ustaz Hafid sama sekali. Ia segera memperbaiki hijabnya yang sedikit melorot ke belakang.


"Suka sekali bikin masalah, enggak bosan kena hukum terus?!" tanya Ustaz Hafid tak kalah ketus.


Ustaz Hafid menarik tangan Cika, ke tempat yang lebih aman. Yang bisa terhindar dari tatapan penghuni pesantren itu. Mengingat pernikahan mereka masih tertutup.


"Oh, Ustaz Hafid malu punya istri kayak aku? Siapa suruh juga Ustaz menikahi aku!" ujar Cika, ia mencoba melepaskan tangan Ustaz Hafid yang menarik lengannya seenak jidat.


Ustaz Hafid tidak menjawab. Sementara itu, Cika terus memberontak untuk melepaskan tangan Ustaz Hafid, "Aku lagi marah sama, Ustaz! Jangan pegang-pegang!" ucapnya. Dengan kasarnya ia menepis tangan Ustaz Hafid yang ingin menggenggam tangannya kembali. Masih terbesit sakit hati mengingat cerita Novi tadi pagi.


Ustaz Hafid mengembuskan napas panjang, "Ustaz punya salah apa?" tanyanya serius.


"Banyak sekali! Ustaz bikin aku malu terus. Jahat!" sahut Cika. Ia ingin melangkahkan kakinya untuk segera pergi dari hadapan Ustaz Hafid. Namun, secepat kilat Ustaz Hafid menahannya, "Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Tadz. Aku lagi malas bicara, enggak mau debat!" lanjutnya. Air mata Cika tiba-tiba saja luruh begitu saja, dadanya terasa sesak. Cerita Novi tentang Ustaz Hafid dan Ning Aisyah itu terus memenuhi pikirannya.

__ADS_1


Ustaz Hafid yang menyadari istri kecilnya itu menangis khawatir bukan main. Ia langsung menarik tubuh mungil Cika ke dalam dekapannya, walaupun mendapat penolakan dari istrinya itu.


Cika meluapkan kekesalannya dengan memukuli punggung Ustaz Hafid, lama kelamaan pukulan itu melemah hanya suara isakan tangis yang terdengar.


Ustaz Hafid mendorong tubuh Cika pelan, mengusap jejak air mata di pipi Cika dengan lembut. "Apa yang membuatmu menangis seperti ini? Jelasin ke ustadz, Cika, ada masalah apa?" pintanya dengan suara lembut.


Cika mendongakkan wajahnya, memberanikan diri menatap manik hitam milik Ustaz Hafid. "Aku cuma kecewa sama, Ustaz!"


Ustaz Hafid benar-benar tidak mengerti omongan Cika mengarah ke mana. Pria ini tampak frustrasi.


"Ustaz Hafid akan menikah lagi, 'kan?" tanya Cika mencoba memperjelas saat melihat raut kebingungan di wajah Ustaz Hafid. Dengan secepat kilat


Lama berpikir akhirnya Ustaz Hafid paham, ia berkata, "Nggak, kamu sudah menjadi istri ustaz satu-satunya sekarang dan selamanya. Bagi ustaz kamu sudah sangat sempurna, ya, walaupun otaknya agak gimana gitu."


"Ustaz, pikir aku gila, apa?" Cika bertanya sengit tidak terima dengan ucapan kalimat terakhir yang terucap di bibir pria itu.


"Eh, bukan gitu."


"Terus?"

__ADS_1


"Hem." Ustaz Hafid hanya berdehem menanggapinya membuat Cika kian kesal.


"Jelasin ke aku apa hubungan Ustaz sama sih Ning, Ning Aisyah itu sebenarnya?" tanya Cika penuh selidik.


Ia melipatkan kedua lengannya di depan dada. Meski, sudah tahu ceritanya dari kedua sahabatnya itu. Ia tetap ingin mendengar langsung dari mulut Ustaz Hafid.


Deg!


Mendengar pertanyaan itu raut wajah Ustaz Hafid langsung berubah.


Ustaz Hafid terdiam. Ini bukan waktu yang tepat untuk memberitahu kepada istrinya itu.


"Iya udah, kalau Ustaz nggak mau kasih tahu aku, nggak apa-apa kok. Ustaz tidak menjawab pasti benar, Ustaz akan menikah dengan Ning Aisyah itu," tutur Cika.


Cika mengeluarkan cincin yang terpasang di jari manisnya. Ia mencoba tersenyum tipis meski hatinya bagaikan dihantamkan batu besar. "Maaf, Tadz. Aku nggak siap dipoligami. Aku sadar, aku memang tidak pantas bersanding dengan Ustaz. Kalau Ustaz mau menikah lagi ceraikan aku dulu, aku ikhlas dan tentunya aku bahagia kok!" Cika memberikan cincin itu ke tangan Ustaz Hafid, gadis ini langsung berlari dari hadapan Ustaz Hafid dengan perasaan yang berkecamuk.


Ustaz Hafid hanya bisa menundukkan kepala, menatap cincin di tangannya. Ia mengusap wajahnya secara kasar. Baru satu hari saja pernikahan, istrinya itu sudah meminta diceraikan.


"Cika, semua butuh waktu bagi ustaz ...." gumamnya.

__ADS_1


__ADS_2