
Pagi ini. Di dalam asrama putri sangat berisik dan ribut. Ada salah satu santri putri kehilangan uang sakunya. Cika merasa tersudutkan saat mendengar cacian, demi cacian keluar dari mulut teman-temannya. Ia benar-benar tidak tahu kenapa bisa uang yang hilang itu ada di dalam lemarinya.
"Sejak dia pindah ke sini. Kita sering kehilangan barang-barang kita!" cibir Ayuni, dia ada kakak senior Cika dan dia juga yang kehilangan uangnya itu. Ayuni terus mencibir Cika tidak henti-hentinya.
Cika diam. Duduk memeluk lututnya di sudut ruangan itu. Semua orang menuduh dirinya pencuri, tatapan penuh kebencian diarahkan kepadanya.
Cika masih kebal dengan cibiran dari santri-santri lainnya, tetapi hatinya benar-benar hancur saat kedua sahabatnya sendiri ikut menuduh. Bening-bening air mata terus keluar dari pelupuk matanya. Di mana kepercayaan kedua sahabatnya itu?
"Kecewa sama kamu, Cika!"
"Kami nggak mau berteman dengan kamu lagi."
Ucapan Novi dan Dinda memenuhi pikiran Cika, ia mencoba membantah dan membela diri. Namun, tetap saja ucapan dirinya hanya dikatakan omong kosong.
Terkadang kita yang merasa dizolimi hanya bisa diam dan tersenyum. Kenapa? Yah, percuma menjelaskan kebenaran pada orang yang sudah dipengaruhi.
__ADS_1
"Betul, aku dengar-dengar, dia pindah ke sini juga karena nakal, pantas aja lah," sahut si teman Ayuni menimpali.
Cika bangkit berdiri, kondisi gadis ini sangat memprihatinkan. "Aku sudah bilang, tidak melakukan hal sekotor itu! Kenapa kalian semua menuduhku, sih?" tanyanya sedikit berteriak.
"Kami tidak menuduh, buktinya sudah ada. Uang itu ada di dalam lemari kamu. Siapa lagi kalau bukan kamu yang ambil. Mikir dong!" Ayuni terus mencaci Cika.
"Mana ada sih maling yang mau ngaku."
"Yups, betul tuh."
Brugh!
Tubuh Cika bertabrakan dengan Ustadz Hafid di ambang pintu. Ia berlari kembali dengan derai air mata, Ustaz Hafid segera mengejarnya.
Ustazah Laili yang memang berjalan beriringan dengan kakaknya masuk terlebih dahulu ke dalam asmara putri setelah mendapat laporan dari santriwati. Kasus ini akan diselesaikan secara baik.
__ADS_1
Cika berlari ke belakang gudang. Menumpahkan tangisannya di sana. Ia berteriak, menyuarakan isi hatinya yang benar-benar terluka.
"Semua orang di sini jahat!" Cika menyender punggungnya ke dinding gudang, perlahan-lahan tubuhnya merosot ke tanah.
Hati Ustaz Hafid benar-benar terluka melihat istri kecilnya itu menangis. Ustaz Hafid berjongkok, menarik tubuh mungil Cika ke dalam dekapannya.
Cika tidak memberontak, manik hitam miliknya menatap lekat wajah Ustaz Hafid. "Ustaz, percaya 'kan aku tidak melakukan itu?" tanyanya dengan sendu.
Ustaz Hafid mengangguk kecil. "Ustaz sangat percaya, kamu tidak mungkin melakukannya," sahutnya penuh keyakinan. Tangan Ustaz Hafid terangkat, menghapus jejak air mata di pipi Cika.
Cika mengeratkan pelukannya, tangisannya semakin tumpah dalam dekapan hangat suaminya itu.
Ustadz Hafid mengusap lembut punggung Cika, mencoba menenangkan. Suara tangisan istrinya itu tidak terdengar lagi, membuat Ustaz Hafid heran. Ia mendorong pelan tubuh Cika.
"Astagfirullahaladzim ...." Ustaz Hafid tidak menyadari bahwa Cika sudah tidak sadarkan diri di dalam dekapannya. Ia menepuk pelan pipi Cika berusaha menyadarkan istrinya itu, tetapi tidak ada respons.
__ADS_1
Dengan gerak cepat, ia segera menggendong tubuh Cika.