
Suara riuh tepuk tangan dan sorakan gembira terdengar dari para penonton yang memadati lapangan basket.
"Aku sudah bilang, Tim Kak Ivan pasti menang, Cika." Audy berucap semangat.
Gadis rambut sebahu itu, berlari kecil ke tengah lapangan. Kemudian, memberikan sebotol air mineral kepada kekasihnya.
Cika yang masih berdiri di tempatnya itu tersenyum kecut melihat adegan tersebut. Ia jadi tahu, penyebab sahabat lamanya itu menjadi lebih akrab dengan Ivan. "Cowoknya itu teman Kak Ivan, pantaslah," gumamnya.
"Aku pikir kamu nggak akan datang. Thanks, ya!" Suara Ivan terdengar ngos-ngosan. Tangannya bergerak mengusap lembut kepala Cika yang dibaluti jilbab itu.
Cika membalas dengan anggukan kepala. Ia mengambil sesuatu di dalam tas selempangnya.
"Buat Kak Ivan." Cika memberikan sapu tangan dan air mineral.
"Thanks." Ivan menerimanya antusias. Ia segera mengelapkan keringat di pelipisnya dan meminum air mineral itu.
"Ya." Cika menjawab pendek.
Awan hitam terlihat langit. Gemuruh petir pun mulai terdengar. Pertanda hujan sebentar lagi akan turun.
"Kamu pulang sama aku saja." Ivan menarik lengan Cika untuk ikut dengannya menuju parkiran. Walaupun mendapatkan penolakan dari Cika, ia tetap keukeh. Banyak tatapan tidak suka didapatkan oleh Cika dari teman-temannya SMA-nya dulu.
"Aku akan pulang dengan Audy, Kak." Cika melepaskan tangan Ivan dari lengannya.
"Cika, aku pulang duluan, ya." Audy melambaikan tangannya di atas motor sport milik kekasihnya itu. "Sorry, nggak bisa pulang bareng," lanjutnya.
Cika mengembuskan napas gusar. Audy memang tidak setia kawan, padahal mereka sudah berjanji. Pergi bersama, pulang pun harus bersama.
"Yakin, mau pulang sendirian? Sulit, lho, mencari kendaraan umum di jam dan situasi seperti ini?" Ivan bertanya meyakinkan.
Cika terdiam. Menimang-nimang. Apakah ia akan pulang dengan Ivan atau memilih jalan kaki? Terbesit rasa takut, melihat senyum terbit di bibir pria di hadapannya itu.
"Ustaz Hafid pasti marah nanti kalau aku pulang bareng sama Kak Ivan. Terus bagaimana nih?" Cika bergumam pelan.
__ADS_1
"Cika!" Suara panggilan keras di depan gerbang sana. Pria yang menggunakan masker dan topi hitam yang bertuliskan kalimat tauhid itu melambaikan tangannya.
Cika menoleh. Kemudian mengembuskan napas lega. Walaupun belum yakin, pria yang memanggil itu benar Ustaz Hafid atau bukan.
"Kak Ivan, kakakku datang jemput. Terima kasih tawarannya dan selamat atas juga atas kemenangan tim basket Kak Ivan," ucap Cika. Ia kembali melanjutkan, "Sampai jumpa."
Setelah mengatakan itu ia segera menghampiri pria yang menggunakan sepeda itu.
"Baiklah." Ivan menjawab dengan nada suara kecewa dari jauh. Ia memperhatikan punggung Cika yang berlari itu.
"Ini benar Ustadz Hafid, kan?" tanya Cika, ia masih ragu. Ia tidak terlalu mengenali wajah pria itu, karena menggunakan masker penutup wajah. Belum lagi topi hitam yang digunakan semakin menutupi wajahnya.
Ustaz Hafid terkekeh. Ia segera membuka masker. "Suami sendiri, masa nggak kenal, ayo naik sekarang sebelum hujan turun!" Ustaz Hafid memerintah. Ia menunjuk jok belakang sepeda agar istri kecilnya itu segera naik.
Cika masih mematung di tempatnya. Ia tidak berkedip memandang begitu sempurna makhluk ciptaan Tuhan di hadapannya itu.
"Hei, kenapa jadi melamun?" Ustaz Hafid menarik lembut pipi istri kecilnya itu.
Cika tersentak. "Iya, iya," jawabnya menuruti. Ia segera duduk di jok belakang sepeda.
Ustaz Hafid mulai mengayuh pedal sepeda pelan, seraya berkata, "Ustaz tahu dari ibu."
Cika mengangguk dari arah belakang.
"Terus kenapa, pakai sepeda? Kenapa nggak pakai motor?" Ia kembali bertanya.
"Hitung-hitung olahraga." Ustaz Hafid menjawab santai.
Tetesan air hujan mulai turun membasahi jalan. Ustaz Hafid semakin mengayuh sepedanya secepat ia bisa.
"Kita harus berteduh dulu sepertinya. Hujan semakin turun deras," ucap Ustadz Hafid, lebih ke sebuah saran.
"Nggak usah, Tadz. Terobos aja. Aku kebelet pipis juga," ucap Cika. Sebenarnya ia cukup malu mengatakan hal tersebut.
__ADS_1
"Nanti kamu sakit." Ustaz Hafid mengerem mendadak sepeda di bawah pohon.
"Ustaz, aku bilang terobos saja hujannya," ucap Cika kesal.
"Ustaz tahu. Sebentar dulu," jawab Ustaz Hafid.
Ia melepaskan sweater yang dipakai. Lalu, dipakaikan ke tubuh Cika. Dan kembali mengayuh sepedanya.
"Kalau kamu nggak tahan, pipis saja sekarang," ujarnya. "Ustaz juga kurang tahu daerah ini jadi nggak bisa menemukan dimana toilet," lanjutnya.
Suara Ustaz Hafid samar-samar bisa terdengar oleh Cika.
"Tapi malu, Tadz," jawab Cika dari arah belakang.
"Nggak akan ada yang lihat. Ini kan hujan. Yeah, walaupun hanya ustaz yang tahu." Ustaz Hafid menjawab dengan seulas senyum tipis.
Sesekali ia mengusap wajahnya. Agar pandangan tetap maksimal.
"Baiklah." Cika menuruti.
"Sudah pipisnya?" tanya Ustaz Hafid dengan suara menahan tawa.
Meski hujan Cika masih dapat mendengar suara menahan tawa itu.
"Sudah. Ustaz Hafid harus berjanji nggak akan memberitahu ibu dan ayah."
Ustaz Hafid kembali terkekeh. "Iya, sekarang pegangan. Ustaz akan mengayuh sepedanya lebih cepat. Supaya kita segera sampai rumah."
Dengan ragu. Cika memeluk pinggang Ustaz Hafid.
"Lebih erat, Sayang!" Ustaz Hafid tersenyum penuh kemenangan di depan.
Cika mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan perintah itu. "Huh! Ustaz Hafid mau cari kesempatan dalam kesempitan, ya?"
__ADS_1
"Nggak. Ustaz cuma khawatir kamu jatuh."
Cika tak berkata apa-apa lagi, ia mengeratkan pelukannya. Ia juga sudah merasa kedinginan. Kepalanya disandarkan ke punggung Ustaz Hafid. Sepeda berwarna hitam itu melesat cepat di tengah jalan. Membelah jalan raya yang cukup padat sore itu.