Menikah Dengan Ustaz

Menikah Dengan Ustaz
Bab 27 : Mengantar ke Bandara


__ADS_3

Pagi telah hadir, gelapnya malam telah diganti oleh sinar matahari. Para santri begitu sibuk, mereka melakukan bersih-bersih jum'at pagi ini. Ada yang bertugas memberikan kamar mandi, mengelap kaca jendela, mengepel lantai, menyapu dan masih banyak kegiatan bersih-bersih lainnya.


Cika dan kedua sahabatnya mendapat tugas untuk menyapu taman yang ada di depan asmara putri.


Ia menyapu dengan tidak semangat. Netranya menatap ke arah Ustaz Hafid yang sudah siap-siap untuk pergi.


"Vi, Din, misalnya kalian sudah punya suami nantinya. Apakah kalian berdua rela ditinggalin pergi?" tanya Cika terdengar begitu serius.


Novi dan Dinda mendongak kepalanya menatap lurus ke arah Cika. "Tumben nanya gituan?" tanya Novi heran.


"Pengin tahu saja, bagaimana perasaan kalian."


"Huum, ditinggalin pergi ke mana dulu?" Giliran Dinda bertanya.


"Ke luar negeri," jawab Cika cepat.


"Kalau aku sih, rela-rela aja. Asalkan jangan lama, takutnya berpaling," ucap Novi mengeluarkan pendapatnya.


Cika mendengar seksama. "Terus kamu, Din?" tanyanya kembali.


"Kalau aku, rela juga. Alasannya persis seperti Novi barusan, hehehe ....," sahut Dinda sembari cengir kuda.


Cika mengangguk kecil. Setelah obrolan pendek tersebut, ketiga gadis itu kembali serius menyelesaikan pekerjaannya.


"Assalamu'alaikum," salam Ustazah Laili.


Ia menghampiri Cika, Novi, dan Dinda yang sedang duduk di teras santri putri. Mereka bertiga baru saja selesai menyapu. Cukup lelah yang mereka rasakan.


"Wa'alaikumussalam," sahut mereka bertiga kompak.


"Cika ikut dengan ana sebentar," ujar Ustazah Laili.


Cika mengangguk kecil, menuruti perintah Ustazah Laili.


Ustazah Laili mengajak Cika untuk bertemu dengan kakak lelakinya. Setelah mengantarkan Cika, Ustazah Laili segera pergi. Meninggalkan kedua pasangan itu berdua.


"Cika, jaga dirimu baik-baik dan jangan nakal terus. Ustaz benar-benar minta maaf, ustaz harus tetap pergi," ucap Ustaz Hafid langsung ke inti pembicaraan, suaranya terdengar sendu. Pria ini juga tidak siap berpisah.


Cika meremas ujung jilbabnya, sungguh ia tidak mau berpisah dengan Ustaz Hafid. Air matanya ingin luruh dengan derasnya. Namun, ia mencoba menahan. Tidak mau terlihat cengeng saat ini.


"Iya." Singkat dan padat jawaban Cika.


Gadis ini hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia ingin melarang? Tetapi, sepertinya ia tidak punya hak untuk melarang suaminya itu lagi.


Buktinya saja kemarin, Ustaz Hafid malah membentak dirinya. Ia kembali berkata, "Hanya itu yang ingin Ustaz katakan? Iya sudah aku harus pergi ke asrama lagi. Aku harap Ustaz bisa meraih apa yang ingin Ustaz dapatkan. Semoga selamat sampai tujuan ...," Cika pergi dari hadapan Ustadz Hafid. Dadanya benar-benar terasa sesak

__ADS_1


Ustaz Hafid menahan tangan Cika, membuat gadis itu otomatis menghentikan langkahnya kembali.


"Ada apa lagi, Ustaz?" tanya Cika agak ketus.


Ustaz Hafid mencakup pipi Cika. "Nggak mau anterin ustaz sampai bandara?" tanyanya dengan suara lembut, namun terdengar penuh permohonan.


Cika terdiam sesaat. Manik hitamnya mulai berair. Namun, Cika mencoba menahannya agar tidak terjatuh.


"Cika, mau?" tanya Ustaz Hafid lagi.


Tak berselang lama Cika menganguk antusias pertanda setuju.


"Senyum, jelek kalau mayun seperti ini, lho," goda Ustaz Hafid menarik kedua pipi Cika dengan lembut. Ia mencoba menghibur istri kecilnya itu.


Sudut bibir Cika tertarik. Ia memeluk lengan Ustaz Hafid dengan manja. "Sudah cantik nggak?" tanyanya antusias.


"Iya." Ustaz Hafid tersenyum lebar, ia


menggenggam tangan Cika.


Mereka berdua berjalan beriringan dengan tangan saling menggenggam satu sama lain.


Setelah berpamitan dengan keluarganya, Ustaz Hafid segera masuk ke dalam mobil.


Ustaz Andre yang menyetir mobil di depan, sementara ia dan Cika duduk di kursi belakang.


Cika menyandarkan kepalanya di bahu suaminya itu. "Ustaz, jangan selingkuh di sana, ya," ucap Cika. Ia takut Ustaz Hafid berpaling seperti kata Novi dan Dinda.


Ustaz Hafid terkekeh mendengarnya, mana bisa ia selingkuh. Hatinya saja sudah sepenuhnya milik istrinya kecil itu. Ia menarik kepala Cika ke dalam dekapannya. "Nggak akan," ucapnya.


Ustadz Hafid menggenggam kembali tangan Cika, sesekali ia mencium punggung tangan istri kecilnya itu. "Kamu jangan nakal-nakal lagi selama ustaz tinggal."


Cika salah tingkah. Mal, ketika Ustaz Hafid mencium tangannya.


"Masih ada aku disini, Fid. Jaga sikap lah," celetuk Ustaz Andre dari depan. Melihat keromantisan kedua pasangan itu membuat dia iri.


"Maaf, Ndre. Lupa," sahut Ustaz Hafid tersenyum kikuk.


Tidak lama kemudian, mobil sedan hitam itu sampai di bandara.


Ustaz Hafid segera turun, mengambil kopernya di bagasi mobil. Istri kecilnya itu sudah kembali bersedih, membuat ia semakin berat meninggalkannya.


"Kalau rindu sama ustaz, lihat saja tasbih yang kamu ambil itu dan sering-sering berdoa."


"Hmm." Cika hanya berdehem lemah.

__ADS_1


Ustaz Hafid mengusap lembut kepala Cika yang dibaluti jilbab itu. "Kamu harus sekolah, Cika."


"Assalamu'alaikum," salam wanita yang menggunakan pakaian serba hitam itu. Dia menarik kopernya berjalan mendekat ke arah Ustaz Hafid. Kehadirannya membuat Cika cukup tidak suka.


"Wa'alaikumussalam," sahut Ustaz Hafid.


"Aisyah, anti juga pergi?" tanya Ustaz Andre penasaran. Ustaz Andre tidak sepenuhnya menatap Aisyah, demi menjaga pandangan dari yang bukan mahromnya.


Aisyah tersenyum tipis. "Na'am, akhi."


Cika menarik tangan Ustaz Hafid untuk menjauh dari Aisyah.


"Kok Ustaz pergi sama Ning Aisyah itu, sih?" tanya Cika dengan suara tidak bersahabat. Raut kecemburuan terlihat sekali di wajahnya.


"Kebetulan saja, Cika."


Cika menggelengkan kepalanya. "Ustaz, sepertinya berbohong sama aku! Ada hubungan apa Ustaz sama dia? Kok harus bareng juga?" Cika bertanya beruntun.


"Ustaz sudah pernah bilang tidak ada hubungan apa pun, Cika. Percaya sama ustaz."


"Fid, ayo kita pergi, sebentar lagi pesawat kita—" Ucapan Aisyah terpotong.


"Kamu duluan masuknya, Syah," potong Ustadz Hafid cepat.


Cika benar-benar semakin cemburu. Apalagi setelah mendengar panggilan 'kita' dari Aisyah. Dan panggilan Ustaz Hafid kepada wanita itu. Terdengar sangat akrab antara suaminya dengan Aisyah itu.


"Ustaz Andre, ayo kita balik." Cika langsung masuk ke dalam mobil kembali. Menutup pintu mobil dengan keras.


Ustaz Hafid mengembuskan napas panjang melihat tingkah Cika.


"Semoga selamat sampai tujuan, Fid," ucap Ustaz Andre sembari menepuk pelan pundak sahabatnya itu.


Ustaz Hafid hanya membalas dengan anggukan kecil. Ia memandang Cika.


Dengan secepat kilat Cika menutup kaca mobil. Tidak mau berkata-kata apa-apa lagi.


"Aku pergi duluan, Ndre. Titip Cika, ya. Assalamu'alaikum ...," pamit Ustaz Hafid.


"Wa'alaikumussalam."


Ustaz Hafid menarik tuas kopernya, ada rasa bersalah meninggalkan Cika dalam situasi menegang seperti saat ini.


*


*

__ADS_1


*


Tinggalkan jejak, ya, teman-teman. Agar author semangat untuk updatenya, terima kasih:)


__ADS_2