
Tidak mau mengambil pusing dengan arti surat itu, Cika langsung membuang kertas itu ke tempat sampah. Ia sedikit penasaran, tetapi rasa kesal terhadap Ustaz Hafid sekarang lebih mendominasi dirinya.
Ia berjalan dengan malas-malasan menuju asrama putri. Setelah tiba ia langsung duduk di sisi ranjang, menekuk wajahnya. Ekor matanya melirik ke arah Novi dan Dinda yang hendak keluar setelah dirinya masuk, karena ia cukup tidak suka diabaikan begitu saja dalam waktu cukup lama oleh kedua sahabatnya, ia langsung berdiri menghalau jalan mereka.
"Vi, Din." Cika berucap ramah, tetapi kedua sahabatnya itu enggan untuk menyapa balik, malah membuang wajah ke arah lain. Tak mau menyerah begitu saja, ia kembali melanjutkan, "Katanya selalu bersama dan nggak boleh marah-marahan terlalu lama, lalu ... ini apa maksudnya? Mana janji kalian berdua waktu itu? Kalian berdua cuek sama aku dua minggu ini karena nikah sama Ustaz Hafid?" ucapnya, dengan dada terasa sesak. Mata Cika tampak berkaca-kaca. Ia mengingat janji mereka bertiga pada awal ia masuk ke pesantren.
Novi dan Dinda masih tidak merespons.
"Vi, Din. Kalian berdua harus tahu, aku sebenarnya tidak menginginkan pernikahan ini. Menikah muda? Itu tidak pernah terlintas dalam benakku selama ini. Aku sangat ingin meraih cita-citaku, menikmati masa remajaku ini lebih panjang. Namun, semuanya sudah pupus di tengah jalan ....," jelas Cika dengan nada suara pelan. Ia menjatuhkan bobot tubuhnya kembali di bibir ranjang. Air mata yang sedari tadi meronta akhirnya keluar juga, ia tidak dapat lagi menahannya.
Novi dan Dinda menghambur memeluk tubuh Cika, mereka berdua ikut menangis. Merasakan kesedihan dari sahabatnya itu.
"Maaf ya, Cika. Kami berdua memang egois, kami minta maaf," ucap Novi disela-sela tangisannya.
Cika mengelap air matanya, tidak mau terlihat cengeng.
"Padahal kami tahu kalau jodoh itu sudah menjadi takdir-Nya. Kami memang benar-benar bodoh dan mengikuti hawa napsu semata, gara-gara kami mengangumi Ustaz Hafid berlebihan. Hampir saja persahabatan kita hancur," celetuk Dinda, dengan derai air mata di pipinya.
__ADS_1
Tak lama senyum terbit di bibir Cika. Ia mendorong pelan tubuh keduanya sahabatnya itu. "Janji nggak akan marah-marahan lagi, ya." Cika mengangkat jari kelingkingnya.
Novi dan Dinda mengangkat juga jari kelingkingnya. "Janji!" sahut keduanya serentak dan penuh semangat.
Mereka bertiga kembali berpelukan.
"Vi, lihat ini!" Cika menunjuk ingus Novi yang menempel di khirmarnya, "Ih, jijik tahu," lanjutnya lagi, lalu melepaskan khirmarnya itu.
Novi cengir kuda menanggapinya. "Hehehe ... sorry Cika. Nggak sengaja."
"Novi suka gitu kalau nangis, selalu keluar ingusnya. Kayak adik aku aja." Dinda menimpali, terkekeh kecil melihat ekspresi wajah Cika.
Cika melemparkan jilbabnya itu ke tangan Novi. "Cuci sampai bersih, titik!"
"Oke, tenang aja," sahut Novi santai masih agak malu.
Ada pertanyaan yang terbesit dalam benak Novi dan Dinda selama dua minggu ini. Mereka berdua sangat ingin menanyakan kepada Cika.
__ADS_1
"Cika jawab jujur, ya, kamu sudah pernah melakukan hubungan anu-anu dengan Ustaz Hafid?" Dinda dan Novi bertanya semangat.
Cika mengerutkan kedua dahinya, awalnya ia tidak mengerti omongan Dinda dan Novi mengarah ke mana, tetapi setelah beberapa saat ia berpikir ia paham dan mengerti.
"Anu-anu apaaan? Aku nggak ngerti. Kalau bertanya itu jelas dong," jawab Cika, pura-pura polos.
"Din, jelaskan," pinta Novi.
Dinda mengambil napas dalam-dalam sebelum menjabarkan pertanyaan itu. Agar mudah dimengerti dan dicernai oleh otak Cika. "Gini, kamu 'kan nikah sama Ustaz Hafid. Malamnya pasti kamu memenuhi hak batin gitu–"
"Malam pertama bagi pengantin Cika, kata ibuku, malam itu sangat ditunggu-tunggu oleh seorang pengantin baru. Kamu pernahkah mengalaminya?" sambung Novi mencoba menjelaskan.
Rasanya Cika ingin tertawa keras mendengar ucapan-ucapan kedua sahabatnya itu. Aktingnya terus berlanjut. Ia pura-pura terlihat pusing dengan penjelasan kedua sahabatnya itu, kemudian dengan polosnya lagi ia bertanya kembali, "Apa hubungannya menikah dengan malam, malam apa itu namanya?"
"Malam pertama, Cika!" jawab Dinda.
"Kamu berpura-pura polos atau gimana? Padahal kami anak MIPA, Cika," cibir Novi.
__ADS_1
Cika mengerucutkan bibirnya. "Udah, ah. Aku tetap nggak ngerti, nanti aku tanyain langsung ke Ustaz Hafid pernyataan kalian itu. Siapa tahu Ustaz Hafid tahu. Kalau kalian sangat ingin tahu, kalian bisa juga tanya ke Ustaz Hafid langsung."
Ia berjalan santai, menuju kamar mandi. Dan sampainya di sana tawanya langsung lepas. "Akting aku menjadi anak polos bagus juga ternyata, hahaha. Siapa suruh Novi dan Dinda bertanya sampai hal intim seperti itu," gumamnya terus tertawa sendiri. Beberapa detik kemudian ia berhenti tertawa, ia kembali berpikir sesuatu, "Apa melakukan hubungan itu enak?" tanyanya begitu penasaran. "Astaga apa yang kupikirkan!" ucapnya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.