Menikah Dengan Ustaz

Menikah Dengan Ustaz
Bab 23 : Kebenaran Terungkap


__ADS_3

"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Ustaz Hafid saat dokter itu selesai memeriksa kondisi Cika. Ia memutuskan memangil dokter untuk datang ke pesantren.


Nyai Hana dan Kyai Abdullah ikut khawatir, keduanya menunggu jawaban dari dokter berjilbab itu.


"Kondisinya baik-baik saja. Pasien cukup kelelahan saja. Tidak perlu khawatir, Kyai, Bu Nyai," sahut dokter berjilbab itu tersenyum tipis sembari memasukkan alat-alat yang dibawa ke dalam tasnya kembali.


Mereka semua mengucapkan alhamdullah mendengar kabar itu.


"Terus kenapa belum siuman, Dok?" Nyai Hana bertanya kembali, wanita paruh baya ini benar-benar takut terjadi apa-apa dengan menantunya.


"Sebentar lagi akan siuman, Bu. Saya sarankan jangan biarkan pasien kelelahan, karena daya tahan tubuhnya cukup lemah."


Nyai Hana mengangguk paham.


Setelah mengantarkan dokter itu ke depan, Ustaz Hafid kembali lagi ke dalam kamarnya. Ia menyelimuti tubuh Cika itu.


"Ummi pikir Cika hamil, Nak." Terdengar suara Nyai Hana, wanita paruh baya itu duduk di samping Ustaz Hafid.


Ustaz Hafid tersenyum tipis, seraya berkata, "Mana mungkin Cika bisa hamil Ummi ...."

__ADS_1


"Siapa tahu, pernikahan kalian juga sudah hampir satu bulan. Ummi dan abah juga nggak sabar gendong cucu, Fid." Nyai Hana memotong cepat pembicaraan putranya itu. Sangat tidak sabar baginya menggendong seorang cucu.


Ustaz Hafid tampak bingung. "Bilangin ke menantu Ummi dulu," sahutnya agak malu-malu.


Nyai Hana tersenyum kecil melihat raut wajah Ustaz Hafid yang salah tingkah.


"Ummi sekarang mengerti, kamu belum melakukan apa pun dengan Cika?" tanya Nyai Hana menggoda putranya itu.


Ustaz Hafid menjawab hanya dengan anggukan kecil. Membuat tawa Nyai Hana lepas.


"Kenapa, Ummi. Ada yang lucu?" tanya Ustaz Hafid.


"Tidak apa-apa, ummi mau bikin bubur buat Cika dulu." Nyai Hana beringsut bangkit. Senyum kecil terus terpancar di wajahnya.


...•••...


Ustazah Laili dan Ustaz Andre akhirnya menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi di asrama putri tentang siapa dalang atas kehilangan uang salah satu santri tadi pagi.


Sudah terbukti jelas bahwa Cika tidak salah sama sekali dalam hal ini. Ia hanya korban fitnah dari salah satu santri putri yang tidak menyukainya, tak lain Ayuni itu sendiri yang menaruh uangnya ke lemari Cika.

__ADS_1


"Besok seluruh santri yang menghina dan menuduh Cika tadi pagi, akan minta maaf, Kak. Mereka semua merasa bersalah dan menyesal," tutur Ustazah Laili yang baru masuk dalam rumah itu. Ia mendudukkan tubuhnya di samping Ustaz Hafid.


Ustaz Hafid menoleh, mengembuskan napas lega mendengar kabar baik itu bahwa Cika tak salah, hanya korban fitnah. "Syukurlah, kebenaran terungkap. Setidaknya kakak bisa tenang untuk pergi besok," jawabnya.


Ustazah Laili mengerutkan keningnya, melihat wajah sedih dari kakak lelakinya itu. "Kak Hafid, akan tetap pergi?"


"Nggih."


"Sudah bilang sama Cika?"


"Belum. Nanti setelah dia siuman akan kakak bicarakan."


"Semoga saja Cika bisa mengerti, ada kami di sini yang menjaganya. Kak Hafid tidak usah khawatir."


Ustaz Hafid menyungging senyum simpul, kemudian mengusap lembut kepala adik perempuannya itu yang dibaluti khirmar.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa tinggalkan jejak, ya. Terima kasih 🖤


__ADS_2