
"Perutku sakit!" Cika merintih kesakitan saat berjalan menuju kelas. Ia menunduk memegang perutnya. Novi dan Dinda yang berjalan beriringan dengan Cika otomatis menghentikan langkahnya.
"Cika, kamu belum sarapan pagi ini." Dinda tampak khawatir, saat Cika semakin menjerit kesakitan.
"Kamu keras kepala, sih, Cika, nggak mau sarapan."
"Bukan saatnya menyalahkan Cika, minta bantuan cepat, Vi!" suruh Dinda, dia segera memangku kepala Cika yang sudah nyaris tidak sadarkan diri itu.
Novi berlarian kecil, kebetulan tak sengaja dia berpapasan dengan Ustaz Hafid saat menuju ke UKS.
"Assalamu'alaikum, Ustaz," salam Novi sopan dan tetap menjaga jarak.
"Wa'alaikumussalam. Kenapa kamu seperti sangat panik?" Ustaz Hafid bertanya heran.
Novi gugup, dia mengambil napas dalam-dalam. "Afwan, Ustaz. Tolong bantu teman saya. Dia pingsan di sana!" Novi menunjuk ke arah Cika dan Dinda yang tidak jauh darinya.
"Innalilahi ...."
Afwan \= bisa diartikan sebagai permintaan maaf atau dalam konteks lain balasan dari kata terima kasih yaitu sama-sama.
__ADS_1
...***...
"Penyakit maag pasien kambuh, tolong atur pola makannya," ujar dokter pada Ustazah Laili dan Ustaz Hafid yang menjadi perwakilan dari pihak pesantren membawa Cika ke rumah sakit.
"Apa perlu pasien rawat inap, Dok?" tanya Ustadzah Laili.
"Tidak perlu, Bu. Pasien bisa pulang hari ini. Hanya perlu istirahat dan mengatur pola makan saja. Saya akan memberikan resep obat," jawab dokter.
Setelah berbicara panjang dengan dokter mereka keluar dari ruangan dokter tersebut.
"Kita nggak menghubungi keluarganya, Kak?" tanya wanita berjilbab lebar itu, meminta pendapat kakaknya yang tak lain Ustaz Hafid.
"Na'am, Kak," sahut Ustazah Laili menuruti.
Na'am \= iya
***
"Inilah akibat berbohong, apa yang kamu ucapkan pada dasarnya doa. Dan, doa kamu dijabah sama Allah," ucap Ustaz Hafid membuka keheningan yang terjadi di dalam mobil.
__ADS_1
"Nggak gitu juga konsepnya, Ustaz! Aku memang ada penyakit maag kok. Jangan kait-kaitkan dengan doa dan Tuhan!" jawab Cika tidak terima. Ia kembali melanjutkan, "Menyindir dengan gaya, ya?" ucapnya lagi terkekeh yang terdengar menjengkelkan.
Ustazah Laili hanya diam menyimak, perdebatan yang mulai terjadi di dalam mobil itu.
"Nggak, ustaz hanya mengingatkan, berbohong itu tidak baik dan mendapatkan dosa dari Allah. Santri baru suka sekali bikin masalah. Ini baru satu hari, kasus pelanggaran yang kamu buat sudah sepuluh kasus. Astaghfirullah ...." Ustaz Hafid yang duduk di samping sopir itu mengelus dada dan menggelengkan kepalanya. Istighfar terus terucap di bibir pria yang menggunakan baju koko itu.
"Oh!" Cika menjawab acuh. Melipatkan kedua lengannya di depan dada. "Aku pemecah rekor dong sebagai santri baru! Bagus dong kalau gitu," ucapnya kembali dengan sangat bangga sekali. Seolah-olah apa yang dilakukan adalah sebuah prestasi yang memang patut dibanggakan.
"Bagus dimananya?"
Cika menutup telinga dengan pertanyaan dari Ustaz Hafid barusan, ia kembali berkata dengan sangat semangat. "Aku sangat senang jika Ustaz melaporkan kepada kedua orang tuaku. Mereka pasti turut bangga," ujarnya.
"Subhanallah anak ini ...." Ustaz Hafid terus mengelus dada.
"Beneran, Ustaz. Telepon kedua orang tuaku sekarang juga, biar aku saja yang mengatakannya sekalian!" ucapnya lebih ke sebuah instruksi. Sangat semangat sekali.
"Tidak akan. Ini akal-akalan kamu saja supaya bisa keluar dari pesantren, kan?"
Cika bergumam kesal, niat terselebungnya berhasil diketahui oleh ustaz itu. "Mana ada!" balasnya membela diri. Ia kembali melanjutkan, "Jadi Ustaz kok suuzon?"
__ADS_1
Skakmat. Akhirnya ia bisa menang berdebat dengan ustaz yang menurutnya kejam itu. Dan ia pun cekikikan sendiri.