
Pukul 02.30 Ustaz Hafid segera beringsut bangkit dari tidurnya untuk melaksanakan salat malam (tahajud), tak lupa pria ini membaca doa bangun tidur. Ia melirik ke arah sampingnya terlihat Cika yang masih tertidur pulas. Pria ini menyunggingkan senyum tipis, wajah Cika terlihat sangat lucu saat tertidur.
"Cika, bangun gih ...." Ustaz Hafid mengusap lembut pipi Cika. Menggoyang pelan tubuh isteri kecilnya itu agar cepat bangun.
Mendapat sentuhan lembut itu, Cika menggeliatkan tubuhnya pelan.
"Masih ngantuk," jawab Cika dengan suara parau, matanya masih terpejam. Ia menarik selimut berniat melanjutkan tidurnya lagi.
Tangan Ustaz Hafid bergerak menahan selimut Cika. "Kalau nggak bangun ustaz cium, lho," bisik menggoda Ustaz Hafid di daun telinga Cika.
Cika yang mendengar itu spontan langsung membuka kedua bola matanya dan duduk, bisikan Ustaz Hafid barusan bagaikan ancaman bagi dirinya. Ia menatap sangar wajah Ustaz Hafid yang sudah tertawa cengengesan. "Dasar Ustaz mesum!" umpat Cika, mendorong tubuh Ustaz Hafid di sampingnya untuk jauh-jauh dari tubuhnya.
Ia tidak segan-segan mencubit pinggang Ustaz Hafid, membuat pria itu merintih kesakitan. "Berani Ustaz melakukan itu, siap-siap aja aku tonjok!" Cika mengangkat kepalan tangannya, berniat mengancam Ustaz Hafid.
Ustaz Hafid memainkan kedua alisnya, entah kenapa ia jadi senang menjahili gadis yang sudah sah sebagai isterinya itu. "Nggak takut," kata Ustaz Hafid menantang.
"Ihhh ... nyebelin juga punya suami!" Cika menarik rambut Ustaz Hafid, mengacak-acaknya dengan penuh rasa kesal. Karena kekurangan seimbang tubuh Ustaz Hafid jatuh di atas tubuh Cika.
Pupil mata Cika membesar, darahnya seakan berhenti mengalir saat wajah dirinya sangat dekat dengan Ustaz Hafid.
Keduanya terdiam sejenak, menatap satu sama lain. Iris hitam milik Cika sangat meneduhkan untuk dipandang, membuat Ustaz Hafid tidak ingin melepaskan pandangannya.
__ADS_1
"Ustaz, jangan cari kesempatan, deh!" Cika kembali mendorong tubuh Ustaz Hafid secara kasar. Ia segera bangkit berdiri, mengatur mimik wajahnya.
Ustaz Hafid hanya cengir kuda, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Siapa yang cari kesempatan? Ustaz nggak sengaja juga jatuh, kamu saja yang jahil," ucapnya membela diri tidak terima disalahkan oleh Cika.
"Oh, benarkah? Ustaz tetap salah. Cari kesempatan ingin meluk aku, 'kan?" Sungut Cika tak mau mengalah. "Huh ...." Dengus Cika kesal lagi.
"Ustaz tidak ingin berdebat lagi, cepat ambil air wudhu sana." Ustaz Hafid memilih mengalah, berdebat dengan Cika tidak akan selesai sampai subuh pun. Ia juga takut keributan di kamarnya terdengar oleh abah dan umminya.
Cika mengembungkan kedua pipinya. "Iya, iya, cerewet banget," sahutnya, ia mengentakkan kakinya malas untuk mengambil wudhu. Ia masih sangat dan sangat mengantuk.
...***...
Cika menggelar sajadah di belakang Ustaz Hafid. Salat sunah tahajud berjalan khusyuk antara kedua pasangan tersebut.
Ustadz Hafid menciumi ubun-ubun Cika sembari berdoa,
بَارَكَ اللَّهُ لِكُلٍّ مِنَّا فِي صَاحِبِهِ
Artinya : Semoga Allah memberi keberkahan masing-masing dari kita dalam permasalahan pasangan.
Cika hanya bisa tersipu malu diperlakukan demikian, detak jantungnya kembali tidak karuan.
__ADS_1
"Ustaz akan ajarin kamu baca Al-Qur'an sebentar, ya." Ustadz Hafid bangkit berdiri mengambil mushaf di dalam lemari. Dan kembali lagi duduk ke tempat semula yaitu di hadapan Cika.
"Tapi, Tadz. Aku ngantuk," keluh Cika merengek.
Ustaz Hafid tersenyum tipis. "Nggak baik mengeluh terus, sekarang cepat buka Al-Qur'annya," titahnya.
Cika hanya mengangguk malas. Ia membaca surah Al-fatihah sebelum memulai membaca surah Al-Baqarah.
"Alif lam mim ...." Ayat pertama terucap di bibir Cika.
"Berhenti dulu," cegah Ustaz Hafid. Ia mendorong pelan kening Cika dengan telunjuknya. Membuat si empu meringis, "Jahat banget sih, sakit, Tadz." Cika mengusap-usap keningnya.
"Penempatan tajwid masih salah!"
"Mana aku tahu," jawab Cika ketus.
"Pada ayat itu nama hukum tajwidnya adalah mad lazim harfi musyba'. Mad ini terjadi pada huruf yang terletak pada permulaan surat. Huruf tersebut mempunyai 3 ejaan huruf. Huruf tengahnya huruf mad dan huruf ketiga mati asli. Dan panjangnya adalah 6 harakat," jelas ustadz Hafid panjang lebar. "Kamu sudah mengerti, 'kan?
"Nggak ngerti," sahut Cika, ia bangkit berdiri. Kesal.
Ia kembali menguap beberapa kali, kantuknya sudah tidak dapat ditahan lagi, "Besoklah, Tadz. Aku ngantuk berat, nih." Cika melepaskan mukenanya dan langsung selonjoran di kasur empuk.
__ADS_1
"Astagfirullah, kamu belum baca apa-apa Cika." Ustaz Hafid mengelus dadanya, pria ini harus mempunyai kesabarannya yang ekstra untuk menghadapi sikap istri kecilnya itu.
Cika yang mendengar hal tersebut langsung menutup wajahnya dengan bantal guling, menghindari omelan Ustaz Hafid. Suaminya itu persis sekali dengan kedua orang tuanya yang selalu saja mengomeli dirinya tidak jelas. Sementara itu, Ustaz Hafid, memilih murojaah hafalannya.