Menikah Dengan Ustaz

Menikah Dengan Ustaz
Bab 29 : Terbongkar Semuanya


__ADS_3

Cika sudah tiba di pesantren. Gadis ini membagikan camilan yang dibeli kepada santriwati lainnya. Ia tidak mungkin juga bisa menghabiskan semuanya.


Ia celingak-celinguk di dalam asmara, mencari keberadaan kedua sahabatnya, tetapi ia belum melihat kemunculan kedua sahabatnya itu.


"Lihat Novi dan Dinda nggak?" tanya Cika pada salah satu temannya yang satu asrama dengan dirinya.


"Kalau nggak salah ada di UKS Cika, mereka berdua pingsan tadi," sahutnya.


"Kok bisa pingsan bersamaan, sih?" tanya Cika khawatir dan heran juga.


"Kurang tahu aku."


Setelah selesai bertanya, ia cepat-cepat berjalan secepat mungkin menuju UKS yang ada di pesantren.


Dan iya langsung tertawa terbahak-bahak saat tiba di ambang pintu. "Kenapa kalian berdua, hahaha ...." Cika masih dengan elak tawanya. Gadis ini sangat merasa lucu melihat mata Dinda dan Novi yang sembap.


Novi dan Dinda masih menangis sesenggukan. Kehadiran Cika makin membuat hati mereka sakit.


Cika akhirnya menghentikan tawanya, ia ikut terbawa suasana, melihat kedua sahabatnya menangis.


Ia mendudukkan tubuhnya di samping Dinda. "Kalian berdua punya masalah apa? Kok nangis gini sih?" tanyanya serius.


Dinda dan Novi tidak menjawab. Keduanya masih terisak. Tissue berserakan di mana-mana di ruangan tersebut.


"Vi, Din, jawab dong. Jangan bikin aku khawatir." Cika sudah mulai kesal karena merasa ia dikacangi.


Novi menghela napas panjang. Menghapus jejak air mata di pipinya. "Ada hubungan apa kamu dengan Ustaz Hafid?" Novi bertanya langsung ke inti pembicaraan.


Deg!


Jantung Cika terasa mau copot mendengar pertanyaan tersebut. Ia mengigit bibir bawahnya, jangan sampai semuanya terbongkar.


"Kami melihat kamu tadi pegang-pegang tangan sama Ustaz Hafid, jawab jujur sekarang, Cika." Kini Dinda membuka suara.


Novi berpindah duduk ke samping Cika. "Jawab Cika!" pinta Novi lagi, saat Cika masih terdiam.

__ADS_1


Pada saat Ustazah Laili memangil Cika, Dinda dan Novi mengikuti dari belakang diam-diam. Mereka berdua terlalu penasaran apa hubungan Cika dan Ustazah Laili, saat melihat kedekatan antara keduanya.


Sampai akhirnya, mereka berdua mengikuti sampai belakang perpustakaan saja. Mereka berdua dapat melihat jelas Cika dan Ustaz Hafid yang ada di belakang ndalem.


Hati mereka berdua hancur, melihat Ustaz Hafid menggengam tangan Cika. Percakapan antara Cika dan Ustadz Hafid tidak terlalu mereka dengar, karena jarak tempat mereka berdiri cukup jauh pada saat itu dan pada saat itu juga keduanya langsung tidak sadarkan diri.


Cika mengigit bibir bawahnya, apakah ia harus jujur dan mengatakan semuanya sekarang? Atau tetap merahasiakan semuanya?


"Huum ... a--ku nggak ada hubungan apa-apa kok dengan Ustaz Hafid. Kalian salah lihat mungkin," jawab Cika mencoba berbohong, tetapi sepertinya kali ini ia tidak bisa mengelak lagi.


"Mata kami nggak rabun Cika, nggak usah ngeles deh," ucap Novi ketus.


"Iya betul kata, Vi. Jujur sekarang, Cika!" Dinda menimpali. Dia menggoyangkan lengan Cika.


"Anu, an—"


"Anu apaan, Cika?" Dinda dan Novi bertanya kompak, keduanya merasa geram dengan Cika yang sangat bertele-tele.


Hening disela-sela obrolan mereka.


Ia sudah mengambil keputusan untuk membiarkan kedua sahabatnya itu mengetahui bahwa ia menikah dengan Ustaz Hafid. Toh, ujung-ujungnya juga akan diketahui juga.


Novi dan Dinda menangis kembali setelah mendengar kenyataan tersebut. Harapan ingin memiliki suami idaman sudah pupus ditengah jalan. Mereka merasakan sakit, tetapi tidak berdarah.


"Kapan kamu nikah?"


"Kenapa kamu bisa nikah dengan Ustaz Hafid?"


"Jelas-jelas kami sudah kagum sejak dulu sama Ustaz Hafid. "


"Kenapa harus menikah dengan kamu sih?!"


"Bukannya kamu bilang sendiri nggak mau sama Ustaz Hafid?"


Pertanyaan bertubi-tubi keluar dari bibir Novi dan Dinda.

__ADS_1


"Mana aku tahu, mungkin ini sudah takdir. Semua sudah terjadi, sudahlah kalian harus hilangkan perasaan cinta kalian pada Ustaz Hafid," ucap Cika. Ia melipatkan kedua lengannya di depan dada, dan kembali melanjutkan, "Dia sekarang, suamiku."


"Nggak bisa, Cika! Tidak semudah membalikkan telapak tangan kami melupakan Ustaz Hafid," jawab Dinda dengan isak tangisannya.


"Jahat ... jahat kamu Cika!" Novi benar-benar tidak terima.


"Aku nggak jahat, kalau kalian mau marah. Jangan marah sama aku, noh marah sama Ustaz Hafid saja, dia saja yang paksa aku untuk nikah." Cika bangkit berdiri, kupingnya merasa sakit mendengar Novi dan Dinda yang melontarkan pertanyaan bertubi-tubi.


......................


Remang-remang cahaya jingga mulai menguar dari langit. Sang raja siang pun perlahan tenggelam di ufuk barat. Rembulan bersiap menggantikan posisinya, merajai langit malam, ditemani kerlip gemintang.


Cika berjalan sendirian menuju masjid dengan sajadah di tangannya. Kedua sahabatnya itu masih marah dan masih juga menerima kenyataan bahwa ia menikah dengan Ustaz Hafid. Cika mencoba memaklumi sikap kedua sahabatnya itu.


"Ustaz Andre," panggil Cika dari arah belakang.


Ustaz Andre menghentikan langkahnya. "Ada apa?"


"Ustaz Hafid sudah sampai di Mesir atau belum?" Cika bertanya balik.


"Sepertinya belum, karena yang ustaz tahu perjalanan dari Indonesia ke Mesir menempuh waktu tiga belas jam lebih," jawab Ustaz Andre mencoba menjelaskan.


Cika mengembuskan napas panjang. "Lama juga," ucapnya dengan nada suara sedih. Ia sekarang tiba-tiba rindu mendengar suara Ustaz Hafid. Apalagi suara adzan-nya yang merdu, yang mampu membuat ia terhipnotis mendengarnya.


Ustaz Andre mengulum senyum tipis. "Belum satu hari juga sudah rindu saja. Kalau ada Hafid, kalian berdua bertengkar, seperti kucing dan tikus," katanya diiringi tawa ringan.


"Dan itulah yang Cika rindukan pada sosok Ustaz Hafid. Nggak ada lagi yang marah dan hukum aku lagi kalau bikin masalah, hehehe" jawab Cika cengengesan.


Keduanya berjalan beriringan menuju masjid dan tidak lupa mereka tetap menjaga jarak, demi menghindari fitnah. Banyak pasang mata dari santri putri terutama senior Cika yang tidak suka melihat ia dekat-dekat dengan Ustaz Andre. Selain Ustaz Hafid, tentunya Ustaz Andre juga menjadi idola para santriwati di pesantren itu.


"Hem." Ustaz Andre berdehem singkat.


"Kalau ada kabar dari Ustaz Hafid kasih tahu aku nanti nya," ujar Cika sebelum Ustadz Andre masuk ke masjid.


"InsyaaAllah," jawab Ustaz Andre.

__ADS_1


__ADS_2