
Cika duduk di depan cermin sembari mengenakan khirmarnya. Setelah kejadian semalam Ustaz Hafid seperti cuek terhadap dirinya. Buktinya saja tadi subuh, suaminya itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun pada dirinya. "Ustaz Hafid," panggilnya dengan suara yang dibuat-buat lembut dan imut.
"Hem." Hanya deheman singkat dari Ustaz Hafid.
"Marah sama aku?"
"Nggak."
"Oh." Ia berjalan ke arah Ustaz Hafid, mengambil tasbih yang selalu saja ada di tangan pria itu.
"Buat aku ya, Tadz. Aku suka, dan bagus soalnya," pintanya memohon.
Ustaz Hafid menganguk pelan, seraya berkata," Ambillah jika kamu memang menginginkannya."
"Wah, terima kasih, Tadz." Cika lompat-lompat bahagia memegang tasbih tersebut.
Ustadz Hafid tersenyum geli melihat Cika seperti anak kecil saja.
"Kalau kita berdua panggil mas saja. Kita sudah menjadi suami istri." Ustaz Hafid mengusap lembut kepala Cika yang sudah dilapisi jilbab itu.
"A---ku belum biasa, Ustaz. Nanti aku usahakan."
"Baiklah."
"Hem, aku mau ke asrama dulu. Mau nyuci baju."
__ADS_1
"Nggak sarapan dulu? Mau ustaz bantu, nggak?"
Cika menggelengkan kepalanya cepat pertanda 'tidak'. "Nggak usah."
"Nanti malam boleh nggak kita keluar sebentar, Tadz?" tanya Cika sebelum benar-benar keluar dari kamar.
"Mau ke mana?" Ustaz Hafid bertanya balik.
"Nggak ke mana-mana kok, aku pengin makan bakso, sudah lama nggak makan."
"Boleh, nanti tunggu ustaz di parkiran."
"Yeah, terima kasih. Suamiku baik juga walau kadang garang." Ia berlari secepat kilat dari hadapan Ustaz Hafid saat melihat kemarahan dari pria itu setelah ucapan terakhirnya itu.
...***...
"Cika," panggil Novi dan Dinda bersamaan, mereka baru saja tiba di pondok pesantren pagi ini.
"Eh, kalian udah balik? Bukannya nanti setelah salat dzuhur yah, kalian baliknya?" tanya Cika cukup kaget melihat kemunculan dua sahabatnya itu, ia segera berjalan ke arah mereka.
"Sengaja Cika, kamu, 'kan, nggak punya teman di sini. Kami cuma takut kamu sendirian hehehe ...," jawab Novi diakhiri dengan elak tawa ringan.
Cika manggut-manggut mengerti.
Sementara netra Dinda fokus pada tasbih yang ada di tangan Cika. Dinda merasa familier dengan tasbih itu.
__ADS_1
"Cika tasbih itu bukannya milik Ustaz Hafid?" tanya Dinda penuh selidik sambil menunjuknya.
Cika gugup, buru-buru ia memasukkan tasbih itu ke dalam saku gamisnya.
"Mana ada, ini punya aku kok," jawab Cika berbohong.
"Tapi itu sangat mirip dengan punya Ustaz Hafid, Cika!" balas Novi.
"Emang harus Ustaz Hafid saja yang punya tasbih ini? Nggak, 'kan?" tanya Cika, tetap tidak mau kalah.
"Iya juga, sih," sahut Dinda, tetapi belum sepenuhnya percaya.
"Bentar-bentar dulu, kamu baru dari ndalem, yah? Ada perlu apa kamu dari ndalem? Kok kamu bisa masuk?" Novi bertanya bertubi-tubi. Hanya santri khusus yang biasanya bisa masuk ke ndalem. Wajar bila Novi sangat penasaran.
Cika sudah benar-benar gugup, ia harus punya alasan logis untuk menjawabnya. Karena ia tahu kedua sahabatnya itu bukan tipe yang akan percaya begitu saja.
"Cika, kami sedang bertanya jawab dong," pinta Dinda ikut kepo saat melihat Cika masih diam mematung.
"Anu, anu aku ...."
"Saya yang memanggilnya," tutur Ustazah Laili dari arah belakang.
Cika yang mendengar ucapan tersebut langsung bernapas lega, akhirnya ia bisa menghindari pertanyaan itu.
"Ustazah Laili," sapa Dinda. Dinda dan Novi mencium punggung tangan Ustadzah Laili.
__ADS_1
"Iya benar, aku belajar dengan Ustazah Laili. Kalian tahu 'kan aku masih awam akan ilmu agama." Cika mencoba menjelaskan secara detail dengan rangkaian kata-kata hasil karangan di kepalanya. Memang keluarga besar Ustaz Hafid untuk sementara waktu memilih menyembunyikan dulu pernikahan ini, mereka melakukan itu karena permintaan Cika sendiri.
"Huft, hampir saja," gumam Cika mengucapkan syukur.