
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, dan bulan berganti bulan. Dua bulan telah berlalu, hari ini adalah kepulangan Ustaz Hafid. Cika sudah berpakaian rapi siang ini, siap-siap akan menjemput Ustaz Hafid di bandara. Senyum tipis terus terukir di bibir mungilnya, tidak sabar menunggu kepulangan sang pujaan hatinya.
"Sini dulu, Cika." Novi dan Dinda menarik tangan Cika untuk duduk di sisi ranjang.
"Kalian mau apa? Aku buru-buru, nih!" tutur Cika dengan nada suara ketus.
"Bentar dulu Cika, enggak sabar banget ketemu sama Ustaz Hafid," jawab Novi. "Kamu harus dandan sebelum pergi jemput suami tercinta kamu tuh, biar tambah cantik , iya 'kan, Din?" tanya Novi kembali dan meminta persetujuan Dinda.
"Iya, Cika. Kamu tahu berhias diri untuk suami itu mendapatkan pahala yang sangat dan sangat besar sekali," ujar Dinda penuh semangat.
"Din, kecilkan volume suara kamu. Takut kedengaran yang lainnya," ucap Novi memperingati.
Dinda mengangguk paham.
Pernikahan Cika masih dirahasiakan kepada teman-teman lainnya, hanya Novi dan Dinda yang baru mengetahuinya.
Cika menggelengkan kepalanya cepat. "Aku nggak mau dandan! Aku udah cantik kok," katanya menolak keras.
__ADS_1
"Eh, Cika! Kamu harus hati-hati sekarang tuh banyak pelakor. Mau Ustaz Hafid berpaling? Dan nikah lagi?" Novi menakuti-nakuti Cika, supaya sahabat itu mau didandani.
"Terus kamu ditinggalin, ih ... 'kan seram jadi janda di usia yang kamu masih muda. Banyak loh kasus seperti itu sekarang." Dinda ikut-ikutan.
"Kalian berdua jangan menyamakan Ustaz Hafid dengan pria yang di luar sana. Ustaz Hafid bukan gitu orangnya, dia bilang aku istri satu-satunya selamanya," jelas Cika, ia memekik kesal dalam hatinya melihat kedua sahabatnya itu yang masih saja keras kepala untuk mendandani dirinya. Akhirnya, ia memilih pasrah saja.
Cukup sepuluh menit, Novi dan Dinda selesai mendadani Cika dengan alat make-up seadanya.
"Nah, 'kan tambah cantik."
"Uww cantik banget. Kita hebat juga, Vi."
"Biar Ustaz Hafid tergoda," sahut Novi dan Dinda serentak, keduanya tertawa cengengesan membuat Cika kian kesal.
"Ustaz Hafid, malah jijik tahu. Dia enggak suka aku make-up berlebihan," ujar Cika masih kesal. Ia terus berusaha menghapus lipstick di bibirnya yang lumayan susah dihilangkan. Setelah itu ia beranjak bangkit dan langsung berlari keluar dari asrama.
...****...
__ADS_1
Pintu kedatangan bandara di kota itu terlihat sangat padat. Cika masih setia menunggu bersama Ustazah Laili, dan Ustaz Andre di sampingnya. Menunggu kedatangan Ustaz Hafid di balik pagar pembatas. Pandangan Cika tidak berpaling dari pintu menelisik tiap celah untuk menemukan Ustaz Hafid.
"Ustaz Hafid!" Cika berteriak histeris melambaikan tangan ke atas saat melihat sosok suaminya.
Pria yang menggunakan kemeja navy blue itu, menoleh ke arah sumber suara yang memanggil namanya. Ia tersenyum tipis, melihat gadis yang selama ini dirindukan. Dengan langkah cepat Ustaz Hafid berjalan ke arah istri kecilnya. Tidak sabar ingin memeluk tubuh mungilnya istri kecilnya.
"Ustaz Hafid," ucap Cika dengan ekspresi kegembiraan yang tidak dapat disembunyikan di wajahnya, ia meraih punggung tangan Ustadz Hafid lalu menciumnya.
Ustaz Hafid tersenyum melihat sambutan Cika, istrinya itu sudah pelan-pelan belajar ternyata. Tangannya bergerak membingkai wajah Cika, tak tahan ia mengecup puncak kening Cika berkali-kali. Sesekali tangannya juga menarik lembut kedua pipi chubby Cika yang semakin terlihat menggemaskan saja.
Tidak ada penolakan sama sekali dari Cika, ia juga tidak dapat membohongi perasaannya. Ia juga sangat rindu.
"Kenapa kurus sekarang? Pipinya nggak tembem lagi?" tanya Ustaz Hafid bergerak menarik hidung minimalis milik Cika.
"Jarang makan, Ustaz. Aku mau makan kalau disuapin sama, Ustaz," jawab Cika yang tiba-tiba menjadi manja sekali. Ia memeluk lengan Ustaz Hafid dengan erat, bahkan tak mau melepaskannya.
Ustaz Hafid terkekeh mendengarnya, ia ingin mencium puncak kening Cika kembali, tetapi tindakannya terhenti.
__ADS_1
"Fid. Tempat umum, nih," ujar Ustaz Andre sedikit menggoda.
"Nggih, Ndre," sahutnya agak malu.