
Mobil sedan hitam milik Ustaz Hafid keluar dari pintu gerbang utama pesantren. Sempat terjadi kendala tadi siang untuk menunda terlebih dahulu untuk mengunjungi rumah mertuanya. Namun, sore ini akhirnya Ustaz Hafid bisa pulang ke rumah istrinya kecilnya. Mereka akan berada di sana beberapa hari saja.
"Allahu kaafii rabbunal kaafi, qashadnal kaafi wajadnal kaafi likullin kaafi kafanal kaafi, wani’mal kaafi alhamdulillah ...." Iringan sholawat itu mengiringi perjalanan. Cika bersholawat dengan penuh semangat. Tak sabar bagi dirinya tiba di rumah, bertemu dengan kedua orang tuanya.
Ia tersenyum lebar. Memperlihatkan sederet giginya yang rapi. Memang tadi pagi sempat kesal kepada Ustaz Hafid, tetapi perasaannya kesal itu sudah hilang. Moodnya sangat cepat sekali berubah. "Bagus nggak suara aku, Tadz?" tanyanya dengan antusias kepada Ustaz Hafid yang sedang fokus menyetir mobil itu, tetapi suaminya tak menjawab apa-apa. "Ustaz Hafid," panggil kembali, saat pria berpeci itu bahkan tak mau menoleh. Ia tak tahu kenapa sejak tadi pagi Ustaz Hafid memang tak banyak bicara. Karena tak suka sikap Ustaz Hafid yang acuh, tangannya bergerak mematikan mobil.
"Kenapa?" tanya Ustaz Hafid terdengar dingin.
"Ustaz Hafid yang kenapa? Kenapa nggak mau ngomong sama aku? Nggak mau lihat aku?" tanya Cika beruntun. Ia dapat melihat Ustaz Hafid mengembuskan napas panjang beberapa kali.
"Kalau ustaz menerima dan bahkan memakai barang-barang dari perempuan lain bagaimana perasaan kamu?"
Tenggorokan Cika terasa kering mendengar pertanyaan serius dari Ustaz Hafid. "Kenapa bertanya seperti itu, Tadz?"
"Jawab bagaimana perasaanmu."
"Aku marah, nggak suka ...." jawab Cika dengan uneg-uneg lainnya.
"Ustaz pun begitu, ustaz tidak suka kamu memakai ini." Ustaz Hafid meraih lengan Cika, lalu mengeluarkan gelang tasbih berwarna biru muda.
__ADS_1
Cika mengigit bibir bawah, ia tak menyangka ternyata pertanyaan Ustaz Hafid barusan menyindir dirinya. "Jadi Ustaz marah barusan?" tanyanya.
"Seperti jawabanmu."
"Ustaz, cemburu dengan Ustaz Andre?" tanya kembali dengan begitu penasaran.
"Hmm."
Ia mengangkat kedua jarinya, membentuk huruf V, lalu berkata, "Aku nggak ada apa-apa dengan Ustaz Andre, suer deh, Tadz."
Ustaz Hafid menyimpan gelang itu di dalam saku celananya, ia menyalakan mobil kembali. "Ustaz percaya," jawabnya. Ia kembali melanjutkan. "Tapi jangan terlalu dekat dengan siapa pun yang berurusan dengan lawan jenis itu yang nggak ustaz suka."
Ustaz Hafid hanya diam memperhatikan istri kecilnya itu.
"Suara sholawatan aku bagus kan barusan?" tanyanya kembali.
Ustaz Hafid menoleh sekilas sembari mengangguk kecil. "Bagus," pujinya, kemudian mengacak-acak jilbab pashmina yang dikenakan oleh istri kecilnya itu.
Cika memanyunkan bibirnya, mencubit perut Ustaz Hafid. "Ih! Jilbab aku jadi jelek tahu, ini udah susah payah aku bagusin, Ustaz seenaknya aja," ucapnya dengan ketus, sembari memperbaiki jilbab yang dipakainya.
__ADS_1
Ustadz Hafid tersenyum geli, suka jika melihat istrinya itu lagi marah. "Aduh Cika!" Ia berpura-pura mengeluh kesakitan.
"Rasain emang enak," ujar Cika ketus, melipatkan kedua lengannya di depan dada.
Satu jam perjalanan berlalu. Ustaz Hafid segera menepikan mobilnya ketika mendengarkan suara azan magrib berkumandang di salah satu masjid.
"Ayo kita salat dulu," tutur Ustaz Hafid.
"Iya." Cika segera turun, berjalan beriringan dengan Ustaz Hafid menuju masjid yang terdekat.
Setelah adzan, Ustaz Hafid, dan beberapa jamaah lainnya melaksanakan salat sunah rawatib. Tidak lama iqamah terdengar. Jamaah salat saling pandang, karena tidak ada ada yang menjadi imam salat, rupanya imam salat yang biasa tidak hadir karena sakit.
Salah satu bapak yang umurnya mungkin sekitar lima puluh tahun memandang Ustaz Hafid. "Bisakah kamu menjadi imam salat, Nak?"
Dengan nada suara ramah Ustaz Hafid menjawab, "InsyaaAllah, bisa, Pak," jawab Ustaz Hafid. Ia berjalan ke depan, untuk menjadi imam. Pada rakaat pertama surah yang dibacanya setelah alfatihah adalah An-Naba.
Lantunan ayat An-Naba terdengar begitu merdu sekali. Menari indah di telinga jamaah salat yang mendengarnya dan merasuk ke hati siapa saja. Banyak dari jamaah tidak kuasa menahan air mata. Termasuk Cika yang ada pada shaf wanita. Salat magrib berjamaah itu berjalan dengan khusyuk sekali.
Ibu yang duduk di samping Cika itu, berkata setelah selesai salat. "MasyaaAllah suara yang menjadi imam itu sangat merdu sekali."
__ADS_1
Cika yang mendengar itu tersenyum tipis, menjadi kebanggaan tersendiri mempunyai suami seperti Ustaz Hafid.