
Cika meninggalkan Novi dan Dinda yang masih memperhatikan Ustaz Hafid yang tengah berlari itu. Ia berjalan ke arah Nyai Hana yang memanggilnya.
"Ummi,panggil aku?" tanya Cika sopan memastikan pada wanita paruh baya berjilbab lebar itu.
"Iya, Nak. Bantu ummi masak di dapur." Nyai Hana tersenyum lebar ke arah menantunya itu.
"Aku nggak bisa masak, ya ,Tuhan, aku harus apa," batin Cika. Ia cuma tahu makan saja selama ini.
Nyai Hana menarik lembut tangan menantunya itu. "Tidak usah khawatir, ummi nggak suruh kamu apa-apa kok. Ummi hanya ingin ngobrol sambil memasak sama menantu ummi aja. Ayo, Nak," tutur Nyai Hana lembut.
"Huft!" Cika bernapas lega, mertuanya sungguh baik dan pengertian.
...***
...
Ustaz Hafid akhirnya selesai berlari keliling lapangan sepuluh putaran. Cukup lelah bagi pria itu. Netranya menyusuri sisi lapangan.
"Di mana dia?" batinnya mencari keberadaan istri kecilnya itu.
Netra Ustaz Hafid terus menyapu sekelilingnya mencari keberadaan Cika, namun ia tidak menemukan keberadaan istrinya itu.
Merasa dirinya saat ini menjadi pusat perhatian para santri putri, Ustaz Hafid segera beranjak pergi dan berjalan menuju ndalem.
Suara tawa ringan dari dapur terdengar di telinga Ustaz Hafid, merasa familier dengan suara itu ia berjalan ke arah dapur sekalian mengambil air minum.
"Di sini rupanya," ucap Ustaz Hafid menghampiri Cika dan umminya.
__ADS_1
Cika menoleh ke arah Ustaz Hafid. "Kenapa, Tadz?"
"Ambilkan aku air, Sayang. Aku haus," ucap Ustadz Hafid dengan suara keras. Sengaja, supaya umminya juga mendengarkannya. Tidak peduli ucapannya itu membuat Cika akan marah.
Kedua bola mata Cika langsung melotot mendengar panggilan itu, ingin mencubit pinggang Ustaz Hafid seenak jidat memanggil dirinya dengan sebutan 'sayang'. Namun, ia harus jaga sikap dihadapan Nyai Hana.
Nyai Hana tersenyum kecil. "Ambilkan air buat suamimu, Nak," tuturnya.
"Iya, Ummi," sahut Cika, menahan diri.
Ustaz Hafid sudah duduk manis di kursi anyaman bambu di ruangan keluarganya itu.
"Ini, Tadz." Cika memberikan segelas air putih itu. Ia merasa kesal karena Ustaz Hafid memanfaatkan keberadaan ummi.
"Terima kasih, Sayang," ucap Ustaz Hafid, pria ini segera meminum segelas air putih itu.
"Aw sakit Cika, iya-iya ustaz nggak akan panggil gitu lagi." Ustaz Hafid meringis kesakitan, cubitan dari Cika cukup sakit.
"Bagus!" sahut Cika jutek.
Ia hendak pergi ke dapur kembali, tetapi dengan gerak cepat Ustaz Hafid menahan lengannya dan menarik tubuh mungilnya.
"Ustaz, jangan main-main, ih!" Cika memberontak, menjauhi tubuhnya. Ia merasa geli sendiri ketika tangan Ustaz Hafid melingkar di pinggangnya.
Ustaz Hafid tidak mau menuruti perintah Cika, tetap keukeh menarik tubuh istrinya itu ke dalam dekapannya.
"Ustaz Hafid, mau aku cubit lagi? Tubuh Ustaz, tuh, bau belum mandi!" Cika berucap cukup keras. Membuat Kyai Abdullah yang sedang istirahat di dalam kamarnya terbangun.
__ADS_1
"Ada apa, Nak?" tanya Kyai Abdullah dengan suara parau. Pria paruh baya yang menggunakan sarung itu merasa khawatir.
Cika menyingkirkan tangan Ustaz Hafid dari tubuhnya. Buru-buru berjalan ke arah Kyai Abdullah dan menyembunyikan dirinya di balik punggung mertuanya itu. "Bah, Ustaz Hafid terus-menerus ingin peluk aku. Padahal badannya bau, berkeringat, belum mandi. Aku sudah mandi, Bah. Nanti aku ikut-ikutan bau lagi," aduh Cika dengan polos seperti anak kecil.
Kyai Abdullah tersenyum kecil mendengar ucapan menantunya itu.
"Badan ustaz harum kok," jawab Ustaz Hafid membela diri, tidak terima dengan aduan tersebut.
"Hafid, jangan main-main sama menantu abah." Kyai Abdullah memperingati putranya itu.
"Dengar, Tadz, perkataan Abah, jangan main-main sama aku," celutuknya merasa sangat senang. Ia masih menyembunyikan diri di punggung mertuanya itu.
Ustaz Hafid menganguk. Sungguh geram melihat tingkah istrinya itu. Dengan pasrah ia berkata, "Ustaz dengar."
"Baguslah," jawab Cika diiringi tawa mengejek. Puas melihat raut kekesalan di wajah suaminya itu. "Apakah Ustaz Hafid benar anak, Abah?" Cika bertanya penasaran kepada mertuanya itu.
"Tentu saja, Nak. Kenapa bertanya seperti itu?"
Ustaz Hafid tampak menyimak.
"Soalnya Ustaz Hafid nggak kayak Abah yang baik hati. Dan Ustaz Hafid itu juga sungguh mesum, Bah." Cika bergedik sendiri, ia kembali melanjutkan, "Abah tahu, waktu pertama kali aku tidur sama Ustaz Hafid. Aku sering dipeluk-peluk juga. Ustaz Hafid terus cari kesempatan, padahal 'kan, kami sudah membuat kesepakatan ...."
"Cika!" potong Ustaz Hafid cepat-cepat, ia sudah sangat geram. Ia juga khawatir Cika akan mengatakan yang lebih banyak lagi, mengingat mulut istrinya itu sangat mudah sekali ceplas-ceplos tanpa sensor.
Cika tersenyum tanpa dosa. Menjulurkan lidahnya mengejek Ustaz Hafid di depannya itu. "Faktanya memang gitu, Tadz. Benar 'kan, Bah?" tanyanya meminta persetujuan.
"Iya, Nak." Kyai Abdullah mengiyakan saja. Ia mengusap lembut kepala Cika yang dilapisi jilbab itu.
__ADS_1
Ustaz Hafid yang melihat hal tersebut hanya bisa menghela napas panjang.