Menikah Dengan Ustaz

Menikah Dengan Ustaz
Bab 46 : Perbincangan yang Cukup Panas


__ADS_3

Ke esokkan paginya. Cika duduk santai di ruangan keluarganya pagi ini. Sebenarnya ia ingin jogging, tetapi keinginannya itu gagal karena hujan turun dengan derasnya. Akhirnya ia memilih menonton film anime ditemani dengan segelas susu hangat. Gadis ini bersikap acuh, pura-pura tidak menghiraukan Ustaz Hafid yang baru saja turun dari kamar. Ia bahkan membuang wajahnya ke arah lain tak mau menatap Ustaz Hafid sama sekali.


"Jangan dekat-dekat!" tegasnya, ketika Ustaz Hafid berjalan mendekat dan berniat duduk di sampingnya.


Ustadz Hafid mulai merasakan frustrasi melihat sikap Cika. Apalagi semalam ia benar-benar tidur sendirian. Sangat tidak nyaman ketika dicuekin oleh istri kecilnya itu.


"Marah karena masalah semalam?" tanya Ustaz Hafid dengan nada suara lembut.


"Kalau tahu kenapa masih bertanya?" sungut Cika tidak suka, "Minggir aku lagi nonton, Tadz!" sambungnya, sembari menggerakkan tangannya agar Ustaz Hafid segera menepi.


Ustaz Hafid menuruti keinginan Cika, untuk segera menepi.


"Ustaz Hafid!" Cika berteriak, ketika Ustaz Hafid tetap duduk di sampingnya. "Kenapa sekarang Ustaz Hafid keras kepala sih?" sambungnya.


Ustaz Hafid tidak peduli, bodoh amat melihat penolakan dari istri kecilnya itu dengan gerak cepat ia mengambil segelas susu cokelat di tangan istri kecilnya itu, lalu meminum hingga tandas. Tanpa ada setetes pun.


"Susu cokelat kesukaan kok, Ustaz, habisin? Kalau mau, bikin sendiri aja. Di dapur banyak, Tadz." Cika berucap kesal. Mencubit lengan pria itu tanpa ampun. Pria itu suka sekali membuat moodnya hancur.


"Mau hamil, kan, ya syarat utamanya itu jangan galak pada suami, Sayang," bisik Ustaz Hafid tepat di daun telinga Cika. Pria ini mengusap lengannya yang terasa sakit.


Cika seketika menoleh, menatap lekat wajah Ustaz Hafid. Keduanya diam sesaat. "Bukannya Ustaz yang bilang, aku nggak boleh hamil dulu? Untuk apa juga aku memenuhi syarat itu," jawab Cika tetap ketus.


"Hmm, setelah ustaz pikir semalam sepertinya akan berubah, siap-siap aja nanti malam, Sayang." Ustaz Hafid kembali berbisik menggoda, setelah mengatakan itu pria ini bangkit berdiri. Tidak lupa dengan kebiasaan barunya yang selalu saja menarik kedua pipi chubby istri kecilnya itu.


Cika menelan ludah susah payah. Bulu kuduknya berdiri mendengar ucapan suaminya itu. Entah kenapa, ketakutan langsung melanda dirinya saat ini.


"Nanti malam Ustaz Hafid mau apa, ya?" pikirnya keras mengetuk jari telunjuknya di bawah dagu.

__ADS_1


...----------------...


"Hafid," panggil ayah Cika atau biasa disapa Pak Dedi itu dari meja makan.


Ustaz Hafid yang hendak naik ke lantai atas itu menoleh dan segera menghampiri mertuanya itu. "Ada apa, Yah?" tanyanya dengan sopan dan begitu ramah. Pria ini tetap masih merasa canggung, mungkin karena intensitas pertemuan yang jarang, membuat dirinya masih merasa asing bertemu dengan mertuanya itu. Helaan napas ia embuskan menghilangkan desir aneh yang ia rasakan.


"Ada hal yang perlu kita bicarakan." Suara Pak Dedi terdengar serius dan tegas. Pria paruh baya ini bangkit berdiri. Berjalan menuju halaman belakang rumah. "Ikut ayah ke belakang," lanjutnya.


"Yah." Bu Linda tampak memohon kepada suaminya itu.


Pak Dedi tampak tidak peduli. Ustaz Hafid hanya bisa mengekor di belakang, mengikuti ke mana mertuanya. Berbagai pertanyaan muncul di kepalanya saat ini.


"Kamu baru sejauh mana melakukan hubungan dengan putri saya?" tanya Pak Dedi, dengan ekspresi datar. Rahangnya terlihat mengeras.


Ustaz Hafid tersenyum. Berusaha tetap tenang dan santai ketika mendengar nada bicara mertuanya itu yang sungguh tak enak didengar. Sejenak ia berpikir, kenapa ayah mertuanya itu tiba-tiba menanyakan hal tersebut? Ada gelagat aneh yang ia rasakan. Sikap mertuanya berbeda sekali saat pertama kali mereka bertemu. Meskipun ini masih pagi hari dan udaranya masih segar dan juga sejuk. Entah kenapa atmosfer yang dirasakan Ustaz Hafid terasa begitu panas.


"Ayah sudah mengetahuinya, kalian masih belum melakukan apa pun?" potong Pak Dedi begitu cepat, tak memberikan Ustaz Hafid untuk melanjutkan pembicaraannya.


Ustaz Hafid mengangguk, dan berkata, "Iya."


"Syukurlah. Dengan begitu kalian akan bisa berpisah dengan cepat," ucapnya. Senyum yang tidak dapat ditebak terukir di sudut bibir pria paruh baya ini.


Deg!


Ustaz Hafid tersentak kaget mendengar ucapan tersebut. Degup jantungnya berpacu begitu kencang. "Astagfirullah, apa maksud, Ayah?" tanyanya tetap merendahkan suaranya.


"Saya berniat untuk menikahi Cika dengan orang lain. Ayah akui kamu suami yang baik. Tapi maaf ... kalian harus tetap pisah. Setelah Cika lulus nanti ayah harap kamu bisa menceraikan Cika secepatnya," ucap pria paruh baya ini begitu tegas.

__ADS_1


"Tidak akan semudah itu, Yah." Ustaz Hafid menjawab tidak kalah tegas. Ia menarik napas, bibirnya tak henti-hentinya mengucapkan istighfar. Ia kembali berkata, "Pernikahan bukanlah sesuatu yang bisa dipermainkan."


Pak Dedi terkekeh meremehkan. Tangannya yang sudah mulai keriput menepuk pundak menantunya itu. "Cukup juga keberanianmu, Nak. Ah, sayangannya sampai saat ini kamu tidak bisa mengambil hati saya." Pria paruh baya ini langsung bangkit dan pergi begitu saja dari hadapan Ustaz Hafid. Meninggalkan Ustaz Hafid yang masih bingung.


Ustaz Hafid terus istigfar. Demi apa pun, ia tidak pernah berpikir mertuanya akan bersikap seperti ini. Perceraian? Ia tak pernah memikirkan hal itu selama ini bahkan tak pernah terlintas di pikirannya.


"Ustaz Hafid!" Entah sejak kapan istri kecilnya itu ada di hadapannya.


Ustaz Hafid berusaha tenang, ia tersenyum tipis. "Ada apa?" tanyanya.


"Ustaz, kok kayak sedih gitu? Apa yang ayah bicarakan dengan Ustaz barusan?" Cika bertanya penasaran, memang tanpa sengaja ia melihat ayahnya dan suaminya itu berbincang serius.


"Tidak ada," jawab Ustaz Hafid berbohong.


"Aku tadi melihat ayah berbicara dengan Ustaz sangat serius sekali. Pasti ada sesuatu yang ayah katakan, kan?" tanyanya dengan penasaran. Ia tak mau menyerah untuk mendapatkan informasi.


"Hanya pembicaraan yang tak begitu penting, Cika," jawab Ustaz Hafid. Ia mengusap wajahnya secara kasar. Dengan perlahan ia menarik tubuh mungil istri kecilnya itu ke dalam dekapannya. "Cika, apa pun yang terjadi kita akan selalu bersama," ucapnya pelan.


Cika mendorong tubuh Ustaz Hafid. "Emang kita mau pisah, Tadz? Kok bicara seperti itu sih?" Cika begitu penasaran saat ini.


*


*


*


Terima kasih sudah membaca cerita ini sampai detik ini. Jangan lupa tinggalkan jejak, ya, teman-teman. Terima kasih. Salam hangat dari author🖤🖤

__ADS_1


__ADS_2