Menikah Dengan Ustaz

Menikah Dengan Ustaz
Bab 65 : Selesai


__ADS_3

Ia berada sangat dekat


Bahkan di antara helaan napas


Namun, mengapa terasa jauh


Sangat jauh ketika melakukan kesalahan


Sementara, di tempat lain. Tepatnya di rumah sakit. Ustaz Hafid sudah dibawa ke dalam ruangan UGD dan sedang ditangani oleh dokter. Dua pria yang menolong Ustaz Hafid, sedang menunggu di luar ruangan. Meskipun mereka tidak mengenal sosok Ustaz Hafid, mereka tetap saja khawatir.


“Assalamu’alaikum, di mana anak saya?” tanya Kyai Abdullah yang baru saja tiba di rumah sakit. Suara pria paruh baya itu terdengar gemetaran.


“Wa’alaikumussalam, Kyai. Masih ditangani oleh dokter,” sahut dari salah satu pria itu.


Tidak hanya keluarga besar Kyai Abdullah yang datang. Bu Linda dan Pak Dedi juga turut datang setelah mendengar kabar menantunya itu kecelakaan. Mereka semua menunggu di luar dengan cemas. Iringan doa sejenak yang dipimpin oleh Kyai Abdullah sudah mereka lakukan, agar Ustaz Hafid bisa terselamatkan dan selalu dalam lindungan-Nya.


“Ustaz Hafid ....” Cika menangis sesenggukan di dalam pelukan Dedi, dari pesantren sampai rumah sakit gadis itu tidak berhenti menangis. Ia masih tidak percaya kalau Ustaz Hafid kecelakaan.


“Berhenti menangis, Sayang. Hafid pasti baik-baik saja.” Pak Dedi mengusap lembut punggung putrinya itu. Mencoba menenangkan.


Beberapa menit kemudian.


Pintu yang ditunggu-tunggu akhirnya terbuka juga, mereka semua berjalan mendekat ke pintu saat dokter laki-laki yang menangani Ustaz Hafid itu keluar. Raut panik dan dan sedih terpampang jelas di wajah dokter tersebut, membuat semua orang kian cemas.


“Anak saya, bagaimana kondisinya, Dok?” tanya Kyai Abdullah mewakilkan semuanya.


Dokter tersebut menghela napas dan menyingkir dari ambang pintu untuk memberikan akses untuk semua orang masuk.


Tangisan Cika makin pecah, melihat wajah Ustaz Hafid yang sudah pucat. Matanya sudah tertutup rapat.


Bu Linda memeluk lengan Pak Dedi, wanita paruh baya itu tidak dapat menyembunyikan kesedihannya melihat menantunya.


“Pasien kekurangan banyak sekali darah, dan detak jantungnya sangat lemah ....“ Ucapan dokter laki-laki tersebut terpotong.


“Dok, jantungnya berhenti berdetak,” ucap suster do samping brankar panik.


“NGGAK MUNGKIN!” Cika tidak terima, gadis berjilbab itu menggelengkan kepalanya dengan cepat, sangat tidak terima dengan ucapan suster tersebut. Air matanya kian luruh dengan deras. Ia berjalan cepat ke samping brankar suaminya itu.


“Ustz Hafid! Jangan tinggalin aku!” teriaknya sungguh sangat memilukan. Ia menggoyangkan tubuh Ustaz Hafid. “Bangun Ustaz ... kumohon bangunlah!”


Semua orang di dalam ruangan tersebut tangisannya pecah. Nyai Hana pingsan di pelukan Kyai Abdullah.

__ADS_1


Cika terus mengguncang tubuh Ustaz Hafid agar pria itu terbangun. “Ustaz harus tahu, aku hamil! Bukankah ini yang Ustaz inginkan? Ayo bangun, demi anak kita!" Cika berucap sendu.


Semua orang kaget mendengar ucapan Cika. Karena memang Cika belum memberitahukan keluarganya kabar bahagia itu sebelum Ustaz Hafid pulang.


Pak Dedi berjalan mendekat ke arah putrinya itu, menarik tubuh mungilnya ke dalam dekapannya. “Tenangi dirimu, Sayang. Istigfar," ucapnya menenangkan.


Cika memberontak tidak ingin dipeluk.


“Ustaz, bangunlah ... demi anak kita." Cika berlari kembali ke brankar itu, ia menggenggam tangan Ustaz Hafid dengan erat. “Ustaz bangun. Ustaz nggak cinta sama aku lagi? Ustaz nggak sayang sama anak kita ....” Mata Cika sudah sangat sembap. Ia merasa Tuhan tidak adil dengan dirinya saat ini.


“Ustaz Hafid jawab ...."


Tangisan Cika sudah mulai melemah, tangannya masih menggengam erat tangan Ustaz Hafid. Saat daun namamu dijatuhkan, maka malaikat izrail akan melaksanakan tugasnya, menjemputmu kembali pulang kepada-Nya.


Bruk!


Seketika tubuh Cika ambruk di atas tubuh Ustaz Hafid, gadis itu sudah tidak sadarkan diri lagi. Fisik dan batinnya sudah lelah.


Pak Dedi buru-buru membawa Cika ke ruangan rawat.


Kabar duka tersebut. Tidak lama sampai ke lingkungan pesantren. Tidak ada santri yang tidak menangis. Mereka semua merasa kehilangan.


••••


"Nak, kamu tenanglah di sana. Abah dan ummi akan menjaga istrimu dan calon anakmu. Semoga kamu ditempatkan di sisi yang terbaik-Nya." Kyai Abdullah menangis mengatakan hal tersebut. Tidak menyangka anak sulungnya akan pergi dahulu sebelum dirinya.


"Aamiin." Mereka mengamini ucapan Kyai Abdullah.


Rintik hujan sudah mulai berjatuhan di atas tanah.


"Cika, kita pulang sekarang." Bu Linda menarik lembut tangan putrinya untuk bangkit.


Dengan cepat Cika menggelengkan kepalanya. "Aku mau di sini sebentar lagi," jawabnya dengan sendu.


"Nak, jangan seperti ini. Kamu harus ikhlas. Suamimu sedih bila melihatmu seperti ini," kata Bu Linda.


"Aku ingin di sini!" ucapnya lagi tetap keukeh. Tidak peduli dengan perintah ibunya itu.


Bu Linda mengembuskan napas panjang. Ia dapat mengerti perasaan putrinya itu. "Kami tunggu di mobil. Kamu jangan terlalu kelelahan, ada calon buah hatimu di dalam perutmu itu," ucapnya dibalas anggukan kecil oleh Cika.


Cika menabur bunga di gundukan tanah yang basah itu dengan tangan bergetar. Tersenyum pahit, sungguh ia tidak terima dengan takdir ini! Ia merasa Tuhan tidak adil kepada dirinya.

__ADS_1


"Ustaz Hafid ...." Cika berucap lirih, bulir air matanya jatuh bersamaan dengan tetesan air hujan.


"Baik-baik di sana, ya. Aku tidak yakin bisa melupakan dan mengikhlaskan perpisahan ini. Aku nggak bisa, Ustaz!" Cika kembali terisak. Gadis ini tidak peduli dengan hujan yang semakin turun dengan derasnya.


Ia mengusap dan menatap perutnya. "Aku janji akan menjaga dan membesarkan anak kita walaupun sendirian." Ia bangkit berdiri, mengusap air mata di pipinya secara kasar. "Aku akan sering-sering ke sini, Ustaz."


••••


Suara hewan malam melonglong di luar. Seperempat menit lagi waktu tengah malam tiba, tetapi gadis yang menggunakan piama lengan panjang warna biru itu belum bisa menutup mata. Ia masih berdiri di balkon kamar. Entah berapa menit lagi harus menunggu kantuk tiba.


Cika mendogak kepalanya menatap langit yang bertaburan bintang dengan tatapan hampa. Di tangannya memegang sebuah foto pernikahannya. Senyum seketika hilang di bibir gadis ini. Andaikan ia bisa mengulang waktu, ia tidak ingin merasakan semua ini.


Aku masih saja belum yakin dan percaya,


Nyatanya benar, kau telah pergi selamanya.


Lalu, bagaimana janji yang kau ucapkan?


Bagaimana kelanjutannya?


Bukankah kita sudah berjanji untuk melanjutkannya?


Bukanlah rencana harus ditepati?


Kenapa? Kenapa takdir malah jadi penghalang?


Kenapa? Aku tak tahu kenapa,


Yang jelas rasa sakit ini tak terbendung,


Rasa sedih ini enggan urung.


Ya Allah, kenapa begitu cepat? Kenapa sesingkat ini?


Aku merasa dunia amat gelap.


Tapi tidak mengapa, aku yakin ini adalah, bukti, bukti bahwa Kau begitu menyayanginya.


Aku rela ....


Sedikit renungan, "Kematian adalah hal yang paling jauh di pikiran kita, walaupun sebenarnya ia lebih dekat dari segala yang dekat dengan kita." ~Syaikh Ali Mustafa.

__ADS_1


End.


__ADS_2