Menikah Dengan Ustaz

Menikah Dengan Ustaz
Bab 45 : Dilema


__ADS_3

Cika mengembuskan napas panjang begitu panjang. "Dia mau cucu."


"Hah?"


Cika mematikan handphone menaruhnya di atas nakas, ia menatap wajah Ustaz Hafid. "Jadi gimana, Tadz?" tanyanya terdengar mengeluh.


Ustaz Hafid tak tahu harus menjawab apa, ia memilih mengambil segelas teh hangat yang dibuat oleh istri kecilnya itu dan segera meminumnya.


"Ustaz, tahu nggak? Saat Ustaz di Mesir itu, ummi, dan abah juga bilang begitu, terus-menerus menasehati aku untuk segera hamil. Aku bingung mau gimana ...."


Ustaz Hafid mengembuskan napas panjang, ia pun sama seperti istri kecilnya selama ini ia terus diteror dengan pertanyaan yang sama seperti apa yang dialami oleh istrinya itu, tetapi ia memilih tak merespons atau pun menceritakannya kepada Cika.


"Ustaz, ayolah. Kok diam terus sih?" tanya Cika mulai kesal, melihat Ustaz Hafid tak merespons pembicaraannya.


"Ustaz juga bingung, Cika," jawab Ustaz Hafid akhirnya.

__ADS_1


"Huh!" Cika bergumam kesal. Ia mengambil handphonenya dan melihat kembali sederet foto bayi itu cukup lama. "Ustaz emang mau punya anak juga?" tanyanya penasaran.


Alis Ustaz Hafid terangkat mendengar pertanyaannya tersebut. "Hmm, tentu saja."


"Iya udah kalau gitu aku pengen hamil aja."


Tenggorokan Ustaz Hafid terasa kering mendengar ucapan istri kecilnya itu. Tak habis pikir ....


"Sudah jangan bahas yang aneh-aneh, sekarang kita istirahat. Ustaz sudah mengantuk," tutur Ustaz Hafid, sengaja ia berkata seperti itu ia ingin menghentikan obrolan Cika yang mulai ke mana-mana itu. Jika boleh jujur, ia sungguh senang mendengar ucapan Cika yang menginginkan mempunyai anak secepatnya, tetapi di satu sisi ia tak yakin istri kecilnya itu akan siap untuk menjadi seorang ibu. Masih terlalu berbahaya juga bagi kesehatan istri kecilnya itu. Ia tak mau egois dan menuruti hawa nafsunya untuk saat ini, ia mencoba berpikir logis.


"Nggak, ustaz benar-benar kelelahan, Sayang," ucap Ustaz Hafid. Tangannya bergerak menarik hidung minimalis milik Cika.


"Nggak boleh tidur dulu, kita harus bahas masalah ini."


Ustaz Hafid menatap wajah Cika dengan intens. "Apa kamu tahu jika menginginkan mempunyai anak itu harus berbuat apa?" tanyanya, ia tak yakin jika istri kecilnya tahu akan hal itu.

__ADS_1


Cika tertawa mendengar pertanyaan tersebut. "Tahulah, Tadz. Aku jurusan IPA, tentu saja itu sesuatu yang sangat aku kuasai," jawab Cika penuh yakin.


"Oh, benarkah?" tanya Ustaz Hafid tak menyangka respons istrinya itu di luar tebakannya.


"Yeah, tapi ... aku belum paham bagaimana menerapkan teori-teori yang telah kupelajari itu," ucap Cika sedikit malu.


Ustaz Hafid mengangguk sejenak. "Nah, itu tandanya belum paham. Kamu belum siap kalau begitu," ucapnya beranjak bangkit.


Cika ikut bangkit. "Sekarang, kan, bisa diterapkan, dipraktekkan, Ustaz," usulnya begitu antusias.


Langkah Ustaz Hafid seketika terhenti, ia membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Cika di belakangnya. "Tapi kamu masih kecil, Cika. Nanti setelah lulus baru bisa hamil dan punya anak. Itu lebih baik," ujarnya lalu mengacak-acak gemas rambut panjang milik istrinya itu.


"Huh, Ustaz nggak tertarik pada aku kayaknya," ucap Cika dan duduk menekuk wajahnya di sisi ranjang.


"Bukan begitu, masih terlalu berbahaya untuk kamu saat ini. Ustaz juga yakin baik kedua orang tua ustaz atau kedua orang tua kamu akan mengerti," ucap Ustaz Hafid mencoba memberikan pengertian, ia berbicara begitu lembut.

__ADS_1


"Udah deh, intinya Ustaz Hafid nggak tertarik pada aku!!!" ucap Cika dengan suara begitu ketus, ia berjalan menuju pintu kamar, "Ustaz tidur sendiri aja, aku mau tidur di bawah. Ingat, jangan menyusul! Aku lagi marah sama Ustaz Hafid!" Setelah mengucapkan itu Cika menutup pintu kamar cukup keras membuat Ustaz Hafid sedikit kaget.


__ADS_2