Menikah Dengan Ustaz

Menikah Dengan Ustaz
Bab 57 : Mulai Posesif


__ADS_3

"Ini." Ustaz Hafid menundukkan kepalanya. Pria ini menunjuk pipi kanannya. "Biar lebih mudah. Nggak usah jinjit-jinjit," katanya memainkan kedua alisnya


Cika langsung mendorong wajah Ustadz Hafid untuk jauh-jauh dengannya.


"Apaan sih, Tadz. Kepedean!" Cika memundurkan langkahnya untuk menjauh.


Ustadz Hafid tersenyum geli. Ia tahu, isteri kecilnya itu sedang mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya.


"Apa, lihat-lihat?" Cika mengerucutkan bibirnya. Ia segera berjalan ke arah rak mengambil nampan, kemudian menaruh dua gelas teh hangat itu.


Ustaz Hafid tidak menjawab. Ia tetap saja mengikuti ke mana langkah kaki Cika, membuat Cika kian geram.


Cika mengembuskan napas panjang. Dan tubuhnya tersentak kaget saat satu tangan Ustaz Hafid bergerak melingkar di perutnya. Membuat ia merasa risih.


"Um, Ustaz Hafid, bisa nggak tangannya itu jauh-jauh!" ucapnya, dan mencoba menyingkirkan. "Aku mau antar teh ini, teman aku nunggu lama nantinya, Tadz," lanjutnya.


Ustaz Hafid menuruti.


Cika mengatup kedua bibirnya. Ia diam sejenak mengingat sesuatu sebelum benar-benar keluar dari dapur.


"Aku jadi ingat ceramah Ustazah Laili. Tentang berduaan. Kata Ustazah Laili kita nggak boleh berkhalwat karena setan akan menjadi orang ketiga. Mungkin benar ya, Tadz. Banyak setan di sini. Ih, seram juga." Setelah mengatakan itu Cika berlalu pergi.


Ustaz Hafid menggaruk tengkuknya yang tidak gatal mendengar ucapan istri kecilnya itu. "Itu untuk pasangan yang belum halal, Cika. Kalau kita ...."


"Tetap saja. Banyak setan di dapur. Setan itu termasuk Ustaz juga," sahut Cika dari kejauhan.

__ADS_1


...* * *...


"Maaf, ya, aku kelamaan." Cika menaruh dua gelas teh hangat itu di atas meja, "Silakan diminum," sambungnya.


Ivan dan Audy mengangguk.


"Kamu ada acara malam ini, Cika?" tanya Ivan setelah menyeruput teh hangat itu.


"Enggak ada," jawab Cika ramah.


"Hm. Kita keluar, yuk, nanti malam."


"Kemana?"


"Aku mau ajak kamu dinner malam ini. Bisa?" Ivan bertanya penuh harap.


Saat bersamaan Ivan mengikuti sorot mata Cika. Ustaz Hafid yang masih di tangga itu gelagapan. Pria itu tersenyum tipis sebelum melanjutkan langkahnya menuju kamar.


"Bagaimana, Cika. Kamu bisa, kan?" Ivan kembali bertanya.


"Maaf, Kak Ivan. Aku nggak bisa. Kak Ivan tahu sendiri bagaimana sikap ayah aku. Ayah nggak pernah izinin aku pergi keluar malam-malam," jawab Cika menolak halus.


"Aku bisa bantu kok bujuk Om Dedi buat izinin kamu. Biar kalian bisa dinner," celutuk Audy.


Cika mengepalkan tangannya. Kesal. Dengan sikap Audy yang tidak peka.

__ADS_1


"Mau kamu bujuk pun ayah tidak akan luluh, Dy," balas Cika.


"Oke, aku bisa ngerti." Ivan menggeserkan tubuhnya lebih dekat dengan Cika. Ia meraih tangan Cika. "Tapi, please datang besok sore ke sekolah," lanjutnya.


Cika mencoba melepaskan genggaman tangan Ivan, tetapi Ivan enggan mau melepaskannya, "Bu ... buat apa ke sana?"


"Besok tim aku bertanding main basket dengan sekolah lain. Aku mau kamu datang support aku, dan tidak ada penolakan!" finalnya mutlak dan Ivan segera melepaskan genggaman tangannya.


"Um, insyaAllah, Kak."


Cika sangat berharap Ustaz Hafid tidak melihat saat Ivan menggenggam tangannya barusan, habislah riwayatnya.


...* * *...


Cika menghempaskan tubuhnya secara kasar ke atas sofa. Akhirnya, Ivan dan Audy pulang juga setelah berjam-jam di rumahnya. Bukan tak suka, hanya ia merasa risih bila dekat-dekat dengan Ivan.


Ustaz Hafid yang baru turun dari kamar itu ikut duduk. Pria ini langsung meraih kedua tangan Cika.


"Eh, Ustaz. Kok telapak tangan aku dilap?" Cika bertanya heran, ia melihat tangannya itu tak kotor sama sekali. Ia mengerutkan keningnya melihat tingkah aneh pria berpeci itu.


"Hanya tidak suka. Ada pria lain yang memegangmu," ujarnya tanpa menoleh. Pria ini fokus membersihkan tangan Cika dengan tissue basah.


Setelah selesai membersihkan. Ustaz Hafid menggenggam erat tangan Cika.


"Ustaz ...."

__ADS_1


"Nggak boleh banyak protes. Tadi ustaz lihat kamu tidak marah dipegang-pegang oleh temanmu itu. Hal itu pun harus terjadi pada ustaz. Bahkan ustaz bisa berhak tanpa meminta izin," sahutnya. Satu tangannya mengambil remote untuk menyalakan TV.


"Gini, ya, kalau suami cemburu? Sangat aneh," batin Cika.


__ADS_2