
Cika sudah menaiki beberapa wahana permainan yang ada di pasar malam itu, tetapi ada satu lagi yang ingin sekali dicoba untuk menguji nyalinya. Rumah hantu. Ia menoleh ke arah Ustaz Hafid yang masih setia mengekor di belakangnya. Dengan senyum terus terukir di bibirnya, gadis ini berkata,
"Tadz, kita ke rumah hantu lagi, yah," ucap Cika penuh semangat, gadis ini masih belum puas. Ia menarik tangan Ustaz Hafid dengan paksa untuk mengikuti dirinya lagi.
Ustaz Hafid menggelengkan kepalanya cepat, dan menghentikan langkahnya. Fisiknya sudah sedikit terasa lelah. Belum lagi kepalanya sedikit terasa pusing sejak tadi pagi. Namun, demi kebahagiaan Cika Ustaz Hafid berusaha melawan sakit kepalanya. "Kita pulang aja," sahutnya singkat.
Cika yang mendengar ucapan itu mengerucutkan bibirnya. "Tadz, ayolah!" ucapnya sedikit memaksa.
"Sekali lagi."
"Please, setelah itu baru pulang."
Cika terus berusaha membujuk.
Ustaz Hafid tetap dengan pendiriannya. Tidak mau mengikuti keinginan istri kecilnya itu. Mertuanya sudah menelepon beberapa kali, mereka khawatir karena dirinya dan Cika belum juga sampai di rumah.
"Ustaz Hafid! Ish, nggak peka. Aku baru kali ini jalan-jalan tahu." Cika mencebik kesal. Ingin mencubit pinggang Ustaz Hafid meluapkan kekesalannya. Namun, Ustaz Hafid sudah lebih dulu menghentikan aksinya.
"Berhenti bersikap seperti anak kecil, Cika. Ini sudah mau larut malam juga," ucap Ustaz Hafid melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Sepuluh menit lagi menunjukkan pukul sepuluh malam.
__ADS_1
"Nggak, aku mau masuk ke sana dulu. Baru mau pulang!"
Perdebatan yang terjadi antara Cika dan Ustaz Hafid menjadi tontonan gratis bagi orang-orang yang ada di tempat itu. Ustaz Hafid yang menyadari itu, ingin segera mengajak Cika keluar. Apalagi tidak sengaja mendengar ucapan seseorang yang menghina istri kecilnya itu.
"Sudah besar juga, masih kayak anak kecil aja sikapnya. Itu adik atau keponakan, Mas?" tanya seorang wanita dengan rambut sebahu bersama dengan suaminya. Cukup merasa geram melihat tingkah gadis yang tidak ia kenal.
Ustaz Hafid hanya membalas dengan senyuman tipis. Ia menarik lembut tangan Cika untuk keluar dari pasar malam. Walaupun mendapatkan penolakan dari Cika, karena istrinya itu tetap saja ingin di tempat itu lebih lama lagi.
Cika duduk menekuk wajahnya. Tidak ada sepatah kata pun keluar dari bibir mungil Cika. Ia tiba-tiba mengingat perkataan orang-orang yang mencelanya. Gadis ini merenung. Kepalanya tertunduk dalam-dalam. Tidak ingin menatap Ustaz Hafid yang duduk di sampingnya.
"Nggak ada niat untuk menceraikan aku, Tadz?" Entah apa yang membuat Cika tiba-tiba mengatakan itu.
Cika menatap wajah Ustadz Hafid langsung. "Ustaz sendiri yang bilang aku sering bersikap seperti anak kecil dan perkataan orang-orang itu juga benar aku kayak anak kecil, kalau Ustaz emang nggak kuat dengan sikap aku enggak apa-apa kok, aku emang belum pantas dan siap menjadi seorang istri," ucap Cika begitu panjang lebar.
Ustaz Hafid berusaha tetap tenang, sepertinya istri kecilnya itu terbawa oleh omongan orang-orang di pasar malam itu.
"Kalau perkataan ustaz salah, ustaz minta maaf. Ustaz tidak bermaksud apa pun," ujarnya. "Lagi pula tak semua masalah harus berakhir dengan perceraian, Cika," lanjutnya.
"Ustaz, sampai detik ini aku belum pantas, aku masih terus berusaha terbiasa dengan status aku menjadi seorang istri, tapi aku belum bisa sampai sekarang, aku belum siap dari segi mana pun," kata Cika, matanya menerawang jauh ke luar jendela. "Aku penasaran kenapa Ustaz Hafid mau sama sama aku, menikahi aku dengan alasan yang sampai sekarang belum diterima oleh logikaku. Ustaz bilang sendiri aku hanya santri nakal dan nggak ada sesuatu hal yang perlu dibanggakan dari aku. Dan juga kenapa ummi, abah, dan Ustazah Laili juga menyetujui begitu saja pernikahan kita? Kenapa mereka tidak melarang? Padahal mereka tahu bagaimana aku?" tanya Cika.
__ADS_1
Ustaz Hafid tak tahu harus menjawab apa, baru kali ia melihat istri kecilnya itu serius dalam pembicaraan. Ia menarik tubuh mungil Cika ke dalam dekapannya.
"Cika, jangan terlalu merendah diri sendiri. Di mata ustaz kamu sudah menjadi istri yang baik. Tetap menjadi versi dirimu sendiri," ucapnya.
"Ustaz Hafid, banyak wanita di luar sana yang dengan senang hati mau istri Ustaz. Apalagi Ning Aisyah itu, Ustaz dan dia sama-sama cocok."
Ustaz Hafid menunduk kepalanya, menatap wajah wanita yang masih ada di dalam pelukannya. "Ustaz sudah menutup hati untuk mereka, karena istri kecil ustaz begitu imut dan cantik. Dan satu lagi begitu jahil," ucapnya sedikit tertawa kecil. "Lain kali jangan tanyakan lagi kenapa pernikahan kita bisa terjadi, itu sudah menjadi kehendak yang Maha Kuasa. Kita memang sudah ditakdirkan untuk bersama," lanjutnya.
Cika mengangguk, kemudian berkata, "Aku nggak terima dipanggil istri kecil, Tadz. Aku sudah tujuh belas tahun."
"Iya, iya. Ustaz nggak panggil istri kecil lagi. Terus mau dipanggil—Sayang? Tapi kamu nggak suka dipanggil begitu."
"Sekarang udah boleh, tapi saat kita berdua dan di hadapan Novi dan Dinda aja."
"Novi dan Dinda?"
"Mereka masih suka sama Ustaz Hafid, aku mau bikin mereka iri, hehe."
"Astaga ada-ada saja." Ustaz Hafid melepaskan pelukannya dan dengan perasaan gemas ia menarik secara bersamaan kedua pipi istri kecilnya itu.
__ADS_1