
Cika duduk di meja belajar yang ada di kamarnya, niatnya untuk tidur pudar karena matanya tak sama sekali bisa terpejam. Akhirnya ia memilih untuk duduk di meja belajarnya tanpa ada aktivitas apa pun yang ia lakukan. Kebetulan posisi meja belajarnya itu menghadap ke jendela ia dapat melihat ayah dan ibunya yang telah berlalu pergi dengan mobil. Bola matanya terus menatap hal-hal yang random sembari merenungi diri.
"Kenapa Ustaz Hafid tak berterus-terang aja kalau masih mencintai Ning Aisyah itu?" tanyanya terhadap dirinya sendiri. "Dengan itu aku bisa mundur ...." lanjutnya terus berbicara sendiri. Kata-kata yang diucapkannya, sebenarnya sungguh sangat menyakiti dirinya sendiri.
Sejenak, ia menatap jemari manisnya. Ia melihat cincin berlian yang tersemat di situ. Perlahan, ia mengeluarkannya dan menyimpan cincin berlian yang sakral itu dalam kotaknya kembali. Tak tahu kenapa ia merasa tak pantas saja memakainya lagi.
Suara ponsel di atas nakas mengalihkan perhatiannya, ia mengambil benda pipi persegi itu dan melihat panggilan tak terjawab beberapa kali dari Novi dan Dinda. Ia langsung menonaktifkan ponselnya. Sekarang ia tak mau berbicara panjang dengan siapa pun, ia ingin menikmatinya keheningan ini tanpa ada seorang pun sembari mengingat dan merenungi kejadian-kejadian yang telah dilaluinya.
Jarum jam terus bergerak dan sekarang sudah menunjukkan pukul satu siang, namun Cika tetap pada posisinya di tempat belajar. Bibir mungilnya mulai memucat, tenaganya melemah. Dan perut bagian atasanya mulai nyeri.
"Huh, maagku kambuh," ucapnya sedikit mengeluh tak tahan dengan nyeri di area perutnya. Memang dari bangun tidur tadi, sampai detik ini perutnya belum terisi oleh apa pun.
Ia beringsut bangkit, mencoba mencari obat maag di kotak obat yang ada di kamarnya. Tapi nihil, ia tak menemukannya sama sekali. Sekarang bukan nyeri di area perutnya saja, kepalanya ikut pusing dan matanya seperti berkunang-kunang juga.
"Bibi," panggilnya dengan suara parau. Ia terus memanggil ART di rumahnya itu. "Bi," panggilnya kembali di depan pintu. Ia mengembuskan napas panjang, lupa jika ART-nya itu ikut bersama ayah dan ibunya. Ia di rumah sekarang hanya seorang diri. Ia ingin turun ke bawah, tetapi melihat kondisinya saat ini sangat tak memungkinkan.
Sedikit membungkukkan badannya, ia berjalan pelan ke arah meja belajar kembali mengambil ponselnya lalu menyalakannya. Menelepon siapa saja sekarang.
__ADS_1
Karena panggilan terakhirnya adalah ayahnya, ia langsung mengklik tombol hijau.
[Yah. ] ucap Cika setelah memastikan saluran telepon itu sudah terhubung dengan ayahnya itu.
[Ada apa, Cika? Kenapa kamu seperti sedang menahan sakit?] Pak Dedi di seberang sana bertanya panik mendengar suara Cika.
Cika berjongkok tak tahan dengan nyeri perutnya.
[Ya Allah, jangan membuat ayah khawatir, Sayang.] Suara Pak Dedi kembali terdengar di seberang sana, pria paruh baya itu semakin panik.
[Um, maagku kambuh, Yah ....] Cika tak dapat melanjutkan ucapannya, ponselnya terlepas dari tangannya jatuh ke ubin keramik. Tak lama ia merasakan kepalanya begitu berat, dan beberapa detik kemudian ia tak sadarkan diri lagi.
Ustaz Hafid mengetuk beberapa kali pintu rumah sembari mengucapkan salam, namun nihil tak ada seorang pun yang menjawab dari dalam rumah. Ia memutar kenop pintu, ternyata pintunya tak dikunci juga.
Hal pertama yang ia cari setelah kakinya masuk ada istri kecilnya itu, bola matanya bergerak menelusuri setiap ruangan, tetapi tak menangkap sosok yang dicari itu.
"Cika?" panggilnya untuk kesian kalinya. Kakinya dengan cepat melangkah ke atas menuju kamar. Pintu kamar terbuka lebar, ia terkejut melihat tubuh Cika yang tergeletak di ubin keramik di samping tempat tidur.
__ADS_1
"Astagfirullah," ucapnya langsung berlari secepat mungkin menuju tubuh Cika yang tak berdaya itu. Ia memangku kepala Cika, menepuk berkali-kali, tetapi tak ada respons. Mata istri kecilnya masih tertutup rapat. Ia dilanda ketakutan. Ada cairan bening mengalir di pipi pria berpeci ini, pertanda ia takut terjadi apa-apa dengan Cika, tetapi secepat kilat ia menghapusnya.
Ia menggendong tubuh Cika, yang dipikirkannya sekarang ia harus membawa Cika ke rumah sakit secara mungkin, namun saat di ambang pintu ia bertemu dengan kedua mertuanya yang tak kalah panik.
"Bawa Cika ke ruangan kerja ayah secepatnya, Fid," ujar Pak Dedi. Ia melangkah terlebih dahulu, pria paruh baya tak kalah panik.
Sepuluh menit berlalu, Cika sudah selesai ditangani. Pak Dedi mengembuskan napas lega, kondisi Cika tak terlalu buruk seperti yang ada di benaknya tadi. Tak henti-hentinya pria paruh baya ini mengucapkan syukur. Ia keluar dari ruangannya, duduk di ruangan sofa.
"Bagaimana kondisi Cika, Yah? Maagnya nggak tambah parah?" tanya Bu Linda.
"Alhamdulillah, nggak, Ma. Dia juga cukup kekurangan darah makanya kondisinya begitu drop begini," jelas Pak Dedi.
Ustaz Hafid yang mendengar itu mengucapkan alhamdulillah.
"Fid, maaf sebelumnya bukan bermaksud ayah ingin ikut campur, kamu dan Cika bertengkar?" tanya Pak Dedi begitu hati-hati, ia hanya ingin tahu dari menantunya langsung masalah apa yang tengah terjadi.
Ustaz Hafid terdiam sejenak memikirkan. "Nggak, Yah. Hubungan kami baik-baik saja."
__ADS_1
Pak Dedi hanya mengangguk paham. Tak lama ia berkata dengan suara tenang, namun serius, "Fid, sekarang kamu yang lebih tahu bagaimana Cika daripada kami orang tuanya. Terkadang Cika memang suka manja, kekanak-kanakan, dan juga sangat sulit diatur. Ayah harap kamu bisa cukup mengerti, bukan berniat membela, tetapi kami yang salah mendidiknya. Ayah minta ke kamu tetap di sisinya, apa pun kondisinya. Bimbing dia menjadi wanita yang terbaik di matamu, perlakukan dia sebagaimana kamu memperlakukan ummimu," ucap Pak Dedi panjang lebar.
Ustaz Hafid mengangguk mengerti. Kali pertama mendengar mertuanya menasehati dirinya dengan kata-kata yang begitu menyentuh hatinya.