Menikah Dengan Ustaz

Menikah Dengan Ustaz
Bab 35 : Sulit untuk Dimengerti


__ADS_3

"Fid. Tempat umum, nih," ujar Ustaz Andre sedikit menggoda.


"Nggih, Ndre."


"Kak, adik sendiri dilupain," ucap Ustazah Laili. Wanita yang menggunakan jilbab lebar ini meraih punggung tangan kakaknya itu dan menciumnya. Wanita itu juga rindu dengan kakaknya, ia memeluk tubuh Ustaz Hafid.


Cika menjauhkan tubuhnya sedikit dari Ustaz Hafid, memberikan celah untuk Ustazah Laili mengobrol lebih leluasa dengan Ustaz Hafid. Ia sedikit malu, lupa juga kalau ia berada di tempat umum.


"Mana mungkin, Dek." Ustaz Hafid mengusap lembut kepala Ustazah Laili yang dibaluti jilbab itu.


Tak lama terdengar perut Cika berbunyi, cacing-cacing dalam perutnya itu sudah berdemo kelaparan. Ia malu, mendengar bunyi perutnya itu, "Ustaz, ayo kita pulang. Udah lapar!" ucap Cika sembari memegang perutnya.


Ustaz Hafid mengangguk setuju. Meraih tangan Cika dan menggengam dengan erat. Mereka berdua berjalan bersama menuju mobil.


"Kok aku baru sadar Ustaz Hafid ganteng," jawab Cika memandang wajah Ustaz Hafid dengan saksama.


Ustaz Hafid tersenyum mendengar pujian itu, tak tahu kenapa tiba-tiba saja istri kecilnya berucap seperti itu, tak seperti biasanya. "Hem. Baru nyadar suamimu ganteng?"' tanyanya menaikkan sebelah alisnya.

__ADS_1


"Hehehe ...." Cika hanya bisa tertawa cengengesan memperlihatkan sederet giginya yang rapi.


Ustaz Hafid dibuat gemas melihat tingkah laku istri kecilnya itu. Ia tak henti-hentinya memegang kedua pipi chubby Cika. Mereka semua segera masuk ke dalam mobil. Cika dan Ustaz Hafid duduk di kursi belakang berdua.


Cika memiringkan tubuhnya ke arah Ustaz Hafid, sembari berkata, "Ustaz, tahu nggak besok hari apa?" Ia bertanya penuh semangat. Seulas senyum tipis terukir di bibirnya.


"Isnaini (senin)," jawab Ustaz Hafid. Tangannya tidak berhenti untuk mengelus pipi Cika.


Cika menggelengkan kepalanya pelan. "Bukan, Ustaz," jawabnya masih bisa memaafkan jawaban Ustaz Hafid barusan. Ia kembali melanjutkan, "Tebak lagi."


"Ustaz nggak tahu, yang ustaz tahu besok memang benar hari isnaini, Cika," jawab Ustaz Hafid tidak mengerti apa maksud pertanyaan istri kecilnya itu.


Sejenak Ustaz Hafid berpikir. Ia kembali bersuara, "Em ... besok ustadz pergi isi kajian di rumah teman. Sangat sibuk sepertinya."


Jawaban itu membuat mood Cika langsung hancur, ia menghela napas panjang beberapa kali. Dengan cepat ia segera menyingkirkan tangan Ustaz Hafid dari pipinya.


"Jangan pegang-pegang lagi! Aku nggak mau ngomong sama Ustaz Hafid," ujarnya dengan wajah langsung ditekuk. Gadis ini mencebik kesal dalam hatinya, karena Ustaz Hafid tidak mengingat hari ulang tahunnya. "Huh, masa tanggal lahir istrinya enggak ingat. Ustaz Hafid nggak romantis," gumamnya.

__ADS_1


"Kenapa, Cika? Ustaz salah apa?" tanya Ustaz Hafid, wajahnya tampak frustrasi melihat sikap Cika yang sungguh cepat berubah.


Cika tidak menjawab, ia malah menggeserkan tubuhnya memberi jarak antara dirinya dan Ustaz Hafid.


"Cika, ustaz sedang bertanya," ucap Ustaz Hafid tak mau menyerah.


"Aku udah bilang enggak mau ngomong sama Ustaz Hafid. Pikirkan saja kesalahan Ustaz Hafid."


"Letak kesalahan ustaz dimana? Perasaan Ustaz nggak melakukan apa pun."


"Terserah."


"Cika." Ustaz Hafid ingin meraih tangan Cika, tetapi dengan gerak cepat Cika menepisnya. "Jelaskan ke ustaz sebenarnya apa maksud kamu," lanjutnya.


"Nggak ada apa-apa," jawab Cika agak ketus, ia memilih memandang ke luar jendela.


Ustazah Laili dan Ustaz Andre tertawa kecil melihat perdebatan yang terjadi antara keduanya.

__ADS_1


"Wanita memang sulit untuk dimengerti, Fid," celetuk Ustaz Andre dari depan.


__ADS_2