Menikah Dengan Ustaz

Menikah Dengan Ustaz
Bab 61 : Bertemu dengan Ning Aisyah


__ADS_3

Beberapa hari kemudian. Cika dan Ustaz Hafid sudah kembali ke pesantren. Sudah cukup lama, mereka berada di rumah Pak Dedi dan Bu Linda. Hari libur Cika pun segera berakhir.


Wanita bercadar berjalan pelan ke arah gadis yang sedang duduk di salah kursi besi di bawah pohon ketapang.


Matanya menyipit, ia tersenyum di balik cadarnya. "Assalamu'alaikum, Cika," salamnya dengan ramah.


"Wa'alaikumussalam, Ning Aisyah." Cika menjawab tak kalah ramah.


Ia menggeserkan tubuhnya sedikit, memberikan tempat untuk wanita bercadar itu duduk di sampingnya. Timbul rasa canggung baginya, karena untuk pertama kali, ia berbicara empat mata dengan Ning Aisyah.


Sesuai dengan janji Ustaz Hafid, ia mempertemukan Cika dengan Ning Aisyah. Agar kesalahpahaman tidak terjadi lagi di dalam pernikahannya.


"Kaifa haluki (bagaimana kabarmu) Cika?" tanya Ning Aisyah.

__ADS_1


"Ana bikhoirin walhamdulillah (saya baik-baik saja), Ning Aisyah," jawab Cika.


"Alhamdulillah," sahut Ning Aisyah.


"Pakai bahasa Indonesia saja, Ning. Aku nggak terlalu pandai berbicara bahasa Arab, hehehe," tutur Cika tersenyum canggung.


Ning Aisyah mengangguk. Ia meraih tangan Cika. "Saya minta maaf jika selama ini kamu dan Hafid sering bertengkar karena saya. Jujur, sudah sejak lama saya ingin bertemu dengan kamu menjelaskan bahwa saya dan Hafid tidak ada hubungan sama sekali setelah kalian berdua sudah terikat dalam ikatan pernikahan. Namun, Allah belum mengizinkan kita untuk bertemu ada saja halangan, dan hari ini alhamdulillah Allah sudah mengizinkan kita," ucap Ning Aisyah, perempuan bercadar ini kembali tersenyum.


Ning Aisyah mengusap lembut kepala Cika yang dibaluti jilbab itu. Ia menganggap Cika seperti adiknya sendiri.


Perbincangan kedua wanita itu berlanjut panjang. Ning Aisyah menjelaskan sejujur-jujurnya, alasan ia dan Ustaz Hafid pergi bersama ke Mesir waktu itu.


"Kami bekerja sama untuk membangun sebuah panti asuhan tidak jauh dari pondok pesantren ini. Beberapa minggu lagi, panti asuhan itu insyaaAllah sudah layak dihuni. Suamimulah yang menjadi pendiri dari panti asuhan itu. Itulah sebab, waktu itu saya pernah menelepon Hafid. Hanya ingin menanyakan apakah ada yang kurang lagi seperti biaya, karena alhamdulilah para santri di pondok pesantren saya banyak yang ingin menyumbang untuk pembangunan panti asuhan itu," jelas Ning Aisyah kembali.

__ADS_1


Cika terdiam, beberapa hari yang lalu ia sempat bertengkar kembali dengan Ustaz Hafid karena telepon dari Ning Aisyah itu. Dan sekarang semuanya sudah jelas, ia jadi percaya juga dengan penjelasan Ustaz Hafid. Ia mengingat perkataan Ustaz Hafid yang menasehatinya waktu itu, 'Jangan pernah menyimpulkan sesuatu hal yang belum kamu tahu kebenarannya'.


Satu detik kemudian, Cika menaruh wajah cemberut seraya berkata, "Kok Ustaz Hafid nggak pernah cerita sama aku tentang panti asuhan itu."


Ning Aisyah tertawa kecil melihat wajah Cika. Lucu. Karena merasa gemas ia menarik lembut pipi chubby Cika. " Mungkin, belum waktunya," jawab Ning Aisyah.


"Afwan. Kamu sangat menggemaskan." Ning Aisyah buru-buru minta maaf.


Cika mengangguk. "Aku juga cantik, 'kan, Ning Aisyah?" tanya Cika penuh percaya diri.


"Iya."


Mereka berdua terus bertukar cerita. Bercerita tentang pengalaman masing-masing. Cika cukup kaget mendengar bahwa Ning Aisyah akan menikah dengan Ustaz Andre.

__ADS_1


__ADS_2