
Dua minggu lebih, waktu yang cukup lama. Hubungan Cika dan Ustadz Hafid kian renggang. Ustaz Hafid dan Cika tidak pernah bertegur sapa lagi selama dua minggu itu. Walaupun mereka berdua sering berpapasan dan bertemu di dalam kelas, tetapi tetap saja mereka hanya saling memandang satu sama lain saja.
Angin sore menerpa wajah gadis yang sedang duduk sendirian di salah satu kursi besi yang ada di bawah pohon rindang di pesantren itu. Tak lain adalah Cika.
Sorot matanya tampak kosong menatap bunga-bunga yang bermekaran di hadapannya itu. Ia memejamkan matanya, mencoba menerima semuanya dengan lapang dada.
Derap langkah terdengar mendekat, sesegera mungkin ia membuka bola matanya ketika mencium bau maskulin pria yang sangat ia kenal. Siapa lagi kalau bukan Ustaz Hafid, suaminya..
Cika berpura-pura tidak peduli dan bersikap bodoh amat atas kehadiran Ustaz Hafid.
"Assalamu'alaikum, Cika." Ustaz Hafid membuka obrolan. Menatap dengan intens wajah gadis yang duduk di sampingnya itu.
"Wa'alaikumussalam," sahut Cika agak ketus, tanpa menoleh.
Ustadz Hafid meraih tangan Cika. "Ustaz akan jelasin, tapi tolong jangan bersikap seperti ini lagi," tutur Ustaz Hafid begitu lembut. Sungguh tidak sanggup bagi pria berpeci ini ketika dicuekin oleh istri kecilnya itu. Hari-harinya terasa berbeda tanpa tingkah jahil Cika.
Cika memutar tubuhnya sedikit ke arah Ustaz Hafid. "Ceritakan saja," sahutnya, semakin ketus. Ia segera melepaskan genggaman tangan Ustaz Hafid.
Ustaz Hafid mengembuskan napas panjang sebelum memulai menceritakannya. "Ustaz memang sempat dijodohkan sama Aisyah, bahkan sudah sampai tahap khitbah. Namun, semua sudah selesai, ustaz tidak mempunyai hubungan apa pun dengan Aisyah sejak menikahimu. Aisyah sering datang ke pesantren ini karena memang dekat dengan Laili. Ustaz jujur, hati ustaz sepenuhnya milikmu, Cika. Kamu jangan terlalu percaya dengan omongan-omongan teman-teman kamu," jelas Ustaz Hafid panjang lebar.
Cika masih menyimak. Mencerna setiap kata-kata yang terucap dari bibir Ustaz Hafid. "Segitu aja penjelasannya?" tanyanya dengan nada suara seperti biasanya.
__ADS_1
"Iya," jawab Ustaz Hafid. Ia kembali melanjutkan, "Ustaz hanya mencintaimu."
Mendengar ucapan itu bibir Cika langsung terangkat menyungging senyum tipis, ia langsung memeluk tubuh Ustaz Hafid dengan erat. "Ana uhibbuka fillah, Tadz," ucapnya malu-malu. Ia akhirnya mengerti kalimat itu karena sempat bertanya pada Novi dan Dinda artinya.
"Jadi sudah maafin ustaz?" tanya Ustaz Hafid tersenyum bahagia juga. Ia menundukkan kepalanya, menatap gadis yang masih memeluk tubuhnya itu.
"Belumlah!" Cika melepaskan pelukannya, mengatur mimik wajahnya. "Aku akan maafin Ustaz tentu ada syaratnya. Karena Ustaz sudah membuat aku sakit hati dan nangis terus," lanjutnya lagi.
"Syaratnya apa?" Ustaz Hafid bertanya penasaran.
Senyum jahil terbit di bibir Cika. Ia menunjuk lapangan. "Lari keliling lapangan sepuluh putaran baru aku maafin."
"Sepuluh kali?" tanya Ustaz Hafid tak percaya.
Ustaz Hafid menelan ludah dalam-dalam, ukuran lapangan pesantren itu cukup besar. Apakah dirinya akan sanggup?
"Ayo, Tadz. Bisa nggak? Sebelum keputusan aku berubah!" Cika bangkit berdiri.
Ustaz Hafid menahan tangan Cika, dengan suara pasrah ia berkata, "Baiklah."
"Bagus, baru gentle men ini namanya. Cepat sudah lari sana. Semangat, ya, suamiku." Senyum kemenangan terus terukir di bibir Cika, akhirnya ia bisa mengerjai Ustaz Hafid juga.
__ADS_1
Cika berdiri di sisi lapangan, menghitung putaran lari Ustaz Hafid. "Baru dua putaran, Tadz. Tinggal delapan putaran lagi," teriak Cika penuh semangat.
Santri putri lainnya, berhamburan keluar saat melihat Ustaz Hafid berlarian di lapangan. Suatu moment langka bagi mereka melihatnya. Setelan baju Ustaz Hafid kelihatan berbeda. Sekarang ia menggunakan training panjang dipadukan dengan kaos oblong polos warna putih. Biasanya Ustaz Hafid menggunakan sarung dan baju koko. Berbeda dengan kali ini, membuat santri putri yang kagum akan dirinya kian histeris melihat penampilannya.
"Huft, capek juga." Ustaz Hafid berhenti sejenak mengatur napasnya. Keringat membasahi keningnya.
"Wah, Cika. Kenapa nggak panggil-panggil, sih, kalau Ustaz Hafid lagi lari di lapangan, ini langka, lho," ucap Novi menghampiri Cika.
"Mimpi apa semalam, Vi. MasyaaAllah Ustaz Hafid ganteng banget," pekik Dinda histeris. Meremas tangan Cika saking gemasnya melihat Ustaz Hafid yang berlari itu.
"Apa sih, Din. Kamu ikut-ikutan lebay kayak Novi!" Cika menyingkirkan tangan Dinda.
Dinda tidak menjawab. Netranya fokus dan tidak berkedip memandang begitu sempurna makhluk ciptaan Tuhan yang berlari itu. Begitu pun dengan Novi.
"Emang ustaz saja yang bisa hukum aku. Aku juga bisa, hahaha," batin Cika tersenyum kemenangan. Bahagia rasanya melihat wajah kelelahan di wajah Ustaz Hafid.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak, ya, teman-teman. Terima kasih 🖤🖤