
"Ummi, abah!" Ia berteriak sekencang-kencangnya di dalam kamar itu ketika tangan Ustaz Hafid mulai kehilangan kendali di tubuhnya.
Ustaz Hafid melepaskan pelukannya, ia segera beristigfar atas apa yang dilakukan barusan. "Maaf, ustaz sedikit khilaf barusan," tuturnya dengan begitu jujur.
Cika tak menjawab, justru ia berjalan cepat menuju pintu.
Kiai Abdullah dan Nyai Hana yang mendengar itu buru-buru datang. "Ada apa, Nak?" tanya keduanya kompak di depan pintu kamar.
"Hiks ... hiks ... Ustaz Hafid jahat Ummi, Bah. Ustaz Hafid mau lecehkan aku," aduhnya dengan begitu dramatis.
"Astagfirullahaladzim." Ustadz Hafid mengelus dadanya mendengar aduan tersebut.
"Buka pintunya, Nak," ujar Nyai Hana.
"Nggak mau dibuka sama Ustaz Hafid, Ummi, hiks ...." Cika berpura-pura menangis. Suaranya terdengar sedih sekali, membuat siapa saja yang mendengarnya akan merasa kasihan.
"Hafid!" Suara Kiai Abdullah terdengar naik dua oktaf.
"Nggih, Bah." Ustaz Hafid segera membuka pintunya kembali.
Cika langsung memeluk tubuh Nyai Hana setelah pintu kamar dibuka. "Ummi, Ustaz Hafid jahat. Seenaknya memeluk dan memegang tubuh aku tanpa persetujuan aku terlebih dahulu padahal, kan ...."
"Cika, berhentilah mengadu sesuatu hal yang tidak-tidak," potong Ustaz Hafid cepat. Jika tak begitu mungkin saja istri kecilnya itu akan menceritakan semuanya tanpa ada sensor sama sekali.
"Aku tidak mengadu yang tidak-tidak kok. Aku berkata jujur. Ustaz Hafid melakukan kekerasan pada aku barusan," jawabnya tak mau kalah.
Kiai Abdullah dan Nyai Hana beradu pandang mendengar perkataan tersebut.
"Mana mungkin kekerasan Cika, ustaz tidak melukai pun," timpal Ustaz Hafid, pria ini sedikit merasa tidak enakkan kepada ummi dan abahnya, karena mengganggu istirahat keduanya.
Cika melepaskan pelukannya, menatap Ustaz Hafid dengan sangar. "Itu menurut Ustaz, menurut aku ini tetap kekerasan!" sahutnya terus membela diri.
__ADS_1
Nyai Hana mengusap lembut kepala Cika yang dilapisi jilbab itu. "Sudah, Nak. Nanti ummi hukum, suamimu itu."
"Terima kasih, Ummi." Cika memeluk lengan mertuanya itu dengan manja. Ia kemudian menjulurkan lidahnya ke arah Ustadz Hafid, gadis ini merasa menang. "Aku enggak mau lagi tidur sama Ustaz Hafid," lanjutnya.
Ustaz Hafid mengembuskan napas panjang. "Iya sudah, kalau memang nggak mau tidur sama ustaz nggak apa-apa. Tapi besok jangan harap ya ustaz mengajakmu pulang, ustaz pergi sendiri saja," ujar Ustaz Hafid.
"Pulang ke rumah ibu dan ayah?" tanya Cika penasaran.
Ustaz Hafid membalas dengan anggukan kepala.
Dengan cepat ia berjalan ke arah Ustaz Hafid, memeluk lengan suaminya itu dengan manja. "Aku ikut pulang besok, Tadz." Cika menunjukkan mukanya yang imut, matanya berbinar bahagia.
"Syaratnya, penuhi dulu."
"Aku mau kok tidur sama, Ustaz," sahutnya dengan penuh keyakinan.
Setelah bernegosiasi cukup lama akhirnya Ustaz Hafid setuju juga. Ia beriyes bahagia dalam hatinya, mudah juga meluluhkan hati istri kecilnya itu. Sementara, Kiai Abdullah dan Nyai Hana kembali lagi ke kamar mereka. Keduanya merasa lucu melihat kepolosan menantunya.
Cika menggantikan gamisnya dengan baju tidur. Gadis ini naik ke atas kasur. Siap-siap untuk tidur.
"Jangan pegang-pegang! Jangan cari kesempatan, Ustaz." Cika memperingatkan, kepalan tangannya diangkat, ia menoleh ke Ustaz Hafid yang masih sibuk dengan dzikirnya. Walaupun dirinya setuju untuk tidur dengan Ustaz Hafid, bukan berarti ia sudah memaafkan Ustaz Hafid yang melupakan hari ulang tahunnya. Dua bantal guling ditaruh di tengah-tengah ia dan Ustaz Hafid sebagai pembatas.
"Pinjam handphone, Tadz."
"Untuk apa?" tanya Ustaz Hafid, tasbih di tangannya di letakkan di atas nakas. Ia sudah selesai dengan dzikirnya.
"Nonton."
"Nggak usah nonton, tidur saja. Nanti telat bangun sholat malam," ucapnya kemudian membaringkan tubuhnya.
Cika mengerucutkan bibirnya. "Aku belum ngantuk, Tadz. Aku cuma nonton sebentar kok." Cika menyingkirkan kembali bantal guling sebagai pembatas itu, ia menggeserkan tubuhnya lebih dekat dengan Ustaz Hafid, ia pura-pura merengek selayaknya anak kecil, lalu menggoyangkan tubuh Ustaz Hafid.
__ADS_1
"Cuma setengah jam, nggak lebih. Pinjam, ya." Cika merayu dengan suara lembut.
Ustaz Hafid menarik pipi Cika, mengacak-acak rambut panjang istri kecilnya itu dengan gemas. "Tahu sekali letak kelemahan ustaz," ucapnya.
Cika tersenyum lebar. "Berarti aku boleh pinjam handphone?" tanyanya.
"Nanti kamu main lagi," ujar Ustaz Hafid.
"Nggak kok. Suer deh, Tadz. Aku cuma ingin nonton aja. Aku janji," kata Cika menyakinkan.
Ustaz Hafid tampak berpikir sejenak. "Baiklah, tapi kamu nonton film apa?"
"Film horor. Ustaz ikut nonton juga, ya." Merasa lama menunggu, Cika langsung mengambil sendiri handphone yang ada di atas nakas.
Ia tampak serius menatap layar handphone itu. Film horor favoritnya sudah diputar, bulu kuduknya berdiri. Sementara itu, Ustaz Hafid tidak tertarik sama sekali dengan film yang ditonton oleh Cika, pria ini malah tertarik untuk menatap wajah cantik istri kecilnya itu yang sedang serius sekali. Tetap terlihat cantik dan imut, tangannya menari-nari di wajah Cika.
"Aaa!!!" Cika berteriak ketakutan, saat tiba-tiba hantu suster ngesot muncul secara tiba-tiba. Handphone di tangannya langsung dibuang sembarangan tempat, ia memeluk tubuh kekar milik Ustaz Hafid.
"Kalau takut, nggak usah nonton Cika."
"Hantunya terlalu jelek dan mengerikan, Tadz. Biasanya sih nggak kayak gitu," sahutnya yang masih dalam dekapan Ustaz Hafid.
"Kita tidur aja, ustaz sudah mengantuk juga." Ustaz Hafid menarik selimut menutupi tubuhnya dan Cika. Istri kecilnya itu masih ada dalam dekapannya. Memeluk tubuhnya dengan erat. Ia merasakan tubuhnya panas dingin sekarang, bagaimana pun ia pria normal. Apalagi saat ekor matanya mendapati kancing piama Cika yang terbuka. Kalau seperti ini terus bisa saja benteng pertahanannya runtuh. Hanya istighfar yang bisa dilakukan untuk menghilangkan semuanya.
"Cika, kamu tetap tidur seperti ini?" tanyanya.
"Iya, aku takut."
Ustaz Hafid mengembuskan napas berat. "Baiklah, tidur sudah."
"Tadz, baca ayat kursi dong. Aku takut suster ngesot itu datang," pintanya dengan suara serak.
__ADS_1
Ustaz Hafid menuruti keinginan Cika, ia segera membaca ayat kursi. Bibirnya mengukir senyum kecil melihat Cika yang sudah terlelap. Dengan begitu hati-hati ia mengecup puncak kening Cika. "Aku mencintaimu," ucap Ustaz Hafid sebelum dirinya juga ikut terlelap.