Menikah Dengan Ustaz

Menikah Dengan Ustaz
Bab 42 : Foto Bersama


__ADS_3

"Ustaz, berhenti!" teriak Cika spontan membuat Ustaz Hafid langsung mengerem mendadak.


"Astagfirullah, Cika. Kenapa ...."


Belum juga Ustaz Hafid selesai bicara. Cika sudah turun saja dari mobil. Ustaz Hafid buru-buru keluar menyusul istrinya itu yang entah mau ke mana.


Netra hitam Cika berbinar bahagia. Ia menyuruh Ustaz Hafid berhenti karena melihat pasar malam yang ada di pinggir jalan.


"Cika, kapan kita sampai rumah jika berhenti terus?" tanya Ustaz Hafid. Ia menahan tangan istrinya itu agar tidak jauh-jauh darinya. Mengingat sekitarnya yang sangat ramai. Takut. Bila Cika hilang atau pun diculik.


"Ustaz, kita pergi masuk sebentar aja. Aku ingin naik itu." Cika menunjukkan wahana permainan bianglala, "Ayo, Tadz! Boleh, yah?" tanyanya meminta persetujuan.


Ustaz Hafid menggeleng kepalanya cepat.


"Bentar aja kok, aku udah lama nggak pergi keluar begini, Tadz," rengeknya seperti anak kecil, berharap Ustaz Hafid akan luluh. "Ustaz Hafid selalu sibuk terus, nggak pernah ngajak aku keluar," lanjutnya terus berusaha membujuk.


Ustaz Hafid mengembuskan napas panjang. Ia sungguh tidak tega jika istri kecilnya itu memohon kepada dirinya. "Baiklah, tapi ingat sebentar saja."


Cika lompat-lompat bahagia mendengar jawaban itu, kemudian berkata, "Yeah. Terima kasih, suamiku," ujarnya dengan senyum tulus terbit di bibir mungilnya. Karena tidak sabaran ia segera menarik tangan Ustadz Hafid dan menggandengnya untuk segera masuk ke pasar malam yang sesak dan sangat ramai malam itu. Banyak muda-mudi dan anak-anak. Segala umur ada di tempat itu.


"Kita naik itu dulu, Tadz, ya?" tanya Cika sembari menunjuk kembali pada bianglala.


"Nggak usah naik itu," tolak Ustaz Hafid halus. "Terlalu tinggi."


"Aku enggak takut ketinggian, Tadz. Itu bukan apa-apa," jawab Cika meyakinkan. "Jangan-jangan Ustaz Hafid yang takut ketinggian?" lanjutnya.


"Nggak."


"Iya udah, kita harus naik itu!"


Ustaz Hafid tetap pada pendiriannya, tidak mengizinkan.

__ADS_1


Cika mengerucutkan bibirnya. "Aku ingin naik itu, Tadz. Kalau Ustaz nggak mau, aku naik sendiri aja. Aku berani kok," ucapnya dengan begitu ketus.


Cika melepaskan genggaman tangan Ustaz Hafid, ia berjalan sendirian ke arah penjual tiket. Buru-buru Ustaz Hafid mencegah, "Baiklah, kita naik itu bareng. Biar Ustaz aja yang beli tiketnya."


Dan senyuman manis kembali terbit di bibir Cika. Ia sudah menebak Ustaz Hafid tak akan tega melihat dirinya sendiri naik permainan itu.


Tidak butuh waktu lama Ustaz Hafid mendapatkan dua tiket. Setelah itu mereka berdua mengantre terlebih dahulu, karena banyak sekali orang yang juga yang berminat. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Cika dan Ustaz Hafid bisa masuk di sangkar burung raksasa itu.


"Akhirnya, bisa naik gini lagi." Cika berteriak sekencang-kencangnya ketika bianglala itu mulai berputar pelan. Membawa mereka ke atas.


Netra Cika menatap penuh kagum dan takjub melihat pemandangan dari atas yang sangat indah. Belum lagi bintang-bintang yang berkelap-kelip langit menambah keindahan malam itu.


"Ustaz Hafid, pinjam handphone," ucapnya mengulurkan tangan.


"Mau apa?"


"Foto untuk kenang-kenangan," jawab Cika begitu antusias. "Mau pamer ke Novi dan Dinda juga," lanjutnya cengengesan.


Ustaz Hafid mengambil benda pipi persegi itu di dalam saku celananya dan langsung diberikan kepada istri kecilnya itu.


Ustaz Hafid pun menurut begitu saja.


Cekrek. Terdengar bunyi camera itu pertanda jepretan foto mereka berhasil diambil.


"Bagaimana, Tadz. Bagus?" tanya Cika.


"Iya," ujar Ustaz Hafid, lalu menarik lembut pipi Cika.


Cika menoleh ke arah suaminya itu. "Untuk kali ini aku nggak akan marah, karena lagi baik hati."


"Karena apa baik hati?" tanya Ustaz Hafid penasaran.

__ADS_1


"Karena bahagia," jawabnya. "Ayo, kita foto lagi, Tadz," ajak Cika. Kali ini ia yang berinisiatif menggenggam tangan Ustaz Hafid terlebih dahulu.


"Tumben sekali," kata Ustaz Hafid tak percaya.


"Mau difoto, Tadz. Biar romantis," jawab Cika. Ia terus mengajak Ustaz Hafid berfoto dengan berbagai gaya.


"Fotonya sudah banyak," ucap Ustaz Hafid yang sudah mulai kelelahan.


"Satu kali lagi. Yang barusan buram, Tadz."


"Ustaz mau, tapi mau sedikit imbalan. Capek, lho," kata Ustaz Hafid terdengar menggoda.


"Hum, imbalan apa?" tanya Cika menaruh curiga.


Ustaz Hafid iseng-iseng menunjuk pipi kanannya dan pupil matanya seketika melebar ketikal istri kecilnya itu benar-benar melakukan apa yang diminta. Tak menyangka ...


"Ini di tempat umum, Cika," ujarnya pura-pura tidak terima.


"Ustaz, yang mau barusan," jawab Cika sedikit kesal. Ia cukup malu melakukan hal yang tadi, tak tahu juga ia kenapa dengan mudah melakukan apa yang diminta oleh suaminya itu.


"Nggak di sini juga maksud ustaz, Sayang."


"Terus?"


"Hmm." Ustaz Hafid mendekat wajah Cika kemudian berbisik pelan, "Di kamar."


"Ustaz Hafid!!!" Cika langsung menjauhkan tubuhnya dari Ustaz Hafid. Ia bergedik ngeri sendiri.


Ustaz Hafid hanya tertawa kecil melihat respons Cika. Senang melihat ekspresi ketakutan plus kesal di wajah istri kecilnya itu. Ia juga jadi merasa senang menjahilinya. "Nggak jadi fotonya?" tanyanya, di sela-sela tawanya.


"Nggak lagi. Ustaz Hafid curang, cari kesempatan terus sama aku."

__ADS_1


"Nggak apa-apa istri sendiri."


Jawaban itu membuat Cika terus bergumam kesal.


__ADS_2