Menikah Dengan Ustaz

Menikah Dengan Ustaz
Bab 53 : Mulai ada Jarak


__ADS_3

Larut dalam kesedihan begitu dalam bukan sekali tipe dari sosok Cika. Masalah yang menerpanya memang cukup sangat dan sangat membuat ia ingin pergi jauh saja dari Ustaz Hafid. Namun, setelah ia merenungi seharusnya tak pantas ia terlalu berlebihan. Ia biarkan saja semuanya mengalir dan mencoba menikmatinya. Jika ia terus-menerus terbelit dengan masalah itu, mungkin saja ia akan mati secepatnya karena depresi dan stress.


Sore ini ia bersepeda di sekitar tempat tinggalnya. Tak henti-hentinya ia melemparkan senyum manis kepada tetangga-tetangga yang menyapanya. Setelah puas bersepeda dan menikmati pemandangan yang indah dan segar di sekeliling rumahnya ia kembali lagi ke rumah dengan perasaan yang sudah cukup membaik.


"Hei, bibi!" sapanya kepada ART yang sedang menyirami tanaman itu.


"Baru selesai sepeda, Non?"


"Iya, Bi, lumayan keluarin keringat, hehehe," jawabnya, tangannya bergerak mengambil alih selang air di tangan ART-nya itu. "Aku aja, Bi. Kayaknya seru menyirami tanaman sore gini, apalagi cuaca bagus," lanjutnya dengan begitu antusias.


"Bibi jadi nggak enakkan. Non, baru saja selesai diinfus."


"Santai aja, Bi. Oh, ya,mulai besok Bibi nggak usah lagi cuci baju aku dan Ustaz Hafid dan membersihkan kamar aku lagi, ya," ucap Cika dengan tatapan fokus dengan bunga-bunga yang disiram.

__ADS_1


"Lho, kenapa, Non? Bibi bisa dipecat kalau gitu."


"Aku mau mandiri, Bi, mengerjakan semuanya sendirian. Kan aku sekarang sudah menjadi seorang istri," ucapnya dengan begitu yakin.


"MasyaaAllah, kalau ibu dan bapak dengar Non bicara gini pasti tak percaya," ucap ART itu dengan ekspresi cukup kaget, wajar saja ART ini mengatakan demikian karena baru pertama kali setelah bertahun-tahun di bekerja di rumah ini Cika berbicara seperti itu.


"Nggak juga sih, masih belajar aja," jawab Cika tetap fokus dengan kegiatannya. "Bi, aku juga mau belajar masak. Bibi ajarin aku, ya," ucapnya, langsung menoleh ke arah ART-nya itu dengan tatapan penuh pemohon.


"Kalau urusan masak bibi nggak terlalu ahli, Non. Kan ibu yang sering masak, bibi bantu beres-beres aja."


"Non, benar-benar sudah mulai berubah. Beda banget auranya dari kemarin-kemarin. Semoga, Non, terus begini, adem banget lihat Non Cika sekarang."


Cika tertawa mendengar itu. "Aku males aja, Bi, untuk memulai perubahan itu."

__ADS_1


"Terus apa yang memotivasi, Non, untuk berubah sekarang kalau gitu?"


Mata Cika menerawang ke mana-mana sebelum menjawab. "Pengen jadi istri yang baik aja, Bi. Kalau memang aku nggak bisa jadi istri yang baik di mata pria itu, aku pasrah aja yang penting aku udah berusaha."


ART itu tak lagi melanjutkan perbincangannya, sepertinya perbincangan selanjutnya terlalu sensitif. ART itu segera bangkit, berpamitan untuk pergi ke dapur meninggalkan Cika sendirian di teras rumah itu.


Cika meneguk jus jeruknya, yang merupakan tegukan terakhir. Setelah itu ia berjalan masuk menuju kamar, ia ingin segera membersihkan diri. Saat membuka pintu kamar ia melihat Ustaz Hafid yang sedang muroja'ah hafalannya. Ia memandang sekilas, dan duduk sebentar di tepi ranjang.


Ustaz Hafid pun bangkit, ia ikut duduk di samping Cika.


"Kapan mau muroja'ah hafalan? Sudah lama ustaz nggak simak lagi," ucap Ustaz Hafid.


"Iya, nanti selesai magrib," jawab Cika tanpa bantahan. Biasanya ia mempunyai berbagai alasan untuk menolak untuk muroja'ah, karena ia cukup malas untuk muroja'ah.

__ADS_1


"Baiklah," jawab Ustaz Hafid dan tak berkata apa-apa lagi.


Cika bangkit setelah itu, berjalan ke kamar mandi. Entah kenapa yang ia rasakan sekarang ada seperti sudah terbangun jarak antara ia dan Ustaz Hafid. Jarak yang entah siapa dulu yang membangunnya. Dan rasanya juga ia dan Ustaz Hafid sekarang kembali sama-sama merasa asing.


__ADS_2