Menikah Dengan Ustaz

Menikah Dengan Ustaz
Bab 8 : Menikah?


__ADS_3

"Din, Vi! Bantu aku dong. Kalian tega lihat aku sendirian membersihkan gudang sebesar ini?" tanya Cika, gadis yang menggunakan jilbab instan army itu tampak mengeluh.


Netranya menatap penuh memohon pada kedua sahabatnya. Sesuai dengan hukuman tadi pagi yang diberikan Ustaz Hafid, ia sekarang sudah ada di gudang belakang pesantren.


"Bukan kami nggak setia kawan, Cika. Kami takut dimarahin juga sama Ustaz Hafid," sahut Dinda.


"Iya, Cika. Kami hanya bisa menyemangati, saja hehehe ...," timpal Novi tertawa cengengesan.


"Hamasah, Cika!" ujar Dinda menyemangati.


Cika memutar bola matanya malas. "Kalian tetaplah jahat, nggak mau bantu aku!"


"Khem ...." Deheman Ustaz Hafid yang baru saja datang bersama Ustaz Andre yang merupakan sahabatnya dan juga seorang ustaz yang mengajar di pesantren itu.


Novi dan Dinda menundukkan kepalanya dalam-dalam kemudian, berpamitan untuk pergi dengan sopan.


"Kenapa masih diam mematung? Cepat bersihkan!" perintah Ustaz Hafid.


"Iya, iya." Cika mengentakkan kakinya kesal ke dalam gudang. Menyapu dengan malas-malasan.


"Bersihkan yang bagus." Ustaz Hafid mengulum senyum tipis melihat wajah kekesalan di wajah Cika, wajah gadis itu terlihat lucu bila sedang kesal. Dengan cepat Ustaz Hafid mengucap istigfar saat netra milik dirinya bertubrukan dengan netra milik Cika beberapa detik.


"Awas, lho, kepincut dengan santri sendiri, Fid," bisik menggoda Ustaz Andre.


Ustaz Hafid tidak menjawab apa-apa, ia kembali melangkahkan kakinya mengelilingi pesantren. Setiap sore Ustaz Hafid dan Ustaz Andre mengelilingi setiap sudut halaman pesantren, terutama di kawasan santri putra.


Sementara Cika hanya bisa tersenyum kecut melihat kepergian kedua ustaz itu di hadapannya. Dan hari pun sudah semakin gelap, ia mengelap keringat di wajahnya secara kasar.


"Akhirnya selesai juga," ucapnya lalu mengembuskan napas panjang. Menaruh sapu ijuk ke tempat semula.


Netranya melebar saat melihat pintu gudang tertutup rapat dan sudah terkunci.

__ADS_1


"Siapa yang mengunci pintu ini!" teriak Cika menggedor-gedor pintu itu.


Suara adzan magrib sudah berkumandang di masjid yang ada di pesantren itu. Cika masih menggedor-gedor pintu dengan tenaganya yang kian melemah. Suaranya sudah hampir habis akibat berteriak meminta tolong namun, sampai detik ini pun tidak ada tanda-tanda orang yang akan datang untuk menolong dirinya.


"Siapa pun yang ada di luar tolong buka pintunya!" Cika kembali berteriak keras. Bulu kuduk Cika berdiri, iaa sangat takut dengan kegelapan.


Air mata Cika luruh karena ketakutan, hawa aneh dan mencekam di ruangan itu. Tidak ada pencahayaan di dalam gudang. Sehingga ia kian menjerit ketakutan.


"Siapa yang mengunci pintu ini? Sungguh kalian jahat sekali!" Cika menjatuhkan tubuhnya ke ubin keramik, duduk menenggelamkan wajahnya dengan kedua lututnya.


"Ayah, aku takut ...." Air mata terus berjatuhan dari pipi Cika.


***


Di sisi lain Novi dan Dinda merasa khawatir dengan Cika, karena sahabatnya itu belum balik-balik ke asrama putri sejak tadi sore. Setelah selesai melaksanakan sholat magrib berjamaah. Kedua gadis itu berjalan pelan ke arah Ustaz Hafid dan Ustaz Andre di ambang pintu masjid. Mereka berdua memilih untuk bertanya kepada Ustaz Hafid secara langsung.


"Assalamu'alaikum, Ustaz," salam Dinda sambil menundukkan kepalanya, tak berani menatap kedua ustaz di hadapannya itu.


Jantung Dinda bertalu-talu tak karuan, saat berbicara dengan orang yang ia kagumi. Novi yang berdiri di samping Dinda itu tak kalah gugup dan jantungnya berdegup dua kali lebih kencang juga.


"Afwan, Ustadz. Cika kenapa belum balik-balik sedari tadi, ya." Novi membuka suara, gadis yang masih menggunakan mukena putih itu bertanya dengan sangat sopan.


"Belum balik?" Ustadz Hafid bertanya balik. Wajahnya tampak cemas dan terkejut. Seharusnya Cika sudah selesai menyelesaikan gudang pesantren itu.


"I ... inggih, Ustaz. Kami khawatir dengan Cika," jawab Dinda terbata-bata karena gugup.


"Kalian baik ke asmara, biar kami akan mencarinya ke gudang belakang." Ustaz Hafid segera berlalu pergi di hadapan Novi dan Dinda diikuti oleh Ustaz Andre.


***


Brugh!

__ADS_1


Brugh!


Ustaz Hafid dan Ustaz Andre mencoba membuka pintu gudang yang tertutup rapat itu secara paksa. Di sekitar gudang itu memang cukup gelap.


Cika yang memang meringkuk ketakutan di depan pintu itu beringsut bangkit menjauh. Ia mengucapkan syukur akhirnya ada juga yang datang menolong dirinya.


Brugh!


Setelah sekian lama menggedor pintu itu, akhirnya engsel pintu terbuka juga.


Deg!


Ustaz Hafid terkejut bukan main saat Cika refleks memeluk tubuh kekarnya dengan erat. Tasbih yang selalu ada di tangannya jatuh ke ubin keramik.


"Aku t---akut, Tadz," ucap Cika dengan isak tangisannya. Tangannya dengan bebas semakin erat memeluk tubuh Ustaz Hafid.


Ustaz Hafid segera menjauhkan tubuhnya dari Cika. Istighfar, tak henti-hentinya terucap di bibirnya. Baru pertama kali ia dalam hidupnya menyentuh wanita lain yang bukan mahram.


"Hmm." Deheman singkat Ustaz Andre, menghilangkan kecanggungan yang tiba-tiba terjadi.


Cika mengelap air matanya secara kasar di wajahnya. "Maaf, Tadz. Aku refleks barusan." Cika mengakui kesalahannya yang tiba-tiba saja memeluk Ustadz Hafid.


Ustaz Hafid tidak menjawab, pria ini sedang memikirkan sesuatu.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Ustaz Andre.


"Nggak apa-apa."


Ustaz Hafid membungkukkan tubuhnya. Mengambil tasbih yang terjatuh. "Aku akan menikahimu ...." ujar Ustaz Hafid dengan satu tarikan napas.


Napas Cika tersedak sejenak mendengar ucapan tiba-tiba dari pria di hadapannya itu.

__ADS_1


"What! Nikah?" tanyanya tidak percaya.


__ADS_2