Menikah Dengan Ustaz

Menikah Dengan Ustaz
Bab 50 : Memilih untuk Memendam


__ADS_3

Suara jangkrik mulai terdengar di luar. Seperempat menit lagi waktu tengah malam tiba, Cika beringsut duduk. Ia terbangun di malam buta ini karena ia kebelet untuk pipis. Ia menapaki kakinya yang telanjang ke lantai, lalu berjalan ke kamar mandi. Dan kembali lagi ke atas tempat tidur.


Ia menyandarkan kepalanya di sandaran kasur, menunggu kantuknya datang lagi. Ia menoleh ke arah Ustaz Hafid yang masih tertidur pulas itu, bibirnya terangkat membentuk senyuman melihat ekspresi wajah Ustaz Hafid yang sedang tertidur. Kali pertama memperhatikan wajah Ustaz Hafid yang tertidur.


"Aku baru sadar kalau Ustadz Hafid imut juga," gumamnya. Tangan mungilnya bergerak mengusap dengan hati-hati rambut Ustaz Hafid yang sedikit berantakan itu, kemudian jari-jemarinya bermain di wajah Ustaz Hafid. Karena merasa gemas dengan hidung pria yang tertidur pulas itu, ia menariknya dengan pelan dan hati-hati. Takut membuat Ustaz Hafid terbangun. Ia segera menghentikan aksinya ketika suaminya itu menggeliatkan tubuhnya.


"Aisyah." Ucapan itu keluar begitu di bibir Ustaz Hafid. Matanya masih terpejam. Sepertinya pria ini sedang mengigau.


Cika yang mendengar itu langsung membulatkan kedua matanya mendengar ucapan itu. "Aku enggak salah dengar?" ucapnya masih tak percaya Ustaz Hafid menyebut nama Aisyah. Raut wajahnya langsung berubah menjadi begitu murung.


"Kamu salah dengar, Cika. Positif thinking!" Gadis ini berusaha menepis pikiran negatif yang mulai muncul.


"Aisyah." Panggilan itu kembali terdengar.


Cika mengembuskan napas panjang. Ternyata ia tak salah dengar, dadanya terasa begitu sesak saat ini. "Huh, sudahlah. Ning Aisyah masih begitu penting di dalam hidup Ustaz Hafid ...."


Ia membaringkan tubuhnya, membelakangi Ustaz Hafid. Memang sudah berkali-kali Ustaz Hafid menjelaskan kepada dirinya bahwa sudah tak ada lagi hubungan antara suaminya itu dengan Ning Aisyah, tetapi kenapa kenyataan yang ia lihat sekarang berbeda? Kenapa Ustaz Hafid menyebut nama Aisyah?


Ada sesuatu yang terus memberontak ingin keluar dari persembunyiannya, namun ia mencoba menahannya tak mau Ustaz Hafid mengetahuinya. Ia memaksa matanya untuk terpejam, sering kali gagal tetapi akhirnya ia bisa terlelap dengan perasaan yang sulit untuk dijelaskan.


***

__ADS_1


Ke esokkan paginya. Cika tak seceria seperti biasanya, membuat orang-orang yang ada di rumah merasa heran melihat perubahan itu, karena tak seperti biasanya.


Sekarang Cika duduk di depan rumahnya, baru saja ia selesai menyapu halaman rumah. Tatapan gadis ini terlihat begitu kosong dan juga hampa. Ia memilih memendam semua perasaannya. Kali ini ia tak berniat menceritakan siapa pun, walaupun itu kepada kedua orangtuanya. Dan juga ia tak membahas hal itu dengan Ustaz Hafid sama sekali, ia memilih banyak bungkam.


Ia menggeserkan tubuhnya memberikan ruang untuk Ustaz Hafid yang baru saja datang untuk duduk.


"Cika, mau ikut keluar? Ustaz mau ke ponpes teman ustaz yang kebetulan dekat dari sini," ajak Ustaz Hafid.


"Nggak, Ustaz sendiri aja pergi," jawabnya singkat, tanpa menoleh.


Ustaz Hafid menaruh punggung tangannya ke kening Cika, memeriksa suhu tubuh istri kecilnya itu. Takut jika sakit, karena Cika yang sekarang bukan Cika yang ia kenal.


"Aku nggak apa-apa," jawab Cika.


Cika hanya mengangguk. Ia mencium punggung tangan Ustaz Hafid tanpa berkata apa-apa.


"Mau nitip beli sesuatu?" tanya Ustaz Hafid sebelum benar-benar pergi.


Cika menggeleng kepalanya pelan pertanda tidak usah. Setelah Ustaz Hafid pergi dari hadapannya, ia masuk berjalan menuju kamarnya. Ia berpapasan dengan ayahnya di atas tangga.


"Ayah dan ibu mau ke mall, kamu mau ikut, Sayang?" tanya Pak Dedi.

__ADS_1


"Nggak usah, Yah. Aku di rumah aja," jawab Cika berusaha seceria mungkin. Ia sudah hendak melangkah lagi, tetapi ayahnya itu menahan tangannya dan mengajak dirinya untuk turun kembali ke bawah. Ia pasrah untuk menuruti. Ia dan ayahnya duduk di sofa ruangan keluarga sekarang.


"Ada masalah apa, Cika?" tanya Pak Dedi serius. "Ayah tahu kamu sekarang sedang tidak baik, ceritakan ke ayah," lanjutnya.


Cika berusaha menerbitkan senyum khasnya, sembari mengangkat kedua jarinya. "Suer, Yah. Aku nggak punya masalah apa-apa dan juga aku baik-baik saja kok," jawabnya.


"Ayah bukan orang yang mudah kamu bohongi, Sayang. Ayah tahu bagaimana kamu," jawab Pak Dedi.


Cika mengembuskan napas panjang. Ia langsung terdiam kembali.


"Masalah dengan Hafid?" tanya Pak Dedi, "Jangan memendamnya sendirian, tidak baik untuk kesehatan kamu," lanjutnya.


Cika langsung memeluk tubuh ayahnya dengan erat. Tak terasa air matanya keluar begitu saja. Ia menangis dalam dekapan ayahnya. Nyatanya ia tak begitu kuat untuk menghadapi semuanya hanya seorang diri. Ia terlalu lemah.


Pak Dedi mengusap punggung Cika mencoba menenangkan. "Cika, ada apa, Sayang?" tanyanya begitu lembut. Ia tidak bisa melihat putri semata wayangnya terlihat begitu lemah di hadapannya.


Cika mengelap air matanya. Ia mencoba tersenyum meskipun air matanya tetap saja mengalir keluar. "Cuma masalah sepele kok, Yah. Maaf, ya, untuk kali ini aku nggak bisa ceritakan ke Ayah. Aku mau menyelesaikannya sendiri," jawab Cika penuh keyakinan.


Pak Dedi tersenyum mendengar itu. "Ayah paham dan ayah tak memaksa kamu menceritakannya, tetapi jika masalah kamu sudah benar-benar di luar jangkauan kamu untuk bisa dikendalikan, tolong kasih tahu ayah."


Cika mengangguk paham. "Jangan kasih tahu ibu atau Ustaz Hafid kalau aku nangis."

__ADS_1


"Iya, benaran nggak mau ikut sama ayah dan ibu?"


"Hum, iya. Aku pengen tidur aja, semalam aku kurang tidur," jawab Cika. Setelah mengatakan itu ia berjalan menuju ke kamar ada sedikit rasa lega di hatinya, karena sudah mengeluarkan cairan bening yang terus-menerus memberontak sejak semalam.


__ADS_2