
Cika sudah berpakaian rapi malam ini. Gadis itu tersenyum sendiri di depan cermin, melihat pantulan dirinya.
"Mau ke mana, Cika?" tanya Novi penuh selidik dari ranjangnya.
"Nggak ada," sahut Cika sambil memperbaiki ujung jilbabnya, "Aku sudah cantik nggak, Vi?" Cika menghadap Novi sepenuhnya, tersenyum lebar memperlihatkan sederet giginya yang putih dan rapi.
"Lumayanlah, tapi tetap masih cantik aku," balas Novi tanpa menoleh karena dia sedang mengerjakan tugas.
Cika berjalan ke ranjang Dinda, menarik mushaf yang ada di tangan sahabatnya itu. "Jangan terlalu serius menghafalnya, Din. Nanti juga lupa," kata Cika diakhiri dengan tawa ringan.
Dinda mengambil kembali mushaf di tangan Cika. "Jangan ganggu aku Cika! Mendingan kamu menghafal sana. Belum setor hafalan, kan?" tanya Dinda tanpa menoleh ke arah Cika.
"Belum, aku belum hafal satu juz pun. Aku mah santai aja."
"Terserah kamu Cika. Kamu tidak capek apa dapat hukum terus?"
"Capek? Lumayan, tetapi aku suka malah dihukum, mencari pengalaman di pesantren," sahut Cika antusias, "Boleh sih kita belajar serius dan penuh semangat, tapi jangan terlalu serius-serius banget, nakal dikit nggak apa-apa lah, yang penting jangan melampui batas, nanti kita bisa stress dan gila lagi. Ngeri bukan?" tanyanya meminta persetujuan.
"Itu menurut pola pikir kamu, aku nggak gitu orangnya," celutuk Novi.
"Iya udah, mindset kita memang beda. Wajarlah." Cika melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah sembilan, "Aku pergi sebentar, bye!" Cika langsung berlari kecil keluar dari asrama.
__ADS_1
Novi dan Dinda saling pandang, mereka berdua berpikir sahabatnya itu akan pergi ke mana.
...•••
...
Ustaz Hafid sudah duduk di atas motor maticnya, menunggu kedatangan istri kecilnya itu. Malam ini Ustaz Hafid akan menemani Cika pergi makan bakso.
Sebenarnya Ustaz Hafid tidak mau, karena malam ini ia akan pergi mengisi kajian di salah satu masjid yang tidak jauh dari pondok pesantrennya. Tapi, karena Cika yang sudah merengek seperti anak kecil kepada dirinya, Ustadz Hafid jadi tidak tega dan menuruti kemauan Cika.
"Aku lama yah, Tadz?" tanya Cika yang baru saja sampai.
"Tumben cantik." Tangan Ustaz Hafid makin menjadi-jadi menarik pipi chubby Cika.
Cika mengerucutkan bibirnya. "Jadi hari-hari sebelumnya aku nggak cantik gitu, Tadz?" tanyanya tidak terima dengan perkataan Ustaz Hafid barusan. Ia langsung berbalik badan, membelakangi Ustaz Hafid.
Ustaz Hafid tersenyum tipis. "Maksud ustaz, malam ini lebih cantik dari hari-hari sebelumnya," jelasnya.
Pipi Cika langsung bersemu merah mendengar pujian itu. Gadis ini menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya karena malu. Entah belajar dari mana suaminya itu bisa gombal kepada dirinya.
"Jangan lihat aku dulu, Tadz!" Cika memperingati. Ia ingin mengatur mimik wajahnya agar kembali seperti biasa.
__ADS_1
Bukan malah menuruti perintah itu, Ustaz Hafid malah memancing emosi Cika.
Cup!
Kecupan singkat mendarat di pipi Cika, membuat si empu begitu kaget bukan kepalang.
Cika menatap sangar ke arah Ustaz Hafid yang sudah tertawa cengengesan.
"Ustaz!!!" teriaknya tak terima. Ia kembali melanjutkan, "Ustaz udah janji waktu itu nggak boleh sentuh-sentuh aku dulu sampai lulus! Kenapa sekarang ...." ucapannya tergantung.
"Hmm, ustaz khilaf barusan," potong Ustaz Hafid cepat sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Aku nggak jadi pergi makan bakso! Ustaz pergi sendiri saja." Cika segera berlalu dari hadapan Ustaz Hafid. "Jangan ngikutin aku!" Cika mengangkat kepalan tangannya berniat mengancam agar Ustaz Hafid tidak mengekor di belakangnya.
"Ustaz minta maaf, refleks barusan, Cika," teriak Ustaz Hafid dari arah belakang.
"Tetap saja Ustaz salah!" jawab Cika tak mau mengalah. Ia benar-benar pergi dari hadapan Ustaz Hafid.
Ustaz Hafid merasa bodoh dengan dirinya sendiri atas apa yang dilakukan barusan. Pria ini mengusap wajahnya secara kasar.
Sementara itu, Cika mengatur detak jantungnya yang tak karuan. Ia pergi dari hadapan Ustaz Hafid bukan karena benar-benar marah, hanya saja ia pura-pura saja. Ia begitu malu jika ketahuan Ustaz Hafid bahwa dirinya begitu gemetaran saat Ustaz Hafid mengecup pipinya. Ia memegang pipinya yang terasa panas. "Ustaz Hafid, dasar!" gumamnya kesal, tetapi sedetik kemudian, ia menerbitkan senyuman.
__ADS_1