Menikah Dengan Ustaz

Menikah Dengan Ustaz
Bab 56 : Terkena Bisikan Setan


__ADS_3

"Jaga jarak dari bukan mahram," ucap Ustadz Hafid menasihati. Setelah mengatakan itu pria ini langsung pergi.


Cika mengembuskan napas panjang mendengar ucapan Ustaz Hafid. Ia merasa jari-jemarinya.


"Itu siapa, Cika?" tanya Audy yang duduk di sampingnya dengan begitu penasaran.


"Itu kakak sepupunya." Bukan Cika yang menjawab melainkan Ivan yang duduk di samping kiri Cika itu.


"Eh ...." Ucapan Cika tergantung.


"Tadi, kakak itu yang bilang. Tapi, benar kan, Cika?" tanya Ivan.


Cika hanya mengangguk mengiyakan. Helaan napas panjang ia hembuskan. Hampir saja ia bingung harus menjawab apa.


"Kak Ivan, kenapa datang ke sini?" tanya Cika ramah, ia menggeserkan tubuhnya. Menjaga jarak.


"Aku yang ajak Kak Ivan ke sini, Cika," jawab Audy cengir kuda.


Cika tersenyum masam. Benar dugaannya, Audy yang menjadi dalang semuanya. Yang membuat kakak kelasnya itu menginjakkan kaki di rumahnya.


"Aku nggak boleh datang ke sini?" Ivan bertanya penasaran.


"Bukan gitu, Kak. Boleh-boleh aja kok datang ke sini. Aku cuma kaget aja, Kak Ivan tiba-tiba ada di rumah hehehe ...," jawab Cika tersenyum kikuk, ia kembali berkata, "Aku bikini minuman dulu, ya. Kalian, 'kan, tamu." Cika beranjak bangkit.

__ADS_1


"Nggak usah repot-repot, Cika," balas Ivan.


"Nggak apa-apa, Kak. Kata ustazku, memuliakan tamu adalah sebuah amal shalih yang pahalanya besar. Seperti sebuah sabda Rasulullah; ‘Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya’. Jadi, Kak Ivan jangan banyak protes, ya," ucap Cika panjang lebar, sembari senyum manis terbit di bibirnya.


Ivan mengacungkan ibu jarinya ke atas. "Iya, Ustazah Cika," ucapnya diiringi tawa ringan. Ternyata gadis di hadapannya itu sudah banyak berubah.


"Mentang-mentang anak pondok. Apa-apa pakai hadist," cibir Audy.


Cika mengangkat kedua bahunya acuh, lalu berkata, "Jelas dong." Ia segera berlalu pergi menuju dapur.


Dan saat langkahnya tiba di dapur, ia melihat Ustaz Hafid juga di situ. Ia melangkah menuju rak, tanpa berkata apa-apa. Sejenak ia melirik ke arah Ustaz Hafid yang tengah serius mengaduk teh.


"Ustaz Hafid," panggil Cika akhirnya, ia tak tahan jika tak berbicara. "Ustaz Hafid, cemburu barusan?" tanyanya to the point.


"Huh, sudahlah," jawab Cika cukup kesal, tak suka melihat ekspresi wajah pria di sampingnya itu. Ia segera mengambil dua gelas untuk membuat minuman. Hampir saja ia lupa tujuan utamanya ke dapur.


"Apa sih lihat-lihat?" tanya Cika tak suka dipandang dengan begitu lama, ia mengerucutkan bibirnya.


Ustaz Hafid tidak menjawab. Ia mengikuti ke arah mana istri kecilnya itu berjalan. Membuat Cika geram dibuntuti. Hembusan napas panjang terdengar. Cika mencoba menghilangkan rasa kesal yang sudah mulai memenuhi dirinya.


"Kalau cemburu bilang, Tadz. Jangan bersikap seperti ini," ucap Cika, ia mengaduk teh yang dibuat.


"Ustaz nggak cemburu," jawab Ustaz Hafid akhirnya.

__ADS_1


Cika sudah hendak membalas ucapan itu, tetapi Ustaz Hafid sudah terlebih dahulu berkata lagi, "Karena ustaz percaya, istri kecil ustaz ini tidak akan seperti itu juga."


Cika tersenyum tipis. "Tentu saja, Tadz. Aku bukan seperti Ustaz Hafid, ya, yang belum bisa move on, yang masih ngigau nama Ning Aisyah itu," sindir Cika terang-terangan di depan suaminya itu.


Ustaz Hafid hanya tersenyum mendengar itu. Ia menarik hidung minimalis Cika. "Tapi, sekarang perasaan ustaz sudah sepenuhnya milik perempuan di samping ustaz ini," ucapnya.


"Huh, aku nggak mempan digombal saat ini," jawab Cika. Tangannya bergerak mengacak rambut Ustaz Hafid. Entah kenapa, dengan rambut sedikit acak-acakan itu aura suaminya terlihat berbeda.


Ia berjinjit, berniat ingin memberikan kecupan singkat di pipi suaminya itu. Ia tak tahu kenapa, tiba-tiba saja ingin melakukan itu. "Aku terkena bisikan setan sepertinya," gumamnya.


Khem!


Deheman itu menghentikan niat Cika.


"Eh, ada bibi di sini," ujarnya malu melihat ART-nya itu. Pipinya langsung bersemu merah, karena tertangkap basah.


ART itu hanya tertawa. Wanita paruh baya itu segera keluar dari dapur. Memberikan kedua sejoli itu berduaan.


"Mau apa tadi?" Ustaz Hafid berpura-pura polos.


"Em ...."


"Ini." Ustaz Hafid menundukkan kepalanya. Pria ini menunjuk pipi kanannya. "Biar lebih mudah. Nggak usah jinjit-jinjit," katanya memainkan kedua alisnya

__ADS_1


__ADS_2