Menikah Dengan Ustaz

Menikah Dengan Ustaz
Bab 17 : Pencuri Handal


__ADS_3

Cika berlari ke dalam asmara putri, mengusap air matanya yang terus saja jatuh di pipinya. Ia mendudukkan tubuhnya di sisi ranjang.


Novi dan Dinda yang melihat wajah sedih Cika ikut iba, mereka berdua duduk di samping sahabatnya itu.


"Ustaz Hafid hukum kamu lagi, Cika?" tanya Novi penasaran.


"Kalau ada apa-apa cerita sama kami, Cika," pinta Dinda.


Cika mencoba tersenyum tipis menyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja. "Aku nggak apa-apa kok, aku cuma pengin istirahat. Capek, Vi, Din," ucapnya sendu, ia langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk itu.


"Kami nggak percaya! Sepertinya kamu sedang menyembunyikan sesuatu pada kami!" Novi menarik selimut Cika, ia yakin ada yang tidak beres dengan Cika. Feeling Novi, sahabatnya itu sedang berbohong.


"Kita sahabat Cika, ceritain ke kami dong. Kami pintar jaga rahasia kok." Dinda ikut-ikutan menarik selimut Cika.


"Please, aku ingin tidur Vi, Din. Aku lagi nggak mood untuk bicara!" tegasnya, kemudian memilih tidur membelakangi kedua sahabatnya itu. Cukup dirinya dan Tuhan yang tahu apa yang dialami saat ini. Ia tidak ingin membuat Novi dan Dinda ikut sedih juga.


Novi dan Dinda memeluk tubuh Cika yang tertidur itu. "Kami memang tidak tahu masalah apa yang sedang kamu alami sekarang, tetapi kamu harus tetap semangat Cika. Hidup itu memang penuh dengan ujian," ujar Novi sok bijak.


"Yang pastinya semua yang kamu alami sekarang pasti ada hikmahnya kok. Selalu positif thinking aja dengan rencana Allah. Ingat, ya, Allah tidak akan memberikan ujian kepada makhluknya melebihi batas kemampuannya, Cika." Dinda tak kalah sok bijak, ia mengeluarkan kata-kata motivasi untuk Cika.


Cika menyingkirkan selimutnya, beringsut duduk kembali. Membalas pelukan kedua sahabatnya itu.


"Kalian memang terbaik, makasih, ya. Makin sayang."


"Kami juga kok."


Ketiga gadis itu berpelukan hangat, sungguh indah bukan mempunyai sahabat yang selalu ada di dalam keadaan suka maupun duka?


...***...


Ke esokkan paginya, Cika lebih banyak menghabiskan waktu di asrama. Bahkan ia hari ini memilih tidak masuk kelas, dengan alasan sakit padahal itu hanya akal-akalan saja karena tidak mau bertemu atau pun berpapasan dengan Ustaz Hafid untuk sementara waktu.

__ADS_1


"Kalian nggak takut apa dimarahi karena ikut-ikutan bolos sama aku?" tanya Cika menatap satu persatu ke arah Novi dan Dinda. Ia masih tidak habis pikir saja.


"Sekali-kali, nggak apa-apa kok," jawab Novi santai, melepas jilbabnya.


"Kalau aku ikut-ikutan juga, hehehe," sahut Dinda cengengesan.


"Baiklah, aku bosan di asrama terus. Kita lakukan apa, ya, mumpung sepi gini?" tanya Cika meminta pendapat.


"Ngerujak, bagaimana?" usul Novi.


"Aku mau-mau aja, tapi mangga nggak ada, Vi," jawab Cika.


"Tenang, di belakang musala pohon mangganya berbuah lebat."


Mendengar itu, Cika tersenyum antusias.


"Kita nyolong?" Dinda yang sedari tadi diam menyimak, ikut menimpali.


"Aku nggak mau ikut! Kalian aja ke sana," ucap Dinda menggelengkan kepalanya. "Jangan nambah dosa ...."


"Jangan ceramah sekarang, Din!" ucap Cika dan Novi bersamaan.


"Baiklah, ingat, ya, aku cuma ikut-ikutan!"


"Yuk, Vi! Saatnya beraksi!" Cika berucap semangat. Ia kembali melanjutkan, "Din, kamu bikin bumbu rujaknya."


Cika dan Novi berlalu pergi.


"Mundur, mundur ada Ustazah Laili lewat!" ucap Cika lebih ke sebuah instruksi ke Novi. Setelah merasa aman, ia memberikan kode untuk berjalan kembali. Mereka berdua membungkukkan tubuhnya, berjalan pelan melewati setiap kelas.


"Akh, Vi! Banyak orang di musala, bagaimana ini?" tanya Cika menghentikan langkahnya tepat di ujung kelas yang berdampingan dengan musala.

__ADS_1


"Terobos aja."


"Mau ketangkap di TKP? Kalau aku mah, ogah!" ujar Cika ketus, tidak habis pikir dengan pola pikir Novi.


"Iya udah, tunggu sebentar, karena waktu salat sunah dhuha sebentar lagi habis."


"Oke."


Lima menit, sepuluh menit dan tiga puluh menit berlalu, baru benar-benar aktivitas di musala itu berhenti dan sepi.


"Sekarang, Vi!" Setelah memastikan situasi aman terkendali Cika langsung berlari secepat kilat diikuti oleh Novi di belakangnya. Tak butuh waktu lama ia dan Novi sudah berdiri tepat di depan pohon mangga yang berbuah lebat sekali.


"Kita petik berapa?" tanya Cika, tangannya sudah mengelus buah mangga yang cukup mudah dijangkau itu. "Lima gimana?" tanyanya sekali lagi meminta persetujuan Novi.


"Kebanyakan itu, Cika."


"Enggak apa-apa, nanti kita bagikan juga ke teman-teman yang lainnya," jawab Cika, dan langsung memetik buah mangga itu dengan sangat cepat.


"Kamu sepertinya ahli sekali dalam hal ini, udah biasa nyolong mangga tetangga?"


Cika tertawa pelan, dan menjawab, "Yeah, sering dulu waktu pulang sekolah. Seruuu banget, Vi."


"Hahaha." Novi ikut tertawa. "Aku baru kali ini, jadi agak takut."


"Memang seperti itu kalau pemula," jawab Cika. Ia menyerahkan beberapa buah mangga ke tangan Novi. "Sekarang kita balik, sebelum ada orang," ujarnya.


"Vi, kamu duluan. Aku kebelet pipis, nih." Tanpa mendengar jawaban Novi, ia langsung berlari ke kamar mandi yang ada di musala.


Cika keluar dan matanya langsung melotot saat mendapati Ustaz Hafid sudah berdiri tegap di pintu kamar mandi. Ia syok. Dengan segera ia menyembunyikan mangga yang dipetik di balik punggungnya. Berpura-pura tidak melihat sosok di hadapannya itu, ia berjalan perlahan, tetapi pria berpeci di hadapannya itu sudah terlebih dahulu menahan lengannya.


"Pencuri handal," ucap Ustaz Hafid tepat di daun telinganya, terdengar begitu menusuk. Setelah itu pria berpeci itu pergi begitu saja tanpa berkata apa pun lagi.

__ADS_1


Cika mengigit bibir bawahnya. Ia dilanda ketakutan melihat sikap Ustaz Hafid tak seperti biasanya. Namun, beberapa detik kemudian ia tersenyum pahit. "Ustaz Hafid mungkin benar-benar setuju untuk menceraikanku, makanya nggak peduli lagi," ucapnya dengan dada terasa sesak. Ia segera berlari sebelum kedapatan dengan orang lainnya.


__ADS_2