
Cika hanya bisa menatap punggung Ustaz Hafid yang kian menjauh dari kaca mobil. Air mata yang sejak tadi ia tahan langsung luruh tanpa diminta. Ia cepat-cepat memalingkan wajahnya ke arah lain ketika Ustaz Andrea ikut masuk.
Ustaz Andre duduk di kemudi depan, pria ini khawatir saat mendengar isakkan tangis dari gadis yang duduk di kursi belakang itu. "Kamu tidak apa-apa?" tanyanya.
"Hum." Cika hanya berdehem singkat, berusaha mengelap air mata di pipinya.
"Suamimu lebih paham bagaimana berhubungan dengan seseorang yang bukan mahram, kamu tidak usah khawatir. Apa yang kamu pikirkan tentang mereka tidak mungkin terjadi, saya jamin itu," ucap Ustaz Andre mencoba menenangkan. Ia mengambil beberapa helai tissue dari dashboard mobil, lalu menyodorkan tissue tersebut ke Cika.
Cika menerima sodoran itu, ia segera menghapus jejak air mata di pipinya. "Ustaz Andre, berusaha membela Ustaz Hafid, ya?"
"Tidak juga."
Setelah itu tak ada perbincangan apa-apa lagi. Ustaz Andre menyalakan mesin mobil, lalu melaju mobil dengan kecepatan sedang meninggalkan bandara, membelah jalan raya yang cukup padat hari itu.
"Ustaz Andre stop!" teriak Cika dari belakang spontan.
Ustaz Andre mengerem mendadak. "Astagfirullah, kamu bikin ustaz kaget saja," kata Ustaz Andre diiringi istigfar. Ia menoleh ke arah belakang, istri dari sahabatnya itu sudah berhenti menangis.
__ADS_1
Cika tersenyum manis ke arah Ustaz Andre. Memperlihatkan sederet giginya yang rapi dan putih.
"Ustaz, aku pengin beli es krim dan cemilan sebentar dulu," ucapnya. "Boleh?" tanyanya lagi meminta persetujuan.
Ustaz Andre hanya mengangguk kecil.
Mendapat persetujuan itu Cika segera turun dari mobil. Ia berjalan cepat menuju tempat perbelanjaan yang cukup ramai di sekitar situ. Sekarang ia ingin makan banyak-banyak, hal tersebut dilakukan sebagai salah satu cara menghilangkan kesedihan dan meluapkan kekesalannya.
Ustaz Andre ikut turun juga, mengikuti Cika dari belakang, ia tidak mau istri sahabatnya kenapa-kenapa.
"Iya, aku lupa bawa uang." Cika tampak mengeluh saat tiba di dalam toko.
Ustaz Andre terkekeh melihat tingkah Cika, tangannya ingin mencubit pipi chubby gadis di hadapannya itu karena merasa gemas sendiri. Namun, dengan segera menahan tangannya. Buru-buru beristigfar, saat pikirannya mulai liar ke mana-mana. "Dia istri sahabatmu, Ndre," batinnya memperingatkan dirinya sendiri.
Cika mengerutkan keningnya saat belum mendapat menjawab jawaban dari pria di hadapannya itu.
"Ustaz Andre!" teriaknya, membuyarkan lamunan pria berpeci itu.
__ADS_1
"Ah, iya. Ustaz akan bayarin, kamu ambil saja, apa yang ingin kamu beli."
Cika ber 'iyes ria', bahagia ia bisa makan sepuasnya hari ini. Tanpa pikir panjang ia berlari kecil ke dalam toko tersebut, jari lentiknya mengambil dengan cepat cemilan dengan merek yang berbeda-beda.
Ustadz Andre yang melihatnya lagi-lagi tersenyum kecil, merasa lucu. "Fid, istrimu ini sungguh menggemaskan."
Ustaz Andre dan Cika kini sedang antri di depan kasir. Menunggu giliran untuk membayar belanjaan mereka.
Cika maju paling depan saat seseorang di depannya sudah bergegas pergi. Ia mengeluarkan semua cemilan di dalam troli untuk dihitung harga totalnya.
"Seratus ribu, Dik," ujar seseorang wanita yang memakai seragam khas toko itu. Dia memberikan satu kantong plastik yang berisi belanjaan.
Cika menerimanya antusias.
Ustaz Andre mengeluarkan dompetnya, dan mengambil uang seratus ribu lalu diberikan kepada kasir tersebut.
Setelah membayar belanjaan Cika dan Ustaz Andre berjalan beriringan keluar menuju parkiran mobil.
__ADS_1
"Ustaz Andre baik banget, terima kasih, ya, sudah bayarin, maksud aku traktirannya," katanya dengan seulas senyum tipis terukir di bibir mungilnya.
Ustaz Andre membalas dengan anggukan kepala.