
Cika, Novi, dan Dinda berjalan beriringan menuju masjid untuk melaksanakan salat asar berjamaah. Tawa ringan mengiringi langkah kaki ketiga gadis itu.
"Vi, Din. Kenapa, ya, aku ngerasa selalu ada yang mengawasi aku akhir-akhir ini," kata Cika merasa risih sendiri. Timbul rasa takut dalam benaknya.
"Siapa, Cika? Jangan-jangan ada yang niat jahat pada kamu," jawab Novi.
"Jangan suudzon dulu, Vi. Dan kamu Cika mungkin perasaan kamu aja, nggak ada orang yang jahat kok di sini. Yang mengawasi kamu itu malaikat itu baru benar," timpal Dinda.
"Iya mungkin, sih," sahut Cika menyetujui perkataan Dinda, tetapi tak sepenuhnya menyetujuinya karena bagaimana pun ia yang merasakan semua ini.
Perbincangan mereka bertiga berlanjut panjang sampai di masjid. Setelah selesai salat, para santri mengikuti kelas mengkaji kitab oleh ustaz dan ustazah yang ahli dalam bidang itu hingga pukul lima sore, namun Cika tak ikut serta dalam kelas mengkaji kitab itu karena ia tidak cukup suka dengan kelas mengkaji kitab, menurut dirinya kelas itu membosankan dan membuat ia mengantuk terus.
Karena menghindar kelas mengkaji kitab ia sekarang berada di belakang perpustakaan. Kebetulan ada kursi panjang ia memilih duduk di tempat itu untuk sekedar menghirup udara segar. Suasana di tempat itu sepi karena sebagian teman lainnya masih sibuk dengan aktivitas belajar, hanya dirinya yang terlihat santai sekarang.
"Huft, bosan banget. Kapan aku bisa pulang ke rumah, ya?" ucapnya, sembari memandang matahari yang sebentar lagi terbenam di ufuk barat.
Di tengah suasana kesendirian yang sedang ia nikmati tiba-tiba suara langkah seseorang terdengar membuat ia langsung menoleh ke belakang dan mendapati santri laki-laki yang mungkin seangkatan dengan dengan dirinya.
"Eh, kok kamu bisa di kawasan santri putri? Wah, bahaya, aku lapor ...." Ucapannya tergantung.
"Kamu sendiri kenapa di sini? Bukannya masih ada kelas mengkaji kitab juga?"
__ADS_1
Santri putra itu langsung duduk di sampingnya tanpa meminta persetujuan dari dirinya terlebih dahulu, membuat ia segera menggeserkan tubuhnya memberi jarak.
"Miko." Laki-laki di hadapannya itu mengulurkan tangannya.
"To the point deh, kamu kenapa ke sini? Dan seenaknya duduk di sini juga?" tanya Cika ketus, tanpa menoleh. Ia akui laki-laki di sampingnya itu memang lumayan tampan, tetapi tetap saja ia tidak suka karena terlalu lancang duduk tanpa permisi terlebih dahulu.
"Ini tempat umum."
"Bukan tempat umum, ini khusus santri putri!" tegas Cika. Ia menoleh ke arah laki-laki itu dan ia fokus dengan tanda pengenal di sisi kanan dadanya. Benar dugaannya memang seangkatan dengan dirinya.
"Untuk apa kamu memandang tanda pengenalku cukup lama?"
"Silakan saja, mungkin kamu juga akan ikut kena imbasnya karena terbukti juga berduaan dengan bukan mahram."
"Kau!!!" ucap Cika kesal, lalu dengan sengaja menginjak kaki laki-laki itu.
"Ck, bar-bar banget jadi cewek."
Tidak mau terlibat cukup lama dengan orang asing ia berjalan menjauh, tetapi baru tiga langkah ia dapat melihat Ustaz Andre dan beberapa ustaz lainnya sedang berjalan menuju belakang perpustakaan. Sontak saja ia kaget, bingung akan bersembunyi ke mana.
"Akh!" teriak Cika saat laki-laki asing itu menarik tangannya dan berlari menuju gudang. "Kenapa kau menarik tanganku ke sini?!" tanya Cika tak terima.
__ADS_1
"Oh, sepertinya kamu mau ketangkap sama para ustaz itu? Oke, biar aku panggil mereka."
"Jangan gila!" ucap Cika mencegah, sebenarnya ia tak takut akan menerima hukuman lagi, namun yang menjadi masalahnya jika ia ketahuan dan tertangkap bersama laki-laki asing di sampingnya itu, habislah hidupnya. Ia tak tahu hukuman apa yang didapatkan dari Ustaz Hafid nantinya.
"Iya, sudah. Diam, jangan berisik."
Cika menggigit bibir bawahnya, melihat laki-laki di sampingnya mengeluarkan korek api dan rokok, lalu laki-laki itu merokok. Ia batuk untuk beberapa saat saat asap rokok itu memenuhi indera penciumannya.
"Sorry."
Setelah mengucapkan itu laki-laki itu mematikan rokoknya.
"Merokok juga dilarang di sini," ucap Cika masih tidak percaya dengan keberanian laki-laki di sampingnya itu.
"Aku tahu dan aku tidak peduli."
"Terserahmu," jawab Cika ketus. Dan melihat-lihat sekeliling, ia ingin cepat-cepat pergi menjauh. Ada firasat tidak baik yang ia rasakan saat ini.
"Kita boleh berteman?"
"Aku tidak mau berteman dengan orang asing!" Setelah mengucapkan itu Cika berlari secepat kilat. Ia berharap tidak akan bertemu dengan laki-laki asing itu lagi.
__ADS_1