Menikah Dengan Ustaz

Menikah Dengan Ustaz
Bab 64 : Kabar Buruk


__ADS_3

Setelah melaksanakan salat magrib berjamaah di panti asuhan bersama anak-anak dan pengurus panti. Ustaz Hafid membereskan barang-barangnya, bersiap untuk pulang.


"Paman, nanti datang lagi, ya." Seorang anak berumur empat tahun yang ada dalam gendongannya berkata penuh semangat.


Ustaz Hafid mengangguk, lalu mencium kedua pipi anak kecil itu. "Iya, nanti paman ajak bibi juga ke sini," ucapnya. Ia memperlakukan anak kecil itu layaknya seperti anak sendiri.


"Wah," teriak anak kecil itu terdengar sangat gembira.


Ustaz Hafid tersenyum, ia segera menurunkan tubuh mungil anak kecil itu. Gembira rasanya melihat keceriaan di wajah anak kecil itu.


"Paman pulang dulu. Kamu jangan main-main jauh dari pantai, ya," ujarnya sembari mengusap lembut rambutnya.


"Iya, Paman," sahutnya meraih punggung tangan Ustaz Hafid lalu menciumnya.


"Hati-hati, Ustaz Hafid," ujar salah satu pengurus panti.


"Iya, Bu," jawab Ustaz Hafid menoleh sejenak dengan senyuman terbit di bibirnya.


Ustaz Hafid berjalan menuju tempat parkiran. Ia mendongak menatap langit sana, dan melihat cuaca malam itu cukup mendung. Meskipun cuaca tak mendukung malam ini, tak mengurangi niatnya untuk pulang. Ia sendiri sudah begitu rindu dengan Cika.


Ustaz Hafid segera masuk ke dalam mobilnya, lalu menyalakannya. Mobil sedan hitam itu berjalan dengan kecepatan sedang membelah jalan raya malam itu. Ustaz Hafid tidak mau menyia-nyiakan waktunya. Sambil mengemudi, ia memilih murojoah hafalannya.


Drett!

__ADS_1


Satu notifikasi pesan masuk dan itu dari Cika. Dengan segera Ustaz Hafid mengambil ponsel di atas dashboard mobil dengan satu tangannya.


[Ustaz, kenapa belum sampai juga? Aku tungguin di depan gerbang nih. Kaki aku udah mulai pegal karena nungguin.]


Ustaz Hafid tersenyum membaca pesan singkat itu, ada-ada saja tingkah istri kecilnya itu.


[Iya, Sayang. Sebentar lagi, ini sudah diperjalanan.] Ustaz Hafid mengirim balasan itu, tak lupa pesan itu diakhiri dengan emoticon love.


Tuuk!


Ponsel Ustaz Hafid terlepas dari genggamannya. Membuat ia menjadi tidak fokus menyetir, karena harus mencari ponsel yang terjatuh itu.


Tiiiin!


Bruuuuk!


Suara hantaman—begitu keras terdengar dari dua mobil itu.


...***...


Sementara di tempat lain, Cika tersenyum lebar melihat balasan pesan dari Ustaz Hafid, tetapi senyuman itu hilang sekejap ketika beberapa menit kemudian seseorang yang tak dikenal meneleponnya.


[Apa? Kecelakaan?] tanyanya tidak percaya pada informasi dari seseorang yang meneleponnya itu.

__ADS_1


Tubuhnya langsung bergetar hebat mendengar kabar buruk itu. Bulir-bulir air mata jatuh begitu saja tanpa diminta.


[Iya, Mbak. Sekarang ....]


Cika menggelengkan kepalanya cepat masih tidak percaya.


[Enggak, enggak mungkin! Kamu mungkin salah orang! Jelas-jelas baru saja suami aku membalas pesanku! Ayo bilang bahwa kamu membohongiku?!] Cika berucap keras, suaranya terdengar gemetaran. Air mata mengalir begitu deras di pipinya.


[Saya tidak membohongi, Mbak. Sekarang saya dan beberapa pihak kepolisian dalam perjalanan membawa suami, Mbak, menuju rumah sakit.]


Handphone di tangannya terjatuh di tanah. Tidak sanggup baginya untuk meneruskan telepon itu. Sungguh tak sanggup.


"Nggak mungkin," ucapnya lirih. Ia terduduk lemah di depan gerbang. Gerimis hujan mulai turun membasahi tanah. "Ustaz Hafid ...." Air matanya luruh bersama dengan tetesan air hujan.


.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak, ya, teman-teman. Terima kasih đź–¤

__ADS_1


__ADS_2