Menikah Dengan Ustaz

Menikah Dengan Ustaz
Bab 60 : Berdebat karena Maling


__ADS_3

Kruk! Kruk!


Perut Cika berbunyi. Ia membuka bola matanya perlahan. Melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul dua dini hari. Suara aneh-aneh terdengar di indera pendengarannya. Membuat ia takut turun sendiri pergi ke dapur untuk mengisi perutnya yang kelaparan itu.


Ia melirik ke arah Ustaz Hafid yang masih tertidur lelap. Kemudian berkata, "Ustaz, aku lapar." Ia menggerakkan lengan Ustaz Hafid pelan.


Tidak ada respons. Suaminya itu masih tertidur pulas.


"Ustaz," panggilnya kembali tetap keukeh membangunkan Ustaz Hafid.


Ustaz Hafid menggeliat tubuhnya. Menguap beberapa kali. "Ada apa?" tanyanya dengan suara serak.


"Aku lapar. Temani aku turun ke dapur."


"Hem."


Bukan malah bangun. Ustaz Hafid semakin tertidur pulas. Membuat Cika langsung mengembuskan napas panjang.


"Ayolah, Tadz! Ustaz Hafid mau aku mati kelaparan, yah?" tanya Cika berpura-pura sedih. Agar suaminya itu mau menemaninya.


Ustaz Hafid membuka kedua bola matanya, tersenyum tipis. "Akting kamu jelek," cibirnya, lalu memeluk tubuh Cika dengan erat.


Cika memanyunkan bibirnya. "Terserah, Ustaz, deh."


Cika melepaskan pelukan Ustaz Hafid. Ia segera bangkit dari tempat tidur. Menapaki kakinya ke lantai yang dingin.


"Aku bisa sendiri ke dapur kok, nggak usah ditemani juga," ucapnya. Ia tipe orang yang tak sabaran, meskipun takut. Ia memberanikan diri untuk keluar dari kamar.


Ustaz Hafid ikut bangkit. Ia pergi ke kamar mandi terlebih dahulu untuk membasuh wajahnya sebelum menyusul istri kecilnya itu.


Cika berjalan pelan menuruni anak tangga. Senter handphonenya menjadi temannya untuk turun. Seluruh ruangan di rumahnya itu gelap gulita. Bulu kuduknya tiba-tiba berdiri.


Prang!


Sesuatu terjatuh dari ruang tamu.


"Ada seseorang di sana?" Cika berucap keras. Ia mengigit bibir bawahnya ketakutan. Saat melihat ada sosok bayangan seseorang di ruang tamunya itu.


Karena penasaran. Segala ketakutan ia coba hadapi. Ia tetap melangkahkan kakinya untuk turun. Melihat siapa yang ada di ruang tamunya itu.


"Ayah."


"Ibu."


"Bibi."

__ADS_1


"Apa itu kalian?" Cika terus bertanya.


Cika menghentikan langkahnya. Saat seseorang itu berjalan mendekat. Ia tidak dapat mengenali wajahnya, karena seseorang itu menggunakan topeng, belum lagi pencahayaan di tempatnya berdiri tidak ada sama sekali.


"Si ... siapa kamu?" Cika memundurkan tubuhnya, "Ustaz ...." Ucapan Cika tergantung. Seseorang yang tidak ia ketahui sudah terlebih dahulu membungkam mulutnya.


"Aww!" Seseorang itu menjerit ketika Cika menggigit tangannya.


"Kamu maling?" Cika bertanya penasaran.


Ketakutan yang melandanya tadi. Hilang sekejap. "Aku pikir hantu, huh!" ucapnya lagi.


Dengan ragu seseorang itu mengangguk.


"Pergilah sekarang. Aku tidak akan teriak."


"Aku sudah mengambil beberapa uang dan barang di rumahmu. Apa kamu membebaskan aku begitu saja?"


"Aku maafkan. Ayahku masih banyak uang. Anggaplah itu sebagai sedekah kepada kamu. Pergilah cepat, sebelum ayah atau siapa pun di rumah ini terbangun," jawab Cika terdengar santai.


"Nak, kamu begitu baik." Seseorang itu membuka topeng yang menutupi wajahnya. Terlihat wajah yang sudah lumayan keriput, lusuh, dan menyedihkan.


Cika menjadi semakin iba dan juga kasihan. Ia mengambil uang yang ada di saku piamanya. "Untuk, Paman. Jangan maling lagi, ya, setelah ini karena itu dosa."


Pria paruh baya itu mengangguk. "Terima kasih sekali lagi, Nak."


"Baik, baik. Terima kasih, Nak."


"Iya. Jangan kembali lagi ya! Hati-hati, Paman." Cika melambaikan tangannya.


Pria paruh baya itu mengangguk dari kejauhan. Ia ikut melambaikan tangannya. Sungguh ia sangat beruntung malam ini.


Di satu sisi Ustaz Hafid berjalan turun. Matanya melebar melihat pintu rumah terbuka lebar.


"Cika!" Ia memanggil. Takut. Terjadi apa-apa dengan istri kecilnya itu. Ustaz Hafid berlari kecil menuruni anak tangga ketika tidak mendengar sahutan dari Cika.


"Cika." Ia kembali memanggil.


"Hem." Cika menyahut hanya dengan deheman. karena mulutnya dipenuhi dengan roti tawar.


Ustaz Hafid bernapas lega. Ia pergi menutup pintu terlebih dahulu, baru menyusul Cika yang ada di dapur.


"Rakus sekali." Ustaz Hafid tertawa kecil melihat Cika yang sangat lahap.


Cika meminum segelas cokelat panas. Bersikap bodoh amat melihat kehadiran Ustaz Hafid.

__ADS_1


"Kenapa turun? Ustaz Hafid, kan, nggak mau nemenin aku," cibirnya, terlihat kesal.


Ustaz Hafid hanya tersenyum menanggapinya. Ia mengacak-acak gemas rambut panjang Cika.


Cika tampak cemberut. Ia kembali memakan sepotong roti tawar yang masih ada di tangannya.


Ustaz Hafid menarik kursi lalu duduk di samping istri kecilnya itu. "Marah?"


"Menurut, Ustaz?" Bukan menjawab, Cika bertanya balik.


"Sudah, makanlah. Ustaz minta maaf kalau salah," jawab Ustaz Hafid. "Setelah ini kita salat tahajjud langsung," lanjutnya.


Lima menit berlalu. Cika sudah kenyang. Ia segera beranjak bangkit dan diikuti oleh Ustaz Hafid.


"Kok ada yang beda, ya?" Ustaz Hafid melihat isi rumah. Seperti ada sesuatu yang tidak ada. "Laptop ayah yang biasanya di atas meja di mana?" Ustaz Hafid berbicara sendiri.


Ia tampak bingung. Dengan segera ia menyalakan seluruh lampu di rumah itu. Ada beberapa barang yang ada di dalam rumah itu memang tidak ada.


"Diambil maling." Cika yang sudah di atas tangga itu menjawab singkat dan sangat santai.


"Maling?"


"Iya. Malingnya sudah aku suruh pergi."


Ustaz Hafid menyusul Cika di atas tangga. Ia menahan lengan istrinya itu.


"Kamu nggak apa-apa? Kenapa menyuruhnya pergi begitu saja?" Ia memeriksa badan Cika dari bawah sampai atas takut ada yang terluka.


"Malingnya baik juga. Aku suruh pulang, dia nurut. Yah, walaupun mengambil beberapa barang. Biarkan saja ...."


"Cika, itu perbuatan salah. Seharusnya kamu tadi teriak atau melakukan apa pun."


"Berbagi itu indah, bukankah Ustaz Hafid yang selalu bilang ke aku supaya sedekah kepada orang lain? Apabila kita berbuat baik kepada orang, sama sepertinya kita berbuat baik pada diri sendiri. Aku hanya melakukan itu," jawab Cika menjelaskan.


Satu sentilan mendarat di kening Cika. "Tapi, ini beda situasinya, Cika. Kamu menerapkannya di situasi yang salah. Kamu sama saja seperti maling itu, mendukung untuk tindak kejahatan."


Cika mengembuskan napas panjang. "Biarkan saja. Maling itu tidak akan mencuri kalau dia tidak kekurangan, Ustaz. Dia pun mengambil barang cuma laptop ayah saja kok aku lihat. Dia baik, ingat itu!"


"Baik dari mana?"


"Kok, Ustaz, sepertinya marah sama aku?"


Kedua pasangan suami-istri ini terus berdebat, mempertahankan argumen masing-masing.


"Jawab pertanyaan ustaz baik dari mana maling itu?" Ustaz Hafid mengulangi pertanyaannya.

__ADS_1


Cika mengembuskan napas panjang. "Maling itu tadi, megang pisau, Tadz. Tapi, nggak melukai aku sedikit pun. Dan juga alasan aku membebaskannya begitu saja karena itu, maling itu mempunyai senjata tajam. Kalau misalnya aku memilih berteriak, maling itu pasti akan berbuat yang tidak-tidak," jawab Cika. Ia kembali melanjutkan, "Ini situasi genting, Tadz. Makanya aku lebih memilih maling itu pergi membawa apa yang dia curi, daripada aku dilukai."


Ustaz Hafid tertegun sejenak mendengar pola pikir istri kecilnya itu, ia terlalu panik tak sempat berpikir sampai ke hal itu.


__ADS_2