Menikah Dengan Ustaz

Menikah Dengan Ustaz
Bab 54 : Merasa Bersalah


__ADS_3

Selepas salat magrib Cika memenuhi janjinya dengan Ustaz Hafid untuk muroja'ah hafalannya, ia duduk di hadapan pria berpeci itu dengan ekspresi datar.


"Mau muroja'ah juz berapa?" tanya Ustaz Hafid dengan nada suara seperti biasanya.


"Juz amma," jawab Cika, tanpa sepengetahuannya memandang ke arah Ustaz Hafid.


"Iya sudah, mulai saja."


Cika hanya mengangguk, memulai bacaannya dengan tenang, surah demi surah di juz amma terucap dengan begitu indah. Ia memilih memandang sajadah daripada wajah Ustaz Hafid agar ia lebih fokus. Tiga puluh menit berlalu, ia menyelesaikan muroja'ahnya dengan waktu yang terbilang cepat.


"Ada peningkatan dari muroja'ah terakhir yang ustaz dengar, masih ada beberapa huruf yang sepertinya belum kamu bisa bedakan pengucapannya, tapi selebihnya sudah bagus," ucap Ustaz Hafid. Ia memandang wajah istri kecilnya itu yang terus menunduk.


Tak lama suara azan isya terdengar dari masjid di sekitar situ, mereka berdua pun melaksanakan salat dengan khusyuk. Hingga selesai salat tak ada perbincangan yang cukup penting di antara Ustaz Hafid atau pun Cika. Keduanya sama-sama memilih diam, tak ada satu pun yang berniat memulai obrolan.


Cika turun ke bawah, lebih tepatnya menuju dapur berniat membantu ibunya mempersiapkan makan malam.

__ADS_1


"Tumben menu malam ini berbeda, biasanya menonton terus," ucap Pak Dedi yang melihat berbagai menu makanan di atas meja makan, ia menarik kursi lalu duduk.


Cika yang duduk di samping ayahnya itu tersenyum mendengar ucapan ayahnya, lalu berkata, "Jangan bilang gitu, Yah, nanti ibu nggak mau kasih Ayah makan."


"Tapi benar, lho, Sayang. Baru kali ini ibumu masak dengan menu yang berbeda," ucap Pak Dedi terdengar berbisik dengan Cika. "Biasanya kalau seperti ini, ibumu pasti ada maunya."


Cika hanya cekikikan mendengar ucapan tersebut. Ia berhenti tertawa saat Ustaz Hafid turun dan duduk di sampingnya.


"Fid, berapa lama kalian di sini?" tanya Pak Dedi, pertanyaan itu yang terus ia lupakan untuk ditanyakan.


"Seminggu, Yah."


"Nggak ada liburan-liburan, Yah. Mulai besok Cika akan ikut kursus memasak," jawab Bu Linda yang baru selesai dengan aktivitas memasaknya, ia menarik kursi duduk di hadapan Cika.


Ustaz Hafid dan Pak Dedi langsung menoleh ke arah Cika. Tak menyangka.

__ADS_1


"Sayang, kamu benaran mau ikut kursus memasak?" tanya Pak Dedi masih tak percaya.


"Iya," jawab Cika yakin.


Pak Dedi mengacak gemas rambut Cika. "Anak ayah, sudah semakin dewasa."


"Jelas dong, Yah," jawab Cika tersenyum. Ia kembali melanjutkan, "Aku mau jago masak."


"Memang harus seperti itu," jawab Pak Dedi, pria paruh baya ini terlihat bangga sekali mendengar Cika ikut kursus memasak.


...***...


Lampu kamar dimatikan oleh Ustaz Hafid. Pria ini berjalan menuju tempat tidur, ia mengembuskan napas panjang melihat Cika yang tidur dengan jarak yang lumayan menjauh. Malam ini terasa berbeda dari malam sebelumnya, tak ada canda tawa atau pun ulah dari Cika lagi yang biasanya akan membuat ia memijat kepalanya. Istri kecilnya itu terlihat begitu dingin dengan dirinya.


Ia segera merebahkan tubuhnya di atas kasur, ia menggeser tubuhnya lebih dekat dengan Cika. Tubuh istri kecilnya sudah sangat candu untuk dipeluk oleh dirinya. Dengan hati-hati dan pelan ia menarik tubuh istri kecilnya itu ke dalam dekapannya.

__ADS_1


Cika yang belum sepenuhnya tertidur itu cukup kaget, ketika satu tangan kekar Ustaz Hafid melingkar di perutnya. Ia memilih tak berkata apa-apa, karena sudah mengantuk berat juga ia membenamkan kepalanya ke dada Ustaz Hafid dan segera tertidur dengan pulasnya.


Ustaz Hafid mengecup puncak kening Cika dengan hati-hati agar tidak membangunkan istri kecilnya itu, tanpa sadar ia juga meneteskan air di kegelapan itu. Ia merasa bersalah karena sudah menyakiti hati Cika.


__ADS_2