Menikah Dengan Ustaz

Menikah Dengan Ustaz
Bab 52 : Kenyataan yang Pahit


__ADS_3

Setelah berbincang cukup lama dengan kedua mertuanya, Ustaz Hafid beringsut bangkit berniat untuk melihat Cika. Ia membuka pintu ruangan kerja Pak Dedi itu dengan pelan dan berjalan mendekati brankar. Dan mendapati istri kecilnya itu ternyata sudah siuman. Ia mengucapkan syukur, kemudian menarik kursi di dekat brankar tersenyum semringah melihat Cika.


"Alhamdulillah, nggak ada yang sakit lagi?" tanyanya, membelai lembut rambut Cika.


Cika hanya menggeleng kepalanya pelan. Kepalanya masih sedikit pusing. Matanya bergerak ke arah tangannya yang sudah diinfus. "Ayah terlalu berlebihan," batinnya.


Ustaz Hafid mengembuskan napas panjang melihat Cika tak mengeluarkan sepatah kata pun, ia merasakan aura dingin dari sosok istrinya itu. Jujur, ia tak terlalu suka dengan situasi saat ini.


"Mau makan sekarang? Atau sesuatu?" tanyanya berusaha mencairkan suasana, tetapi istri kecilnya enggan membuka suara hanya gelengan kepala saja terlihat.


Tangan Ustaz Hafid bergerak menggenggam tangan Cika. "Cika, kalau ustaz memang membuat kesalahan ustaz minta maaf," ucapnya.

__ADS_1


Cika mengembuskan napas berat. "Ustaz, nggak punya salah apa-apa," jawabnya datar.


"Kalau ustaz tidak punya salah kamu tidak akan seperti ini," balas Ustaz Hafid, ia tahu Cika sekarang menyembunyikan sesuatu dari dirinya. Bola mata istri kecilnya itu tidak bisa berbohong. "Kalau kamu nggak berbicara dengan ustaz, memilih diam terus-menerus ustaz nggak akan tahu dimana letak kesalahan ustaz. Cerita sekarang, Sayang. Ada apa?" tanya Ustaz Hafid, tak ada nada paksakan yang keluar dari bibir pria ini.


Cika diam, menimang-nimang apa ia harus menceritakan apa yang didengar semalam kepada Ustaz Hafid atau memilih untuk memendamnya saja. Lima menit berpikir, akhirnya ia memilih untuk membicarakan saja. Ia mengambil napas dalam-dalam kemudian mulai menceritakan.


"Semalam aku kebangun kebelet pipis, tapi lupa jam berapa. Terus aku dengar Ustaz Hafid nyebut nama Aisyah beberapa kali, aku pikir aku salah dengar, Tadz, tapi kayaknya nggak karena Ustaz tiga kali menyebut nama Ning Aisyah itu," jelas Cika. Mengingat bagaimana Ustaz Hafid itu mengigau semalam, dadanya kembali terasa sesak saat ini.


"Ustaz Hafid sepertinya sangat mencintai Ning Aisyah itu, ya. Sampai saat ini saja belum bisa move on," ucap Cika tetap dengan suara tenang. Air matanya sudah memberontak ingin keluar saja, tetapi ia menahan sekuat tenaga tidak mau terlihat cengeng.


Ustaz Hafid menatap lekat wajah Cika. "Ustaz masih terus berusaha untuk bisa melupakan dia sepenuhnya," ucap Ustaz Hafid akhirnya.

__ADS_1


Dada Cika semakin terasa sesak, jadi selama ini penjelasan Ustaz Hafid hanya bohongan semata bahwa sudah tidak memiliki perasaan kepada Ning Aisyah itu sama sekali. Sekarang ia mengetahui kenyataan yang pahit, pria di hadapannya ternyata belum bisa berdamai dengan masa lalunya.


"Aku mengerti, Tadz," ucapnya dengan sebuah senyum kebohongan. Tak ada lagi Cika yang akan langsung marah dan langsung memukul itu, Cika sekarang banyak memilih untuk diam.


"Maaf, Cika. Ustaz baru bisa jujur."


Cika hanya mengangguk. Tak lama ia berkata, "Tadz, please sekarang aku butuh waktu sendiri. Aku ingin sendiri di sini tanpa siapa pun," ucapnya tetap berusaha biasa saja dan tenang.


"Baiklah." Ustaz Hafid beranjak bangkit tanpa ada kata-kata yang diucapkan lagi.


Air mata Cika langsung keluar dari persembunyiannya setelah pintu ruangan itu tertutup rapat, padahal ia tak benar-benar menginginkan Ustaz Hafid untuk keluar ia masih sangat berharap pria itu mengucapkan kata-kata berikutnya. Kata-kata yang mungkin membuat hatinya sedikit membaik, dan kata-kata yang mungkin membuat ia masih sedikit berharga di hati Ustaz Hafid.

__ADS_1


__ADS_2