
Ibu Cika atau biasa dipanggil Bu Linda mondar-mandir di teras rumahnya. Menunggu kedatangan anak dan menantunya. Wanita paruh baya yang menggunakan jilbab segi empat lebar ini terlihat sangat khawatir, karena sudah cukup lama ia menunggu. Tidak lama wajah kekhawatirannya hilang, ketika mobil sedan hitam milik Ustaz Hafid tiba di kediamannya.
"Ibu," ucap Cika yang masih di dalam mobil. Ia langsung keluar, berlari kecil ke arah wanita paruh baya yang selama ini dirindukan.
"Sayang, ibu sangat khawatir dengan kalian," ucapnya membalas pelukan hangat putrinya.
"Maaf, Bu. Tadi aku mengajak Ustaz Hafid pergi ke pasar malam dulu," jawab Cika masih dalam pelukan ibunya.
"Ya Allah, Cika. Kasihan suamimu. Kamu jangan terlalu nakal," ucap Ibu Cika memperingati, karena tahu bagaimana sikap putri semata wayangnya itu.
Cika mengangguk kecil, kemudian melepaskan pelukannya membiarkan ruang untuk Ustaz Hafid mengobrol dengan ibunya.
Ustaz Hafid maju selangkah menyalami tangan mertuanya dengan takzim. Ia masih merasa canggung. Karena baru pertama kalinya ia ke rumah mertuanya itu. "Afwan, Bu. Baru bisa berkunjung," ucapnya dengan begitu sopan.
"Tidak apa-apa, ibu mengerti, Fid," jawab Bu Linda. "Ayo masuk, sudah mau tengah malam ini nanti kalian masuk angin di luar," lanjutnya lagi.
Ustaz Hafid dan Cika menuruti perintah itu.
"Oh iya, Bu. Ayah mana?" tanya Cika berjalan masuk, bola matanya bergerak ke sana-kemari menyusuri setiap inci rumahnya yang agak berubah dan berusaha mencari sosok laki-laki paruh baya yang juga dirindukan.
"Belum pulang. Masih banyak pasiennya di rumah sakit, Cika."
__ADS_1
"Oh, aku mengerti. Ayah memang dari dulu selalu menomorsatukan pasiennya daripada anaknya."
"Nggak boleh berbicara seperti itu, Cika. Pekerjaan ayahmu memiliki tanggung jawab yang besar."
Cika yang mendengar itu manggut-manggut mengerti. Ia berjalan mengelilingi rumahnya untuk beberapa saat, menghirup aroma khas dari rumahnya yang dirindukan selama ini.
"Cika, ajak suamimu ke atas untuk istirahat. Kalian pasti kelelahan karena sudah menempuh perjalanan yang cukup jauh," kata Bu Linda. "Tapi sebelumnya tidak mau makan dulu?"
"Aku dan Ustaz Hafid udah makan tadi, Bu," jawab Cika sembari berjalan menuju Ustaz Hafid yang masih mematung di depan pintu. "Kami pergi istirahat dulu," lanjutnya, dan berjalan bersama Ustaz Hafid menuju kamarnya.
"Ustaz Hafid, kenapa terlihat kaku sekali? Ibu tidak akan memakan Ustaz kok," ucapnya saat tiba di depan pintu kamar.
"Belum terbiasa, Sayang," jawab Ustaz Hafid, lalu masuk ke kamar mengikuti langkah kaki istri kecilnya itu. Dan hal pertama yang ia dapati saat tiba di kamar istri kecilnya itu adalah warna biru yang sungguh dominan di ruangan itu, bahkan hampir semua aksesoris di kamar istri kecilnya itu serba-serbi biru.
"Iya."
"Itu kamar mandinya," tunjuk Cika ke arah kanan paling pojok kamarnya, ia menyerahkan juga handuk di tangannya.
Ustaz Hafid mengangguk mengerti. "Mau mandi bareng?" godanya, sembari mencolek dagu istri kecilnya itu.
Cika yang mendengar itu langsung menjauh. "Ustaz Hafid, banyak-banyak istighfar deh. Otak, Ustaz, mulai tidak bekerja seperti biasanya," ucapnya. "Udah mulai geser!!"
__ADS_1
Ustaz Hafid hanya tertawa kecil mendengar itu, ia kembali berkata, "Beneran nggak mau?"
"Ustaz Hafid, udah!" Cika berlari keluar dari kamar. "Aku mau pergi ke dapur dulu," lanjutnya terdengar samar-samar oleh Ustaz Hafid.
......................
Cika kembali lagi dalam kamarnya. Membawa segelas teh hangat dan biskuit.
"Ini teh, Ustaz," ucap Cika dan meletakkannya di atas nakas.
Ustaz Hafid yang baru saja selesai mandi itu tersenyum semringah. "Tumben, baik. Ada maunya, pasti," ucapnya, ia mendudukkan tubuhnya di atas sofa. Menoleh ke arah istri kecilnya itu dengan begitu penasaran.
Cika menggeserkan tubuhnya. Duduk lebih dekat. Dengan secepat kilat ia mengeluarkan handphonenya. "Lihat ini, Tadz," pintanya.
Ustaz Hafid mengerutkan keningnya. Apa maksud istrinya itu memperlihatkan sederet foto bayi kepada dirinya?
"Ibu yang mengirimnya barusan lewat WA," jawab Cika seolah-olah mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Ustaz Hafid.
"Terus?" tanya Ustaz Hafid masih begitu penasaran.
Cika mengembuskan napas panjang begitu panjang. "Dia mau cucu."
__ADS_1
"Hah?"