Menikah Dengan Ustaz

Menikah Dengan Ustaz
Bab 48 : First Kiss


__ADS_3

Malam ini begitu terang, karena di atas langit sana bulan dan taburan bintang berhias meramaikan suasana malam hari ini. Begitu bahagianya langit malam ini, tetapi tidak dengan gadis yang sedang mondar-mandir di dalam kamar mandi, tak lain adalah Cika. Ia kehabisan akal untuk bisa kabur malam ini. Benar kata pepatah, penyesalan selalu saja datang diakhir. Ia benar-benar menyesali ucapannya yang menginginkan hamil dan mempunyai anak. Sungguh ia menyesalinya. Jika diberikan kesempatan untuk beberapa jam saja, ia tak ingin mengatakan semua itu.


"Huft! Kenapa aku begitu bodoh sih," gumamnya. Menyalahkan dirinya sendiri terus-menerus.


Ia meraih benda pipi persegi di dalam saku piama, jari-jemarinya bermain cepat di atas keyboard. Mencari nama kedua sahabatnya di kontak handphonenya berniat untuk menelepon kedua sahabatnya itu, tetapi sayangnya baik Novi atau pun Dinda tak menjawab. Ia mengembuskan napas panjang. Otaknya sungguh tak bisa diajak berpikir di saat seperti ini.


Tok! Tok! Tok!


Ketukan pintu kamar mandi terdengar.


"Cika, kamu nggak apa-apa. Kenapa lama sekali di kamar mandi?" tanya Ustaz Hafid terdengar khawatir.


"Em, nggak ada apa-apa, Tadz," jawab Cika gugup, ia segera keluar dengan ekspresi biasanya saja. Netranya langsung menuju ke arah pintu yang sudah tertutup rapat. "Kok cepat sekali Ustaz kunci pintunya? Ini masih pukul sembilan?" tanyanya, sedikit menaruh curiga.


Dan ia pun cukup kesal melihat Ustaz Hafid tak menjawab sama sekali, pria di hadapannya itu malah tersenyum tidak jelas.


Cika berjalan ke arah ranjang, ia langsung membaringkan tubuhnya, lalu mengambil selimut membungkus seluruh tubuhnya tanpa sisa. Ia harus berpura-pura tidur. Agar tidak terjadi apa-apa dengan dirinya malam ini.


Ustaz Hafid yang melihat tingkah istri kecilnya itu tersenyum kecil. Pria ini ikut naik ke atas kasur.

__ADS_1


Deg!


Cika gugup. Detak jantungnya berdegup dengan kencang ketika tangan kekar Ustaz Hafid menyingkirkan selimut yang membungkus tubuhnya dan ikut-ikutan masuk ke dalam selimut yang cukup besar itu. Beberapa detik kemudian ia tersentak kaget ketika tangan Ustaz Hafid sudah melingkar di perutnya. "Cika," bisik lembut Ustaz Hafid di daun telinganya.


Tidak ada respons. Cika masih mencoba menutup matanya. Tetap berpura-pura tidur.


"Ustaz tahu kamu hanya berpura-pura tidur. Dosa jika berbohong."


Cika mengembuskan napas panjang. Ia membuka matanya dan berbalik badan menghadap Ustaz Hafid.


"Apa?" tanyanya ketus. Berusaha menyingkirkan tangan Ustadz Hafid yang melingkar di perutnya itu, tetapi pria itu enggan untuk menyingkirkan.


"Bikin aja sendiri. Aku udah ngantuk berat," jawab Cika. "Hoammm." Cika langsung menutup kepalanya dengan selimut.


Ustaz Hafid menarik kembali selimut itu. "Hei, kamu yang sangat menginginkan dan bersikeras mempunyai anak? Kenapa tidak jadi?"


Cika memberanikan diri menatap Ustaz Hafid balik. "Sepertinya aku tidak menginginkan lagi. Aku masih kecil. Benar kata Ustaz Hafid aku nggak boleh hamil dulu."


Ustaz Hafid tersenyum geli. "Tapi, sekarang ustaz yang menginginkannya. Lalu bagaimana?"

__ADS_1


Spontan saja setelah mendengar ucapan itu Cika langsung beringsut bangkit. Berlari cepat ke arah pintu. "Ibu, ayah! Tolong buka pintunya," teriaknya kencang sembari menggedor-gedor pintu kamar itu, "Ustaz Hafid jangan dekat-dekat, diam di situ. Aku sudah bilang nggak bisa, belum siap!!!" lanjutnya.


Ustadz Hafid hanya bisa tersenyum. Tidak peduli dengan ucapan istri kecilnya itu. Ia tetap keukeh berjalan mendekat.


Cika menggedor pintu kamar lagi lebih keras. Melihat Ustaz Hafid yang semakin dekat. "Ibu, ayah!" teriak Cika kesekian kalinya.


Kedua tangan kekar Ustaz Hafid membalikkan tubuh Cika agar segera menghadapnya. Cika menundukkan kepalanya gugup, posisi seperti ini ia sangat tidak menyukainya. Karena apa? Jika ia bergerak sedikit saja maka tubuh ia dan Ustaz Hafid akan saling bergesekan. "Kenapa takut sekali?" tanya Ustaz Hafid yang melihat Cika masih bergeming dan tidak mau menatapnya.


Bahkan embusan napas pria di hadapannya itu dapat ia rasakan. "Aku nggak suka posisi seperti ini," cicitnya, tetap menunduk.


Satu detik setelah mengatakan itu, tubuh Cika bertambah tegang ketika jempol dan jari telunjuk Ustadz Hafid mengapit—dagunya dan mengangkat perlahan-lahan. "Tadz, jangan main-main!" Peringatannya cukup keras.


Kaki Cika melemas. Kenapa ia terasa melemah melihat manik hitam milik pria di hadapannya itu? Sangat teduh dan tenang. Membuat siapa saja yang memandangnya akan terhipnotis. Ia menelan saliva-nya susah payah. Untuk bernapas saja ia harus mengatur sedemikian rupa saat ini.


Netra mereka berdua terkunci, tatapan iris hitam milik Cika ikut terlarut dalam suasana itu. Keduanya diam beberapa menit. Saling memandang satu sama lain. Kupu-kupu senang bertebaran di perut mereka menimbulkan sensasi menggelitik.


Cika langsung menutup matanya, ketika jarak ia dan Ustaz Hafid hanya beberapa senti saja. Beberapa detik setelah itu, sesuatu benda kenyal mendarat di bibir mungilnya. Ia membuka matanya, pupilnya matanya langsung melebar menyadari ternyata Ustaz Hafid merebut first kissnya saat ini ....


Tak lama, hanya berlangsung beberapa detik saja. Baik dirinya maupun Ustaz Hafid langsung terdiam setelah kejadian tak disangka barusan. Benar-benar hening hampir satu menit di antara keduanya.

__ADS_1


"Untuk saat ini nyicil dulu. Nanti kalau sudah lulus, baru dibayar tuntas."


__ADS_2